Khotbah Tahun Baru, 01 Januari 2016

0
7196

TEMA MINGGUAN: “Peduli Kepada Orang Miskin”
Bahan Alkitab : Ulangan 15:7-11; Lukas 6:20

Jemaat yang berbahagia dalam Tuhan Yesus.

Kita telah berada di hari yang pertama tahun 2016, tahun baru yang kita imani tetap dalam genggaman kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Sekalipun kita telah berada di tahun yang baru, tentu tidak serta merta semua pengalaman hidup beriman di tahun 2015 dengan cepat kita lupakan. Kita terus belajar dari setiap pengalaman hidup yang telah kita lewati. Ada yang menyenangkan, tetapi  ada yang tidak menyenangkan. Ada saat bersukacita, tetapi ada  saat kita berduka cita. Dari sisi ekonomi (kerja dan usaha), ada jatuh bangunnya, ada sukses dan gagal. Kegagalan dapat saja membuat kita jatuh miskin. Miskin karena kekurangan sandang pangan, tetapi juga ketidakmampuan untuk membiayai pendidikan dan kesehatan keluarga kita. Masing-masing kita telah menjalani sebagai bagian dari pemeli-haraan Tuhan. Dari semua pengalaman hidup tersebut, kita terus berkeyakinan bahwa Tuhan mengangkat kita dari samu-dera raya. Hidup miskin adalah ”musuh” kita. Musuh yang harus kita kalahkan; musuh yang harus kita bebaskan (= merdekakan). Dalam bahasa Sub tema GMIM: “Menanggulangi kemiskinan”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.

Membaca dua bagian Alkitab pada hari ini mengingatkan kita bahwa “kemiskinan” sekalipun menjadi musuh kita, tetapi “orang-orang miskin tetap ada dalam negeri itu” (Ulangan 15: 11; Lukas 6: 20). Kitab Ulangan pasal 15: 1-11 berbicara tentang tradisi umat Israel (=Yahudi) “tahun ketujuh” yang adalah tahun penghapusan hutang (ayat 1, 3, dan 9) untuk mereka yang miskin, secara khusus bagi “sesama atau saudara (sebangsa atau seiman) (ayat 2). Namun demikian, dalam pasal 15 : 7-11 secara khusus memberi perhatian kepada sesama dan saudara yang miskin, yang terus bergumul dengan kemiskinan hidup yang masih membutuhkan pinjaman sekalipun sudah mendekati ta-hun ketujuh yang adalah tahun penghapusan hutang. Seharus-nya mereka yang “berkecukupan bahkan berkelebihan” tetap  memberikan pinjaman sekalipun waktu penghapusan hutang su-dah dekat. Mereka jangan menegarkan hati ataupun meng-genggam tangan terhadap saudara yang miskin, tetapi harus membuka tangan lebar-lebar sesuai keperluan mereka (ay. 7-8).

Saudara-saudara yang berbahagia dan diberkati Tuhan,

Memang, dalam teori ekonomi, perhitungan seperti itu sangat logis ekonomis bahwa yang memberi pinjaman akan merasa rugi apabila bunga pinjaman dan modalnya tidak kembali lagi. Perilaku dan praktek hidup dalam kebersamaan seperti ini telah membawa relasi antar sesama menjadi kurang harmonis. Bisa saja ada perilaku orang-orang miskin meman-faatkan tradisi budaya dan keagamaan ini menjadi kesempatan untuk saling “memanfaatkan” tanpa memiliki rasa tanggung-jawab. Namun, teks Alkitab ini dengan jelas Tuhan melihat sikap batin seseorang, baik mereka yang menderita miskin (=betul-betul miskin) karena tidak berkesempatan untuk mendapat “sesuatu untuk keperluan mereka (ayat 8), maupun mereka yang berkecukupan bahkan berkelebihan mulai terikat oleh ketamakan dan mereka mulai menjadi “kikir” dan akhirnya tidak peduli terhadap sesama dan saudara mereka. Dalam ayat yang ke-9 dan 10 dengan jelas dan tegas pengajaran bahwa mereka yang mulai tidak peduli kepada orang miskin, akan disebut orang dursila dan menjadi dosa bagi mu. Namun demikian bagi mereka yang tetap peduli kepada orang miskin dijanjikan bahwa Tuhan, Allah-Mu akan memberkati engkau dalam segala peker-jaanmu dan dalam segala segala usahamu. Perhitungan eko-nomis atau bisnis manusia, tidak selalu menjadikan alasan untuk tidak peduli kepada sesama atau saudara kita yang  miskin. Tuhan tidak meminta semua yang kita miliki untuk dibagikan kepada orang miskin, tetapi Tuhan meminta “kerelaan” kita untuk tidak menjadi tamak dan kikir, apalagi menjadikan uang dan harta benda menjadi “mamon” (=berhala) dalam hidup pribadi, keluarga, perusahaan, institusi gereja dan bangsa kita. Apa yang kita berikan untuk orang miskin, tidak menjadikan kita jatuh miskin, tetapi justru menjadi berkat dalam  pekerjaan dan usaha kita.

Saudara-saudara yang diberkati Tuhan Yesus,

Itu jugalah yang diajarkan Tuhan Yesus dalam bacaan kita di dalam Injil Lukas 6: 20, di mana Tuhan Yesus berpihak kepada orang-orang miskin. Keberpihakan Tuhan adalah bentuk pembelaan Tuhan kepada orang-orang miskin, bukan karena Tuhan secara sengaja menjadikan orang miskin, atau membiar-kan orang-orang hidup dalam kemiskinan. Orang-orang miskin di zaman Yesus adalah orang-orang yang dirampas hak-hak kemerdekaan mereka untuk hidup berkecukupan baik atas nama “agama” maupun atas nama “negara”. Mereka menjadi korban ketidakadilan dalam struktur dan tatanan hidup ber-agama dan bermasyarakat. Mereka korban diskriminasi atas status dan martabat mereka, mereka menjadi kaum yang ter-pinggirkan. Dalam kondisi seperti inilah, banyak di antara mereka juga mengalami “kemiskinan” rohani, yang terus-menerus mencari jalan keluar atas problematik kehidupan. Kehadiran Tuhan Yesus, dalam pengajaran-pengajaran-Nya dan tindakan-tindakan-Nya, problematik hidup orang-orang miskin terjawab. Tuhan Yesus terus mengajar supaya orang-orang kaya (=berkecukupan dan berkelimpahan) untuk menjual harta mereka dan membagikan kepada orang-orang miskin dan tidak menggantungkan hidup mereka kepada kekayaan harta benda mereka, tetapi menggantungkan hidup mereka kepada pemberi dan sumber harta benda, itulah Tuhan, Allah pencipta langit dan dan bumi.

Teks Injil Lukas bacaan kita ini, dapatlah kita mengerti bahwa Yesus sangat tersentuh ketika melihat orang-orang miskin, orang-orang yang tertindas dan termarjinalisasi datang kepada-Nya, berbondong-bondong mengikuti Dia untuk men-dapat jawaban atas berbagai problematik hidup mereka. Mereka disebut berbahagia, bukan saja karena mereka merasa dan mengakui kemiskinan harta benda, tetapi juga sekaligus merasa dan mengakui bahwa mereka sedang mengalami kemiskinan “rohani”. Sikap batin dan perilaku orang-orang miskin yang datang kepada Tuhan Yesus, seperti inilah yang pantas disebut “Berbahagia”. Ungkapan berbahagia ini juga dihubungkan dengan nilai dan kualitas hidup yang sesungguhnya, itulah jaminan hidup kekal dalam Kerajaan Allah.

Saudara-saudara jemaat yang kekasih.

Di tahun yang baru ini, awal tahun 2016, kita tentu sadar bahwa sesungguhnya orang-orang miskin tetap ada. Orang-orang yang miskin tidak harus menunjuk dia, mereka, tetapi kita semua. Kita manusia, pada dasarnya tidak pernah merasa bahwa kita sudah cukup, karena itu sesungguhnya kita tidak pernah kaya. Kita terus mengejar menambah pemilikan, inves-tasi, menambah nilai angka dari deposito kita. Karena itu, sesungguhnya kita tetap miskin, jika membanding-bandingkan dengan pemilikan orang-orang lain. Apalagi jika kekayaan atau pemilikan telah menjadi mamon dalam hidup kita. Sesung-guhnya, kita adalah orang-orang miskin yang membutuhkan Tuhan Allah, pemilik kehidupan dan kematian. Kita tidak hanya berjuang untuk membebaskan diri dari kemiskinan harta benda, tetapi juga harus membebaskan diri dari segala hawa nafsu cinta uang, ketamakan, kikir dan mamon. Kita ternyata tidak hanya mengumpulkan harta di dunia, tetapi kita juga mengumpulkan harta di sorga, sambil berharap kita semua disebut Tuhan, berbahagia dan mendapatkan hidup kekal dalam Kerajaan Allah. Karena itu, marilah di tahun yang baru ini, kita lebih menghargai hdup yang masih dianugerahkan Tuhan bagi kita, kita terus bekerja keras dan memiliki kepedulian satu terhadap yang lain, sehingga kita semua disebut berbahagia, karena empunya Kerajaan Allah. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here