GMIM.or.id – GMIM terus mengembangkan Kemitraan Oikumenis dengan Gereja lain. Hadir bukan hanya untuk diri sendiri, sebaliknya GMIM menjadi saluran berkat bagi gereja lain. Hal tersebut diungkap Ketua BPMS GMIM Pdt. DR. H.W.B. Sumakul saat menerima Ketua BPMS Gereja Masehi Injili di Talaud (GERMITA) Pdt. Firdaus Majusip,M.Th dan Ketua Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja Pdt. Musa Salusu di Kantor Sinode pada Rabu (27/5).
Pada pertemuan yang digelar di ruang rapat BPMS sejak pukul 09.00 Wita Pdt. DR. H.W.B. Sumakul didampingi jajaran BPMS GMIM mengatakan sebagai wujud Kemitraan Oikumenis, banyak tenaga misi/Tenaga Utusan Gereja (TUG) GMIM yang sementara bertugas di pelosok Indonesia maupun diluar negeri.
Senada dengan Sumakul, Sekretaris BPMS GMIM Pdt. Hendry C.M. Runtuwene, S.Th, M.Si dan Wakil Ketua Bidang Hubungan Kerjasama Pdt. DR. Hein Arina mengatakan
saat ini sedang dilakukan pembekalan kepada 34 orang tenaga misi/Tenaga Utusan Gereja (TUG) GMIM yang rencananya akan diutus pada bulan Juni 2015.
Salah satu alasan dipilihnya GMIM sebagai Mitra kerja dan tempat studi pelayanan, Ketua BPS Gereja Toraja Pdt. Musa Salusu mengatakan Gereja Toraja boleh ada, cikal bakalnya melalui guru-guru Minahasa. “Melalui guru-guru dari Minahasa yang datang mengajar di Tanah Toraja sekitar tahun 1900-an dan juga memberitakan Injil, dari situlah masyarakat Toraja mengenal dan percaya Yesus.” ujar Salusu.
“Saat ini Gereja Toraja boleh tumbuh menjadi “Pohon Yang Besar” dan tersebar di Indonesia itu berkat rintisan dari guru-guru yang diutus ke Tanah Toraja,” tegas Salusu.
Terkait studi pelayanan ke GMIM, Salusu mengungkap dia bersama 55 orang pendeta Toraja ingin melihat bagaimana pelayanan di GMIM. Bagaimana suasana kehidupan rohani rekan-rekan seiman di tanah Minahasa. “Kami datang ke sini untuk belajar bagaimana mengorganisir jemaat, pelayanan Sekolah Minggu, Pemuda, Remaja, Bapak dan Ibu” ungkap Salusu.
Lain halnya dengan Pdt. Firdaus Majusip, M.Th. Ketua BPMS GERMITA. Majusip mengatakan tujuan kunjungan mereka adalah menjalin Kerjasama Oikumenis dengan GMIM, sekaligus menyatakan ketertarikan GERMITA dengan penataan Aset Gereja yang diterapkan di GMIM, juga Gerakan 1 Triliun. “GMIM merupakan gereja yang sudah dewasa penuh,” tutur Majusip. “Kami ingin belajar bagaimana pengelolaan aset Gereja dan pengelolaan keuangan yang selama ini diterapkan di GMIM,” tambah Majusip.
Selain itu, Majusip mengatakan dirinya dan 6 orang rekannya yang datang ke GMIM mendapat banyak pengalaman bagaimana memikirkan, mencari ide-ide dalam penatalayanan Gereja, khususnya pengelolaan aset milik gereja dan perbendaharaan. “Kami juga tertarik dengan pola pembinaan warga gereja, dan menurut kami inilah salah satu dari sekian banyak cara untuk membimbing jemaat menjadi dewasa penuh,” ungkap Majusip ketika diwawancarai usai pertemuan dengan BPMS.
Di hadapan rombongan Gereja Toraja dan GERMITA, Ketua BPMS GMIM Pdt. DR. H.W.B. Sumakul mengatakan misi gereja itu objeknya sama tidak berbeda. “Sumber misi itu dari Tuhan yang sama, dan objeknya sama, dan kita bergandengan tangan.” Ungkap Sumakul
Selain itu, Sumakul juga berharap GMIM akan berkunjung ke tanah Toraja, untuk melihat langsung pelayanan di sana, dan bergandengan tangan dalam memikul beban pelayanan yang diberikan Tuhan Yesus kepada Gereja.
Dalam rangkaian acara tersebut Ketua BPS Gereja Toraja Pdt. Musa Salusu menyerahkan cinderamata kepada Ketua BPMS GMIM Pdt. DR. H.W.B. Sumakul berupa miniatur Tongkonan, Rumah Adat Toraja.
Selanjutnya, rombongan dari Gereja Toraja sebanyak 55 orang dan 6 orang dari GERMITA dijamu dalam santap kasih bersama oleh BPMS GMIM.
(Penulis dan Foto : Frangki Noldy Lontaan. Editor: Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th)



