Dari Bintang Yerusalem Menjadi Damai

0
2074

GMIM.or.id – Sekitar tahun 1900, Negeri Belang masih merupakan satu kesatuan yang wilayahnya meliputi Desa Borgo hingga Desa Tababo, dengan penduduk mayoritas muslim yang berasal dari pulau Seram (Maluku), Binongko (Buton), dan Bolaang Mongondow.  “Negeri Belang sangat baik untuk didiami, sehingga banyak imigran yang datang menetap untuk bercocok tanam. Diantara mereka ada juga yang kembali ke kampung halaman mereka,” ungkap Ketua Badan Pekerja Majelis Wilayah Belang Pdt. Djemmy Willy Parengkuan, M.Teol mengutip dari Buku Cikal Bakal Injil Masuk Di Negeri Belang dan Berdirinya Jemaat GMIM, ketika bercakap-cakap dengan www.gmim.or.id akhir pekan lalu (13/02/2016).

Dalam buku ini juga, menurut Parengkuan, tercatat  Desa Belang Dua dulunya adalah dusun jauh dari Negeri Ratahan, dimana penduduknya adalah mereka yang datang untuk berkebun. Seiring dengan itu terbentuklah persekutuan jemaat dan kegiatan pelayanan menjadi bagian dari Jemaat Belang, yang sekarang sudah berdiri sendiri. Begitupun dengan Desa Mangkit dan jemaatnya. “Itu sebabnya Jemaat Belang hingga tahun 1900 dikenal dengan nama jemaat musafir,” tutur Parengkuan, seraya menjelaskan warga Kristen mula-mula yang datang dan menetap di Negeri Belang berasal dari Sangihe dan Talaud. “Mereka (warga Kristen Sangihe dan Talaud) datang sebagai buruh kelapa yang dipekerjakan di perusahaan Belanda. Di Desa Mangkit waktu itu ada ONDERNEMEN ASIATIK, dan di Negeri Belang ada EIGENDOM WAWESEN. Mereka bekerja pada perusahaan bernama LIDEBUR dan anak perusahaannya yang bernama NV. LIE BOEN YAT.  Sesuai yang tercatat di Buku Berdirinya Jemaat GMIM Belang,” jelasnya.

Pada tahun 1918, secara rutin persekutuan jemaat atau peribadatan berjalan, sekalipun tempat tinggal dari 7 (tujuh) Kepala Keluarga berjauhan, bahkan ada yang tinggal di perkebunan sekitar Negeri Belang dan Mangkit.  Waktu itu, tempat ibadah dilaksanakan di rumah milik warga jemaat bernama Peleng Waworuntu di Desa Buku Induk dan yang menjadi pemimpin waktu itu (1918-1922) adalah Guru Jumat (Jemaat) Bapak Kolinug asal Ratahan, yang kemudian diteruskan oleh Bapak Mogea, Kountur, dan Benyamin Masuara selang tahun 1922 s/d 1931. “Tahun 1928 tempat ibadah dipindahkan pada sebuah gudang kopra milik NV. LIE BOEN YAT (sekarang belakang Kantor Kecamatan Belang), dimana saat ini sudah menjadi rumah keluarga Rori-Tumbelaka,” kata Parengkuan. Ditambahkannya, inilah pembangunan gedung gereja pertama, sesudah ada kesepakatan bersama dan pada tanggal (25/09/1930) gedung gereja ini diresmikan dan diberi nama Bintang Yerusalem. “Halaman gereja adalah tanah hibah dari Tjan Tjin Huat. Dia (Tjan Tjin Huat) adalah pimpinan NV. LIE BOEN YAT. Pelopor pembangunan adalah Carolus Mokodaser dan Wilhem Lakodi yang sekaligus pemimpin dan penyandang dana, serta Benyamin Masuara sebagai Guru NZG merangkap Guru Jemaat ” ungkap  suami dari Pdt. Deflien H.L. Rondonuwu,S.Th ini.

Sebagaimana jemaat GMIM lainnya saat itu, situasi sulit dialami juga Jemaat ini. Baik dalam segi ekonomi maupun masa penjajahan Belanda, Jepang dan pergolakan permesta. Sekalipun demikian, jemaat terus berkembang. “Dalam masa-masa ini, pergantian pimpinan gereja (Guru Jemaat) tidak didasarkan pada ketentuan organisasi,  tetapi didasarkan pada kemauan dan kesempatan bagi setiap anggota jemaat yang dianggap mampu, sanggup dan bersedia memberi diri dalam pelayanan,” terang Pdt. Djemmy Parengkuan, M.Th.  Selain itu,  tekanan berat saat penjajahan Jepang turut mewarnai pergantian Guru Jemaat, seperti yang dialami Bapak Malumboth.  Tahun 1945, Malumboth difitnah seseorang yang tidak setuju dengan adanya Gereja pada waktu itu. Malumboth melarikan diri dari tahanan Jepang dan “memilih” bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari pohon kelapa yang tinggi.

Selanjutnya, tahun 1967-1970 pada masa Robert Roeroe menjadi Guru Jemaat, gedung Gereja “Bintang Yerusalem” dibongkar dan diganti dengan ukuran lebih besar, berdasarkan pertimbangan semakin bertambahnya jumlah anggota jemaat. Dengan dibantu 90% warga non Kristen, pembangunan gedung Gereja ini selesai dalam waktu relatif singkat, yaitu 3 bulan. Sekalipun belum rampung di beberapa bagian, tapi sudah dapat dipergunakan sebagai sarana peribadatan saat itu.  “Tanggal (15/12/1968) peresmian sekaligus pengguntingan pita Gereja yang diberi nama “DAMAI”  dilakukan oleh Ketua Badan Pekerja Sinode (BPS) GMIM Pdt. Rein Markus Luntungan,S.Th” ungkap ayah dari Wangun Rondor Christian, Sherena Garica Christi dan Parengkuan Rondonuwu ini, seraya menyebut Victor Kolinug, Elias Mogi, Yohanes “kian” Rori, dan Constantein Mokodaser sebagai tokoh-tokoh yang tidak boleh dilupakan dalam perjalanan sejarah kepelayanan di Jemaat Damai Belang.

Saat ini, GMIM Damai Belang anggota jemaatnya merupakan bagian dari masyarakat dari 12 Desa, yaitu: Borgo, Borgo I, Belang Ponosakan, Belang, Buku Tenggara, Buku Selatan, Buku Induk, Buku Tengah, Buku Utara, Ponosakan Indah, Tababo dan Tababo Selatan.

Dalam perjalanan sebagai bagian dari kepelayanan GMIM, Jemaat Damai Belang  kini menjadi kedudukan (pusat) Wilayah Belang, yang sebelum tahun 1981 “hanya”merupakan wilayah pelayanan Klasis Ratahan.

(Penulis dan foto: Frangki Noldy Lontaan. Editor:Pdt. Janny Ch. Rende, M.Th)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here