Khotbah HUT ke-76 W/KI GMIM

0
3182

Tema Mingguan: Bukan Perempuan Biasa

Tema Bulanan: Kesetaraan dan penghargaan atas perbedaan

Bahan Alkitab: Amsal 31:10-37

Saudara-saudara yang dikasihi dan diberkati Tuhan.
Hari ini diperayaan syukur HUT ke-76 Wanita/Kaum Ibu GMIM, kita diajak untuk merenung bersama peran dan kehadiran seorang perempuan di tengah kiprahnya di dalam keluarga, dunia kerja, jemaat dan masyarakat. Dengan tema bukan perempuan biasa. Tema ini disampaikan untuk melihat karakter agung seorang perempuan yang sering identik dengan mahluk yang lemah, yang lebih menonjolkan sikap keibuannya dan mengutamakan perasaannya.

Istilah Ibrani untuk perempuan yang seperti ini adalah “chayil” yang artinya kekuatan, kemampuan dari suatu bala tentara, suatu kuasa yang besar dan hebat. Sekaligus juga menggambarkan kerahiman seorang perempuan. Perpaduan yang luar biasa: antara kekuatan dan kelemah-lembutan yang luar biasa berpadu untuk menciptakan pribadi yang baru, lebur menjadi satu di dalam diri seorang istri yang chayil atau cakap. Itulah sebabnya maka ia bukan perempuan biasa, ia sosok yang chayil.

Sementara di beberapa tempat, kita masih menjumpai kaum perempuan yang tersudut dan terpinggirkan dalam kehidupannya. Oleh tekanan lingkungan yang tak memberinya ruang tetapi juga oleh tekanan yang ada dalam dirinya yang menjadikan mereka tak berdaya tak mau mengembangkan diri. Mereka mengalami perlakuan yang buruk, dianggap tidak mampu berbuat apa-apa, sering dimarginalkan karena keberadaannya, dan juga sering menjadi korban kekerasan. Mereka bersikap apatis (masa bodoh) dan pasrah pada keadaan. Potret perempuan seperti itu ibarat layang-layang yang diterbangkan angin ke mana saja dan tak punya kuasa sendiri mengendalikan amarah.

Namun ada juga perempuan-perempuan yang sukses, berkiprah di berbagai bidang kehidupan, sayangnya ketika mereka sukses, mereka sering mengabaikan kodratnya sebagai ibu dan isteri. Demi untuk menunjukkan bahwa mereka dapat keluar dari dominasi kaum pria, dan dapat berhasil dengan kemampuan mereka sendiri. Akibatnya banyak perempuan yang sukses di luar rumah tetapi gagal dalam membina keluarga.

Amsal 31 ayat 10-37 menguraikan secara praktis dan menarik karakter agung seorang perempuan. Perempuan memang makhluk yang lemah tapi bukan tidak berdaya, ia juga bukan sosok perempuan biasa tapi memiliki kesempatan dan peluang yang strategis dengan peran kompleksnya; sebagai ibu, isteri, dan perempuan yang dapat berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Tidak ada yang dapat menggantikan hakikat dan kodrat perempuan seperti ini. Di mana ia bekerja dan melayani dengan setulus hati, cakap membuat perencanaan, punya semangat dan daya juang yang tinggi, selalu optimis terhadap masa depan keluarganya. Dialah gambaran sosok perempuan yang rajin, teliti, manager dalam keluarga, pedulu kepada orang miskin dan tertindas serta memiliki kemampuan yang luar biasa. Semua peran ini dilakoninya sebagai penjabaran dari kehidupan yang takut akan Tuhan.

Di tengah masyarakat patriarkh, yang didominasi oleh kaum pria, di mana perempuan dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Profil perempuan ini ditonjolkan dalam kita Amsal. Tampak sungkan bagian ini dikatakan ibunya kepadanya. Perempuan seperti ini dikatakan berharga dari pada permata, hati suaminya percaya kepadanya, ia memuji dia dan anak-anaknya menyebutdia berbahagia.

Di sini karakter agung seorang perempuan tidak semata-mata menonjolkan kecantikan lahiriah perempuan. Seperti anggapan perempuan dihargai karena ia cantik, tampil modis dan anggun. Namun Amsal mengkritisi pengagungan kecantikan lahiriah yang mengabaikan kecantikan batiniah. Menurut kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Artinya perempuan dihargai dari karakternya yang agung.

Leonardo da Vinci yang terkenal dengan lukisan Monalisa mengatakan “Beauty adorns virtue”, “kecantikan memuja kebaikan”. Artinya siapapun dapat memiliki kecantikan yang luar biasa jika bersedia mempercantik hati dan jiwanya.

Sejak dari dulu perempuan memiliki peranan penting dalam kehidupan. Sebagai ibu, isteri dan sebagai seorang wanita yang bekerja. Keterlibatan perempuan dalam pekerjaan formal tidak membebaskan dirinya daripada tanggung jawab terhadap keluarga. Betapa tinggi pun pangkatnya, pendidikannya atau pendapatannya, perempuan tetap perlu menjalankan tugas domestiknya, yaitu berperanan sebagai isteri kepada suaminya dan ibu kepada anak-anaknya. Hal ini perempuan memegang tiga peranan sekaligus. Ia perlu pandai mengimbangi peranan dengan bijak dan berkualitas.

Sebagai seorang isteri, ia harus membangun kepercayaan suaminya, berbuat baik kepada suaminya, dan berusaha untuk menopang pekerjaan suami. Peran domestik yang disebut juga peran tradisi menentukan peran publik suaminya. Suaminya dikenal di pintu gerbang, tempat di mana orang berkumpul membahas persoalan di tengah masyarakat. Suaminya adalah seorang yang dihormati.

Sebagai seorang wanita bekerja, ia senang bekerja dengan tangannya, memanfaatkan waktu dengan baik, memiliki kemurahan hati, menghargai dirinya, tampil cantik dan menarik, memiliki kecantik batiniah/rohani serta mempunyai pandangan yang positif tentang masa depan.

Sebagai ibu, ia mampu mengurus keluarga, menyiapkan/melayani kebutuhan keluarga, memanage urusan rumah tangga, mengajar, memimbimbing dengan hikmat dan kelemah lembutan, serta dikasihi oleh anak-anaknya.

Peran three in one hanya dapat dilaksanakan oleh seorang perempuan yang takut akan Tuhan. Untuk melaksanakan peran itu, kaum perempuan membutuhkan pengembangan diri. Bila perempuan memiliki perannya yang sangat strategis dalam keluarga, jemaat dan masyarakat. Maka ia harus menunjukkan bahwa kehadiran sebagai seorang perempuan tidak sekedar pelengkap dalam keluarga atau sebagai hiasan dalam rumah tetapi betul-betul sebagai sosok yang sangat dibutuhkan untuk membangun kehidupan mulai dari keluarganya. Kendati kehadiran perempuan tidak lagi dibatasi dengan peran domestiknya (urusan dapur/keluarga) melainkan juga merambah ke peran publik.

Namun hal yang tidak boleh kita abaikan adalah bahwa urusan domestik sangat menentukan dalam peran publik baik dirinya maupun keluarganya. Urusan domestik menyangkut makanan dan pelayanan dalam keluarga, kalau urusan ini terbengkalai maka akan mengganggu kinerja suami dan anggota keluarga lainnya. Potensi unggul seorang perempuan adalah juga mulai dari dapur atau urusan keluarga, disini selera dan cita rasa mengambil peranan yang penting. Jadi bukan hanya soal masakan melainkan membangun kehidupan orang-orang disekitarnya. Karena itu karier seorang ibu rumah tangga yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

Ada beberapa hal yang dapat diambil hikmahnya dalam perenungan ini: yaitu perempuan harus mempunyai semangat dan motivasi yang bertumbuh dari takut akan Tuhan. Ia juga harus mempunyai perilaku dan karakter yang baik, senang bekerja, dan memiliki fungsi manajerial yang baik. Perempuan harus tampil terbaik sebagaimana adanya, secara lahiriah dan batiniah. Ia harus membangun karakter yang agung, memiliki perspektif yang baru dalam hidupnya, dan menggeser stigma dalam masyarakat bahwa perempuan adalah sosok yang tak berdaya tapi dapat diberdayakan.

Di tengah sukacita perayaan ini, saya mengajak seluruh kaum untuk membangun identitas dirinya. Jadilah diri sendiri dan kembangkanlah segala potensi yang kita miliki, agar semakin berperan di berbagai bidang kehidupan. Sudah saatnya perempuan GMIM untuk bangun dan bangkit dalam semangat juang yang tak pantang menyerah untuk terus menghadirkan diri sebagai perempuan yang luar biasa. Kita luar biasa karena Tuhan, Tuhan yang menciptakan kita dengan peran yang luar biasa untuk melayani bagi hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Selamat Hari Ulang Tahun! Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here