16 Mei 2016 Pentakosta 2 & HAPSA P/KB

0
2172

TEMA BULANAN: “Diutus Untuk Membebaskan”
TEMA MINGGUAN: “Bapa Pelopor Perdamaian”
Bahan Alkitab : Kolose 3 : 18 – 25

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.

Shalom bagi kita sekalian.

Sebagai bagian dari Gereja Masehi Injili di Minahasa, pasti kita sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus kepala gereja, karena oleh perkenan-Nya, kita terus menikmati berbagai berkat Tuhan yang tidak pernah berkesudahan, yang  selalu baru setiap pagi. Berkat-berkat Tuhan itu ternikmati melalui persekutuan, kesaksian dan pelayanan kita. Oleh sebab itu tak salah dan tidak boleh putus-putusnya kalau kita mengatakan aku bangga GMIM, sebagai gereja yang diberkati dan menjadi berkat bagi tanah Minahasa, bagi Indonesia, bahkan bagi dunia.

Salah satu berkat Tuhan yang indah dan tak ternilai harganya adalah adanya Hari Persatuan atau HAPSA Pria/Kaum Bapa GMIM yang dirayakan setiap perayaan hari Pentakosta yang jatuh pada tanggal 16 Mei tahun 2016 ini. Dalam  penghayatan kuasa dan tuntunan Roh Kudus, Pria/Kaum Bapa Sinode GMIM yang terdiri dari berbagai latar belakang social, budaya, eko-nomi, suku dan politik, terus menghayati persatuan sebagai tu-buh Kristus, sehingga dengan semua perbedaan yang ada, tidak terjadi sekat-sekat yang memisahkan satu sama lain. Bahkan sejak lama telah didengung-dengungkan bahwa Pria/Kaum Bapa adalah pelopor upaya-upaya perdamaian, baik di tengah kelu-arga, jemaat, masyarakat dan bangsa Indonesia. Salah satu bukti nyata untuk kepeloporan ini, kita telah membentuk Panji Yosua yang dibanggakan bersama.

Dalam perayaan Hari Persatuan Pria/Kaum Bapa sinode GMIM ini, kita semua diajak untuk semakin memperdalam dan meng-hayati makna seorang Pria/Kaum Bapa yang menjadi pelopor perdamaian yang harus dimulai dari tengah keluarganya. Hal ini harus menjadi perhatian khusus kita bersama, karena diakui bahwa kepeloporan seorang Pria/Kaum Bapa harus dimulai dari dalam keluarganya sendiri. Tolok ukur keberhasilan kepeloporan seorang Pria/Kaum Bapa yang berhasil ada dalam keluarganya. Tanpa keberhasilan menjadi pelopor perdamaian dalam kelua-rganya, kepeloporannya di tengah jemaat dan masyarakat belumlah lengkap dan sempurna.

Pada bagian Alkitab yang kita baca ini, Paulus mengajak semua orang percaya di Kolose supaya menjadi pelopor artinya ber-gerak mendahului orang lain dalam hal menghadapi berbagai persoalan yang mereka hadapi yang diakibatkan adanya guru-guru palsu yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa dida-patkan dengan cara menyembah roh-roh dan melaksanakan dengan kepatuhan syarat-syarat sunat. Kepeloporan mengha-dapi berbagai persoalan di tengah kehidupan berjemaat dan masyarakat harus dilakukan dalam keluarga masing-masing orang percaya, karena keluargapun tak steril dari berbagai pengaruh negative, bahkan dalam Kolose 3 : 18 – 25, memberi kesan adanya hubungan yang renggang dari tiap-tiap anggota keluarga.

Paulus mengajak supaya setiap anggota keluarga harus mem-pelopori tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Sebagai Isteri ia harus tunduk kepada suaminya sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Tunduk artinya  merendahkan diri di dalam Kristus sebagai suatu prinsip rohani yang umum yang harus diterapkan pertama-tama dalam keluarga sebagai ciri khas keluarga Kristen. Isteri harus tunduk (yaitu dalam kasih) kepada tanggung jawab suaminya selaku pemimpin dalam keluarga. Hal ini harus dibalas dengan kasih oleh suaminya. Kasih di sini bukan sekadar rasa sayang, tetapi suatu perhatian yang baik terhadap seluruh kesejahteraan istrinya. Sedangkan anak-anak harus mentaati orang tuanya dalam segala hal karena itu adalah hal yang indah di dalam Tuhan. Dan bapa-bapa tidak menyakiti hati anak-anaknya supaya tidak tawar hatinya.

Dalam bagian ini, Paulus mengingatkan juga para hamba supaya mentaati tuan mereka, tidak hanya dihadapan mereka melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan, sebab dari Tuhanlah sebagai tuan mereka, mereka sebagai hamba-Nya akan menerima upahnya.  Dan dihadapan Tuhan orang yang berbuat kesalahan akan menanggung kesalannya karena Tuhan tidak memandang orang.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.

Sebagai Pria/Kaum Bapa GMIM, bagian Alkitab yang kita baca ini memberi motivasi bagi kita bagaimana seharusnya menjadi Pria/Kaum Bapa sejati yang sadar dalam tugas dan tanggung-jawabnya sebagai seorang pria dalam peran sebagai seorang suami yang mengasihi isterinya, sebagai ayah yang mendidik anak-anaknya dan sebagai seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Dalam perannya di tengah keluarga, di sinilah letaknya kepelo-poran seorang Pria/Kaum Bapa. Ia adalah seorang kepala keluarga. Jika tidak tampil memimpin keluarganya untuk melak-sanakan tugas tanggung jawabnya masing-masing, maka dapat dipastikan keluarganya tak dapat hidup damai. Sebab isteri yang tidak tunduk kepada suaminya, suami yang tidak mengasihi isterinya, anak-anak yang tidak menghormati orang tuanya, serta bapa-bapa yang menyakiti hati anak-anaknya, maka keluarga itu dapat dipastikan tidak akan  hidup damai tetapi akan hidup saling menyakiti, ada kekacauan bahkan  perpecahan.

Menjadi pelopor dalam hubungan dengan isteri, berarti seorang Pria/Kaum Bapa, harus tampil lebih dulu memulaikan dan membangun komunikasi yang baik sehingga isterinya tunduk kepadanya dalam kasih Kristus. Itu berarti seorang Pria/Kaum Bapa harus mengasihi istrinya. Jika ada perlakuan kasar apakah melalui kata-kata maupun dalam bentuk menyakiti secara fisik seperti suka memukul isterinya, maka janganlah berharap ada sikap tunduk dengan hormat dan kasih dari seorang isteri.

Menjadi pelopor dalam hubungan dengan anak, berarti seorang Pria/Kaum Bapa dapat memberi pewarisan nilai-nilai hidup, pendidikan dan kasih bagi anak-anaknya tanpa menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti bukan berarti membiarkan anak  melakukan sesuatu sesuka hatinya, tetapi mendidik anak dengan pengertian dan kasih  sehingga ia tumbuh tanpa tersakiti hatinya karena dipaksa, diperintah bahkan disakiti secara fisik. Anak-anak yang tumbuh di tengah keluarga yang saling mengasihi dan penuh pengertian akan tumbuh menjadi pribadi yang suka mengasihi dan suka mengerti orang lain. Sebaliknya jika mereka diperlakukan dengan kasar, bukan hanya menjadi pribadi yang suka melawan orang tua, tetapi perilaku kasar yang pernah diterima dari orang tuanya, akan dilakukannya kelak terhadap anak-anaknya jika ia sudah berkeluarga.

Jika kepeloporan terhadap isteri dan anak-anaknya dilakukan oleh seorang Pria/Kaum Bapa, berarti ia telah menjadi pelopor perdamaian bagi keluarganya. Semoga hal ini menjadi target utama kita, dalam keluarga kita masing-masing oleh tuntunan Roh Kudus supaya kitapun menjadi pelopor perdamaian di tengah jemaat, masyarakat dan bangsa kita. Selamat merayakan Hari Persatuan Pria/Kaum Bapa GMIM, Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here