MTPJ 1 – 7 Februari 2015

0
9610

TEMA BULANAN: “Kehidupan Kristiani Dalam Solidaritas Berbangsa”
TEMA MINGGUAN: “Solidaritas Allah”
Bahan Alkitab: Mazmur 71:20; Roma 5:1-11

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Salah satu indikator kekuatan keluarga, jemaat, masyarakat, bangsa dan negara adalah jika tiap-tiap anggotanya memiliki solidaritas (perasaan solider; sifat satu rasa atau senasib serta  perasaan setia kawan) satu sama lain. Itulah sebabnya tak heran jika solidaritas tidak ditumbuh kembangkan maka sikap curiga, permusuhan, perkelahian dan perpecahan tak dapat dihindari, selain itu, jika tanpa solidaritas, orang lemah tak dapat bangkit dari berbagai kesusahan dan malapetaka, tapi juga kesenjangan sosial antara yang miskin dan kaya semakin mengganga lebar tanpa peduli satu sama lain. Demikianpun setiap anak bangsa dengan beragam bahasa, politik dan agama tak dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Dalam konteks bangsa Indonesia yang pluralistis, solidaritas menjadi hal yang sangat prinsip untuk ditumbuh kembang-kan. Lembaga-lembaga agama termasuk gereja adalah pilar utama pemberi dasar, motivasi dan tujuan bagi solidaritas yang baik dan benar, tidak bersifat primordialisme (perasaan kesukuan yang berlebihan), tidak hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu tetapi solidaritas yang dilakukan dari, oleh dan untuk sesama anak bangsa. Bagi gereja Tuhan solidaritas yang dibangun selalu berawal dari Solidaritas sebagai prakarsa Allah sendiri yang mengasihi, menolong serta mau menyelamatkan manusia, di berbagai kalangan dengan berbagai masalah dan penderitaan hidup sekalipun ia berdosa. Itulah sebabnya tema yang dipilih untuk renungan minggu ini adalah “Solidaritas Allah”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Mazmur 71 : 20 ini adalah bagian dari doa seorang yang sedang bergumul menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Ia memiliki iman yang luar biasa kepada Tuhan karena pengalamannya berjalan di jalan Allah sejak kecil (Maz 71:5-6,17). Ia menaruh pengharapan dan keyakinannya kepada Allah, bahwa Tuhan telah merancangkan hidupnya untuk mengalami kesulitan dan malapetaka. Ia berkata “Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka”. Kesusahan menggambarkan keadaan yang mengalami kemerosotan, kemunduran; depresi, resesi; masa sulit; kemalangan, kerugian, kesialan, kesesakan, penderi-taan, tragedi; kesukaran dan kesulitan. Sedangkan malape-taka menunjuk pada keadaan yang mengalami bencana, kecelakaan, kemalangan, kesengsaraan dan musibah. Namun pemazmur mempunyai keyakinan bahwa Tuhan adalah Allah yang “solider”, akan menghidupkannya kembali. Dari samudera raya bumi, Tuhan akan menaikkan dia kembali. Samudera raya bumi secara hurufiah dipahami sebagai kumpulan air yang besar dan memiliki kekuatan yang dahsyat serta destruktif (merusak dan menghancurkan). Dalam kalimat ini, istilah samudera raya dipakai sebagai ungkapan simbolik yang menunjukkan adanya pemahaman orang Israel bahwa samudera raya bumi ialah air (samudera purba) yang dibayangkan di bawah bumi, tempat dunia orang mati dan yang melambangkan bahaya maut. Pemazmur memberi pengakuan bahwa sekalipun ia tak berdaya menghadapi kekuatan samudera raya, tapi Tuhan Allah dapat menaklukkan dan mengendalikan kekuatan itu dan oleh “solidaritas-Nya”, Ia dapat mengangkat, menaikkan dan menghidupkan pemazmur kembali dari samudera raya.

Roma 5 : 1 – 11. Dalam teologi Paulus manusia berdosa dibenarkan Allah karena iman kepada Tuhan Yesus yang mati dan bangkit  (Roma 3:20, 28, 4: 5:1). Buah dari pembenaran yang dilakukan Allah adalah manusia dapat hidup damai sejahtera dengan Allah. Juga beroleh jalan masuk kepada kasih karunia (artinya orang percaya tidak lagi di bawah hukum taurat. Rm 6:14, 16) dan dengan kasih karunia itu dapat berdiri  dan bermegah dalam pengharapan (menantikan apa yang pada akhir zaman terwujud: kebangkitan badan); untuk menerima kemuliaan Allah . Juga dapat bermegah dalam kesengsaraan yang menimbulkan ketekunan. Ketekunan  menjadi batu ujian bagi pengharapan dan juga meneguhkannya. Sehingga pengharapan tidak mengecewakan. Paulus mengungkapkan bahwa pembenaran yang dilakukan Allah bagi orang berdosa didasarkan pada kasih-Nya.  Allah menyatakan solidaritas-Nya melalui dan di dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit supaya manusia berdosa yang adalah seteru Allah didamaikan dan diselamat-kan.

Makna dan Implikasi Firman 

  • Tema PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) “Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya” yang dijadikan sebagai tema pelayanan GMIM periode tahun 2014 – 2018 diangkat dari Mazmur 71 : 20 b. Di pahami bahwa laut mempunyai kekuatan destruktif (merusak dan menghancurkan). Hal ini telah dialami oleh Nias tahun 2004 ketika kekuatan laut dalam bentuk tsunami menghantam mereka. Kesusahan dan malapetaka melanda pulau Nias di dalamnya warga gereja. Namun dalam keyakinan oleh pertolongan Tuhan, sebagai bentuk solidaritas Allah, mereka dapat bangkit lagi dari keterpurukan dan kehancuran bahkan  dapat menjadi tuan dan nyonya rumah bagi penyelenggaraan Sidang PGI tanggal 11 – 16 November 2014 yang lalu.
  • “Tsunami” yang diakibatkan oleh kekuatan samudera raya yang detruktif tidak hanya dipahami secara hurufiah tetapi juga secara kiasan bahwa Indonesia sedang mengalami “tsunami” dalam bentuk kemis-kinan, ketidakadilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan. Gereja-gereja di Indonesia yakin bahwa Solidaritas Allah dalam bentuk pertolongan dan penyelamatan-Nya dapat mengangkat dan memam-pukan gereja menghadapi berbagai bentuk “tsunami” itu, termasuk berbagai “tsunami” dalam keluarga, jemaat dan masyarakat.
  • Solidaritas Allah berarti uluran tangan kasih Allah yang mengangkat manusia dari segala bentuk kesusahan dan malapetaka serta keberdosaannya didasarkan pada kasih-Nya melalui Yesus Kristus dengan tujuan supaya manusia memiliki hidup damai dan berpengharapan.
  • Solidaritas Allah harus menjadi model untuk membangun solidaritas dengan sesama anak bangsa. Bahwa dalam Solidaritas-Nya, Ia sanggup menakluk-kan berbagai kesusahan dan malapetaka. Oleh sebab itu setiap warga gereja perlu membangun solidaritas dengan sesama anak bangsa yang dimulai dari dalam keluarga dan jangan pernah menyerah dalam perjuangan hidup menghadapi berbagai kesusahan dan malapetaka karena kita yakin dalam solidaritas-Nya, Allah sanggup mengangkat kita, sehingga kita dapat berdiri tegak dan bermegah dalam peng-harapan yang tidak mengecewakan.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa yang kita pahami tentang solidaritas Allah dan bentuk-bentuknya dalam dua bagian Alkitab yang dibaca?
  2. Apa saja bentuk kesusahan dan malapetaka yang ada di sekitar kita (keluarga, jemaat, masyarakat dan bangsa) dan bagaimana kita menterjemahkan solidaritas Allah menghadapi semua itu ?

NAS PEMBIMBING:  1 Yohanes 4:9-10 

POKOK-POKOK DOA

  • Adanya praktek solidaritas yang berdasar pada solidaritas Allah
  • Terwujudnya solidaritas dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat dan berbangsa.
  • Agar warga gereja dapat membentuk solidaritas berbangsa tanpa kehilangan identitas dan jati diri.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan  :NNBT No. 1  “Pujilah Dia, Pujialah Dia”
Ses Nas Pemb/Nyanyian masuk : NKB. 17 “Agunglah Kasih Allahku”
Pengakuan Dosa: NNBT No. 8 “Banyak Orang Suka Diampuni”
Pemberitaan Anugerah Allah : NKB No.3 “Terpujilah Allah”
Pengakuan Iman : KJ No. 38:1,2 “T’lah Kutemukan Dasar Kuat”
Hukum Tuhan : NNBT No. 13 “Ya Allah Bapa, Ya Yesus, Tuhan”
Sesudah Pembacaan Firman : KJ. No 427 “Ku Suka Menuturkan”
Persembahan : NNBT No. 20 “Kami Bersyukur Padamu, Tuhan”
Penutup : NNBT No. 21: 1,2 “Pergilah Kamu” 

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here