Khotbah 30 September 2016 HUT ke-82 GMIM Bersinode

0
2543

TEMA:“Kehadiran GMIM yang Mengglobal untuk Mengutuhkan dan Mensejahterakan”
Bahan Alkitab : Markus 4:26-34

Pemberitaan Injil Markus tentang Kerajaan Allah nampak melalui pemberitaan Yohanes Pembaptis (Markus 1:15) “Wak-tunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Yohanes mengajak supaya setiap orang memadankan hidupnya dengan “bertobat dan percaya kepada Injil.” Di sini, Kerajaan Allah yang dimaksudkan Yesus bukanlah menunjuk suatu wilayah atau teritori tertentu sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat atau orang Yahudi pada waktu itu. Bagi orang Yahudi pada waktu itu, ketika Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah, bukanlah sesuatu yang sulit dimengerti pada zamannya. Karena dalam pengharapan mereka menantikan suatu kerajaan dan pemerintahan seperti yang pernah dialami pada masa kejayaaan pemerintahan masa lampau yaitu kerajaan yang terbangun dengan teritori dan kekuasaan politis. Tentu hal ini berbeda dengan yang dimaksud oleh Yesus, yakni Kerajaan Allah ada dalam wujud dan kehadiran diri Yesus.  Di dalam hidup dan karya-Nya, kerajaan itu sudah datang. Dalam diri Yesus, “Allah meraja, “artinya Yesus adalah wujud nyata dari Kerajaan Allah yang sudah dekat itu. Yesus mengajak agar setiap orang dapat menemukan apa itu Kerajaan Allah dalam kehidupan mereka. Respons setiap orang dalam menjawab kehadiran Yesus yakni dengan sikap bertobat yang mendatangkan sukacita. Sikap bertobat adalah panggilan kepada setiap orang tanpa terkecuali dan panggilan untuk percaya kepada Injil pun berlaku sama kepada semua orang. Karena hanya dengan percaya kepada Injil maka manusia menemukan Kerajaan Allah.

 Bacaan kita hari ini mengetengahkan perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Yesus menyampaikan perum-pamaan sebagai bentuk pengajaran kepada orang banyak, bah-kan dalam Markus 14:34 dikatakan bahwa kepada orang banyak Yesus hanya memberitakan dengan perumpamaan saja. Per-umpaan ini diangkat dari kehidupan sehari-hari bangsa Yahudi, yang dimengerti oleh yang mendengarkannya. Dalam perum-pamaan yang pertama, Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah ibarat orang yang menabur benih di tanah. Yang ditonjolkan dalam perumpamaan ini adalah benih yang ditanam. Kerajaan Allah diibaratkan dengan benih yang ditabur, bertunas, bertum-buh sampai menghasilkan buah untuk dituai pada masa panen. Pertumbuhan benih hanya datang dari Allah, itulah yang hendak disampaikan melalui perumpamaan ini. Perumpamaan ini me-mang terkait erat dengan bagian sebelumnya (Markus 4:1-20) yang berbicara tentang benih yang jatuh sebagaimana digam-barkan dengan 4 tempat yang mewakili 4 cara/respons orang dalam menanggapi. Ada benih yang jatuh di tepi jalan, di tempat berbatu, di semak duri dan di tanah yang baik. Tanah yang baik menujukkan pada orang yang bersedia mendengar dan melak-sanakan firman Tuhan. Perumpamaan yang kedua berbicara tentang biji sesawi yang ditabur dan bertumbuh menjadi lebih besar dari segala jenis sayuran dan cabang-cabangnya dapat memberi perlindungan bagi burung-burung. Pertumbuhan Kera-jaan Allah digambarkan ibarat benih dan biji sesawi yang ditabur di tanah. Dinamika Kerajaan Allah diibaratkan dengan benih dan biji sesawi: bertumbuh. Pertumbuhan berada dalam kekuasaan Tuhan yang memberi kehidupan. Pertumbuhan yang berlang-sung seumur hidup, sepanjang sejarah dan waktu serta berlaku kepada semua orang tanpa memandang suku dan bangsa serta kebudayaan. Pertumbuhan yang memberdayakan itulah makna dari kedua perumpamaan ini yang juga memberi pandangan yang baru kepada pendengarnya tentang Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah anugerah yang merangkul semua. Suatu anugerah yang memberdayakan tanpa membeda-bedakan latar belakang kebangsaan dan etnis. Suatu anugerah yang memberi perlindungan dan kesejahteraan kepada semua, ibarat burung-burung di udara yang datang bersarang pada pohon. Inilah yang dimaksud Yesus tentang Kerajaan Allah, suatu anugerah yang merangkul, mengangkat yang tersisih, hidup dalam pengam-punan dan pertobatan. Dan kuasa yang lahir dari Kerajaan Allah adalah kuasa yang tidak mengancam dan mengintimidasi melainkan kuasa seperti yang dikatakan Yohanes Pembaptis: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Selama kurun waktu 82 tahun GMIM bersinode, gereja telah hadir dalam kiprahnya menjadi gereja yang terbuka, mandiri dan injili, serta menjadi gereja yang misioner, inklusif  yang senantiasa membawa sukacita dalam konteks keMinahasaan, keIndonesiaan dan seluruh dunia. Kehadiran gereja yang merangkul, menjang-kau dalam bentuk persekutuan, kesaksian dan pelayanan adalah suatu tantangan yang perlu dijawab secara nyata oleh gereja. Sebagaimana kedua perumpamaan Yesus tentang benih dan biji sesawi, yang berdampak, terlihat, teridentifikasi dan ditemukan. Hal ini pun harus berdampak dalam pelayanan gereja ketika yang diperlakukan tidak adil mendapatkan keadilan, yang tertindas dibebaskan, yang miskin diberdayakan dan menjadi mandiri, yang lapar dikenyangkan, atau dengan kata lain ketika orang mendapat perlindungan dan memperoleh harapan hidup yang baru. Gereja terpanggil untuk memberitakan Injil, dan itulah hakikat gereja untuk keluar dari status quo untuk menjangkau dan merangkul sehingga berita Injil memberi dampak.

Di usianya yang ke-82 sebagai gereja mandiri, GMIM memiliki potensi yang besar untuk menjadi gereja yang hidup dalam pemerintahan Allah, suatu gereja yang membangun budaya pemberdayaan, gereja yang memiliki keramahtamahan. Ranting dan cabangnya boleh menjadi perlindungan bagi umat manusia karena pertumbuhannya didasarkan pada Allah. Karena itu peran gereja dalam pemberitaan adalah bagaimana menghadirkan karya selamat Allah dalam konteks sehingga menyentuh pergumulan dan kebutuhan jemaatnya sehingga pemberitaan tersebut akan menerangi, menyadarkan, memotivasi jemaat. Kesaksian yang berdampak memotivasi, memberi kekuatan dan mendorong setiap orang untuk berbuat kasih dan berbelas kasih, hidup damai, memperjuangkan kebenaran dan keadilan, setia kawan, serta peka dalam menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar. Dengan demikian pelayanan gereja tidak hanya berkutat di atas altar dengan kegiatan ritual, melainkan bagai-mana gereja turun dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Bagaimana seluruh warga jemaat dibekali untuk melak-sanakan tugas-tugas misioner di bidang kerjanya secara konteks-tual. Selamat bersyukur atas rahmat Tuhan dalam perjalanan 82 tahun GMIM bersinode. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here