Khotbah Tahun Baru 2, 02 Januari 2016

0
4933

TEMA MINGGUAN: “Pendidikan Mengatasi Kemiskinan”
Bahan Alkitab : Amsal 13:18-25

Jemaat yang dikasihi Tuhan, hari ini kita diperkenankan lagi oleh Tuhan untuk memasuki tahun baru hari kedua sebagai wujud kasih sayang-Nya dalam kehidupan kita. Tahun 2016 bagi kita adalah tahun rahmat Tuhan. Sebagaimana di tahun yang telah silam, di awal tahun ini, haruslah kita memberi perhatian pada petunjuk firman Tuhan sebagai bekal dan modal utama atau defoma, supaya perjalanan ini tidak membuat kita risau, galau dan kacau. Semua orang punya harapan (ekspek-tasi) untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Namun harapan akan tetap menjadi harapan jika kita tidak mengusahakannya. Karena itu, harapan di tahun 2016 ini kita bawa dan letakkan di dalam Tuhan yang akan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengusahakannya. Dialah satu-satunya harapan dan hanya di dalam Dia harapan itu dapat menjadi kenyataan.

Salah satu pokok yang perlu di gumuli yang berhubungan dengan harapan menjadi kenyataan adalah pemberdayaan sum-ber daya manusia di bidang  pendidikan. Mengapa? Karena sepertinya pendidikan belum mendapatkan prioritas untuk mem-bangun kehidupan. Realitasnya adalah pembiaran dalam bidang  pendidikan, padahal kita tahu bahwa pendidikan dan peng-ajaran bagi anak-anak merupakan hal yang mendasar dan menentukan. Sebab tujuan Pendidikan tidak hanya memberi masa depan, membuka peluang kerja dan mengentas kemis-kinan, tetapi esensinya adalah membangun karakter. Untuk itulah setiap keluarga perlu berkomitmen menempatkan pendi-dikan atau pengajaran sebagai prioritas dalam membangun karakter kehidupan dan membuka masa depan yang cerah dan cemerlang bagi anak-anaknya.

Amsal 13:18-25 yang kita baca di tahun baru hari kedua ini, menegaskan bahwa pendidikan menurut tradisi Israel adalah salah satu tanggung jawab yang diberikan Allah kepada komu-nitas umat Allah. Itulah sebabnya dalam kitab Ulangan 6:7-9 berulang-ulang disampaikan pendidikan dan pengajaran secara terus menerus dalam berbagai aspek dan aktifitas hidup. Pem-bacaan kita memberi peringatan bahwa nampaknya di jaman itu, ada orang-orang yang menjadi miskin dan Pengamsal meng-amati bahwa penyebabnya adalah pengabaian pendidikan. Model pendidikan di waktu itu adalah pendidikan yang keras, tegas dan disiplin. Dalam hal ini pendidik atau orang tua meng-gunakan tongkat bukan dengan maksud memperlakukan de-ngan semena-mena melainkan dengan tujuan untuk pemben-tukan karakter. Perikop ini juga menggarisbawahi tentang penga-ruh lingkungan yang berdampak baik atau buruk. Dengan tegas pengamsal katakan “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang”. Pendidikan ini adalah warisan yang sangat berharga bagi anak cucu kita. Hal yang sama kita dengarkan dari nasihat bijak orang tua kita: biar orang tua nyanda kase tinggal harta, mar mo kase skolah bae-bae. Dari harta orang gampang pancuri, mar ilmu nda gampang orang mo ambe.

Jelaslah, semua ini memberi pelajaran dasar bahwa keluarga kristen harus memposisikan diri sebagai guru/pendidik yang tak kenal lelah dan tak mudah menyerah dalam mengem-ban tugas yang mulia dan sangat mendesak itu. Keluarga kristen harus sadar bahwa pendidikan itu adalah harta yang terindah dan termahal dalam kehidupan anak-anak sehingga pendidikan itu suatu kemutlakan.

Di hari kedua tahun  2016 ini, kita harus kembali kepada firman Tuhan ini yang menegaskan tentang kemiskinan dan cemooh yang akan menimpa orang yang mengabaikan pendi-dikan. Artinya nilai pendidikan sangat berarti dalam kehidupan setiap manusia. Oleh karena itu tempatkanlah  pendidikan sebagai warisan Tuhan untuk terus diajarkan dan dibicarakan dalam segala situasi.

Sehubungan dengan tema “Pendidikan mengatasi Kemiskinan, maka setiap  orang tua berkewajiban mendidik anak-anak mulai dari keluarga dan menyekolahkan mereka sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi orang tua (dan orang tua baptisan yang mengantar anak(-anak) pada hari ini untuk menerima sakramen baptisan kudus) firman ini meng-ajak kita agar memberikan perhatian bagi pendidikan anak atau anak serani sejak dini dan secara terus menerus, supaya mereka menjadi anak-anak yang tinggi iman, tinggi ilmu dan berkarakter kristiani. Dengan demikian dari komunitas keluarga akan ter-pancar dampak positif bagi komunitas yang lebih besar. Sebagai jemaat kita harus menjadi pelopor-pelopor pendidikan demi masa depan gereja bangsa dan negara. Inilah juga yang digaris-bawahi oleh pengamsal agar umat hidup bijak, baik, adil dan benar. Apabila semua ini dilakukan pasti akan memberi dampak positif bagi pengelolaan lingkungan hidup. Semoga disepanjang tahun 2016 ini kita semakin memprioritaskan pengembangan kualitas kehidupan melalui bidang pendidikan. Selamat tahun baru, ( selamat bagi, orang tua dan orang tua baptis yang sudah membawa anak pada hari ini). Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here