25 Maret 2016 Jumat Agung

0
3604

TEMA : “Kristus Iman Besar Agung
Bacaan Alkitab : Ibrani 9:11-28

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Hari ini, bersama-sama dengan semua orang percaya se-dunia, kita kembali memperingati kematian Kristus, suatu peristiwa agung yang sangat bermakna dalam kehidupan kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus. Biasanya kita selalu berusaha untuk tidak melewatkan perayaan Jumat Agung, seperti yang kita sedang alami dalam persekutuan saat ini.

“Apakah kita berduka atau bersuka di hari Jumat Agung?”.“Apakah pantas memakai baju berwarna ceria di hari Jumat Agung?” Demikian pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kita pernah dengar di seputar perayaan Jumat Agung. Pertanyaan-pertanyaan ini tentu sah-sah saja karena pasti dibalik pertanyaan-pertanyaan tersebut terkandung keinginan untuk merayakan hari  Jumat Agung dengan benar. Berduka di hari ini adalah wajar apabila kita mengingat kembali penganiaayaan dan penderitaan luar biasa yang dialami Juruselamat kita. Bukankah Ia dikhianati dan di-sangkal oleh murid-murid-Nya sendiri? Ia diejek, diludahi, dicambuk, diolok-olok bahkan dihukum mati di salib yang saat itu dianggap sebagai bentuk kematian yang paling hina. Kita terharu karena semua yang dialaminya mestinya kita yang harus memikulnya. Namun, bersukacita merayakan Jumat Agung adalah juga wajar karena kematian Yesus adalah kesaksian yang luar biasa kepada dunia bahwa kita, manusia, yang kadang-kadang tidak menghargai cinta kasih-Nya, telah begitu dalam dicintai dan dipedulikan-Nya. Sebab itu, penting untuk digarisbawahi bahwa perayaan Jumat Agung mem-punyai makna yang lebih dalam dari pada sekedar menjawab apakah kita bersuka atau berduka dan berbicara tentang warna warni pakaian. Peristiwa ini berbicara tentang peker-jaan Allah yang agung melalui Yesus Kristus!

Pembacaan kita dari Ibrani 9:11-28 memberikan pene-kanan lebih lanjut tentang pemahaman ini. Secara keselu-ruhan, surat Ibrani memberi penekanan tentang Kristus yang melakukan hal-hal yang besar dalam kehidupan orang per-caya. Penulis surat Ibrani mempunyai cara yang unik mem-perkenalkan Kristus dan iman percayanya yaitu dengan menggunakan unsur-unsur peribadatan Perjanjian Lama dan memberi pengertian yang baru. Sebab itu, ia berbicara tentang Kristus yang adalah imam Besar Agung yang melakukan hal-hal yang baik yang akan datang. Dalam Perjanjian Lama, imam besar berfungsi sebagai perantara umat dengan Allah. Ialah yang membawa persembahan umat. Pastilah penulis Ibrani tahu bahwa para pembaca surat itu amat mengetahui kebiasaan-kebiasaan beribadah Perjanjian Lama sebab ia berbicara banyak tentang ruang maha kudus, tabernakel, kemah, darah anak domba dan sebagainya. Penulis kitab Ibrani menggarisbawahi dalam suratnya bahwa semua yang dilakukan oleh Imam Besar yang dahulu itu baik tapi Kristus mengerjakannya dengan lebih baik lagi. Dalam pembacaan kita hari ini, beberapa kali disebut kata lebih (Yunani, mallon) diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “lebih” seperti pada ay. 11: lebih baik dan lebih besar; juga dalam ay. 14 dan 23.

Menurut pembacaan kita, ada beberapa hal yang menjelaskan bahwa Yesus mengerjakannya lebih baik: pertama, sebagai Imam Besar, Kristus adalah pengantara kepada perjanjian baru. Kalau dahulu, imam besar bergantian menjadi pengantara dalam upacara korban maka Kristus melakukan tugas itu sendiri dan selamanya. Kedua, sebagai Imam Besar Agung, Yesus tidak mengambil korban binatang seperti yang dilakukan oleh imam besar sebelumnya tetapi ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban yakni darah-Nya sendiri yang terefleksi dalam Sakramen Perjamuan Kudus. Kalau dahulu banyak korban yang dipersembahkan untuk korban penyucian dosa, maka kini Yesus adalah satu-satunya korban untuk penyucian dosa (13-14). Ketiga, Yesus adalah satu-satunya jalan untuk penghapusan dosa (15-22). Kalau korban-korban sebelum Kristus adalah simbol peng-hapusan dosa maka Yesus sebagai Imam Besar Agung adalah korban penghapus dosa satu-satunya bagi seluruh umat manusia, dahulu dan sekarang. Keempat, sebagai Imam Besar Agung, Yesus dalam kematian-Nya, telah menjadi jembatan yang menghubungkan Allah dan seluruh ciptaan (23-28). Kelima, sebagai Imam Besar Agung, Ia telah memasuki tempat kudus yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Iapun masuk ke tempat kudus itu bukan untuk kepentingan diri-Nya tetapi untuk kepentingan seluruh umat manusia dan dunia ini. Ia membuka jalan itu dan membela kita. Intinya, sebagai Imam Besar Agung, Yesus telah mengerjakan semuanya sekali untuk selama-lamanya. Kematian Yesus di kayu salib adalah pengokohan-Nya sebagai Imam Besar Agung. Tentu saja, hal ini memberi sukacita besar kepada kita karena Yesus yang kematian-Nya kita peringati hari ini adalah Imam Besar Agung kita, perantara kepada Bapa.

 Sekarang, saudara-saudaraku, apakah yang akan kita katakan atas semua hal yang luar biasa itu? Apakah kita harus berduka atau bersuka? Ya, kita berduka dan bersuka bahkan lebih lagi. Kita harus lebih percaya kepada Kristus dan merespons karya Allah yang luar biasa dengan hal-hal yang  juga luar biasa. Kalau Kristus telah melakukannya dengan luar biasa, tentu kita  tidak menjadi  biasa-biasa saja. Respons kita ialah melakukan yang terbaik agar kematian-Nya tidak sia-sia.

Kita hidup dalam dunia yang kadang-kadang tidak menghargai karya Allah  yang luar biasa. Dunia di mana kita diam  penuh dengan persaingan yang tidak sehat sehingga banyak paku dihunjam kembali pada tubuh-Nya ketika kita tidak memperhatikan sesama dan bumi yang menderita. Kita hidup dalam dunia yang membutuhkan penyucian dari dosa-dosa kita. Kita hidup dalam dunia yang membutuhkan Imam Besar Agung untuk membela dan berdoa untuk kita. Sebab itu, perayaan Jumat Agung adalah perayaan suka dan duka yang seharusnya memberi dampak luar biasa bagi manusia. Sesudah peringatan hari ini, seyogyanya kita menjadi orang-orang yang hidup lebih baik, lebih sabar dan lebih peduli terhadap sesama  dari sebelumnya. Sebab Kristus mati bukan hanya supaya manusia rajin bersekutu tetapi supaya perse-kutuan itu bermakna dan lebih memperhatikan satu dengan yang lain; bukan hanya mau mengambil bagian tetapi meng-ambil bagian secara kreatif. Bukan hanya berjalan bersama, tetapi dalam kebersamaan juga membangun “jembatan-jem-batan” baru dengan sesama dan bukan membangun tembok. Karena tembok memisahkan tetapi jembatan menghubung-kan. Bila tidak demikian, pengorbanan Imam Besar Agung akan menjadi sia-sia dan mubazir.

Selamat merayakan Jumat Agung, kiranya pengorbanan Kristus, Imam Besar Agung itu membuat kita lebih mengasihi Allah, sesama kita dan bumi. Amin!

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here