MTPJ 10 – 16 Juli 2016

0
5023

TEMA BULANAN: “Penginjilan, Pendidikan dan Pengucapan Syukur Sebagai Sarana Kesaksian Gereja”
TEMA MINGGUAN: “Pengucapan Syukur Memperkuat Persekutuan, Kesaksian dan Pelayanan”
Bahan Alkitab : Ulangan 16:1-17
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pengucapan syukur sesungguhnya tidak dapat dilepas-kan dari kehidupan orang percaya. Setiap orang percaya selalu memiliki alasan yang cukup untuk mengucap syukur di hadapan Tuhan Allah, yakni bagi kehidupan yang diberikan, kesehatan dan kekuatan setiap hari, umur panjang, hasil bumi yang melim-pah, ataupun pemeliharaan Tuhan setiap waktu. Sayang sekali, ucapan syukur atas segala kebaikan Tuhan ini sering disalah-gunakan dalam penerapannya. Pengucapan syukur seringkali berubah menjadi rutinitas tanpa makna, yang dirayakan secara berlebihan dan cenderung berubah menjadi pesta pora tanpa memperhatikan orang lain yang berkekurangan; terjadi perpe-cahan dalam keluarga, jemaat, bahkan tak jarang kita dengar terjadi perkelahian antar kelompok dan antar kampung justru di saat Pengucapan Syukur. Gereja pun menghadapi tantangan yang lebih besar sebab pengucapan syukur bukan lagi sekedar tuntutan keagamaan, melainkan telah membudaya dalam pera-yaan masyarakat setiap tahunnya, yang lebih dikenal dengan perayaan “Pengucapan.” Hal ini tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Kristen di tanah Minahasa.

Firman Tuhan mengajar dan memberitahukan bahwa pengucapan syukur adalah kehendak Allah bagi semua orang percaya, apapun keadaan dan situasi kehidupan yang dihadapi. Segala kebaikan Tuhan yang diterimanya menjadi daya dorong bagi orang percaya untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan dan sesamanya. Pengucapan syukur yang dirayakan oleh orang percaya hanya akan berkenan di hadapan Tuhan apabila dira-yakan dengan motivasi yang benar dan menjadi alat berkat bagi sesama manusia. Itulah sebabnya jemaat diingatkan melalui perenungan sepanjang minggu ini bahwa seharusnya Pengu-capan Syukur Memperkuat Persekutuan, Kesaksian, dan Pelayanan setiap orang percaya.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Ulangan 16 adalah pasal yang secara khusus berbicara tentang pengucapan syukur yang harus dilakukan oleh umat Tuhan yakni orang Israel. Dalam bagian pembacaan Ulangan 16:1-17 ini terdapat tiga perayaan utama orang Israel, sebagai-mana yang terdapat juga dalam Keluaran 23:14-17 dan Imamat 23. Perayaan-perayaan yang dimaksud adalah hari raya Paskah (ayat 1-8), hari raya Tujuh Minggu (ayat 9-12), dan hari raya Pondok Daun (ayat 13-17). Tujuan utama perayaan hari-hari raya tersebut adalah merayakan segala kebaikan Tuhan yang telah dinyatakan-Nya kepada orang Israel, yakni ucapan syukur atas pemeliharaan-Nya, pertolongan-Nya, maupun atas panen hasil bumi yang berlimpah. Pengucapan syukur tersebut dilaku-kan dengan merayakannya di Yerusalem sebagai pusat keaga-maan orang Yahudi. Sebagaimana perintah Tuhan, orang Yahudi yang tinggal di luar Yerusalem pun haruslah melakukan perjalanan ziarah menuju ke Yerusalem. Perayaan pertama disebut hari Paskah atau hari raya Roti Tidak Beragi. Penekanan perayaan ini adalah pada pembebasan yang dilakukan Allah atas orang Israel dari tanah Mesir, yang memungkinkan mereka menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Perayaan ini dilakukan dengan memakan roti tidak beragi sebagai simbol penderitaan, sekaligus mengingatkan umat Tuhan mengenai perjalanan di padang gurun selama 40 tahun. Tujuan menjaga perayaan ini dengan jelas disebutkan dalam ayat 3, yakni mengingat segala kebaikan Tuhan yang tidak boleh dilupakan.

Perayaan kedua dirayakan tujuh minggu sesudah perayaan Paskah dan disebut hari raya Tujuh Minggu atau lebih dikenal sebagai hari raya Pentakosta. Hari raya Tujuh Minggu adalah perayaan yang berkaitan dengan pertanian, yang ditandai de-ngan berakhirnya panen gandum orang Israel. Demikian juga dengan perayaan hari raya Pondok Daun. Orang Israel mera-yakannya dengan tujuan mengucap syukur kepada Tuhan Allah atas segala persediaan dan kemurahan-Nya melalui hasil panen yang diterima. Segala perayaan ini yang dilakukan sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan bukanlah sekedar ritual keagamaan tanpa sukacita. Justru sebaliknya, perayaan-pera-yaan ini dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan seluruh umat Tuhan (ayat 11, 14, 15). Selain mendatangkan sukacita, perayaan-perayaan ini mempererat kesatuan di antara seluruh orang Israel sebagai satu bangsa yang disebut umat Tuhan. Hanya saja, sesudah kehancuran Yerusalem (di dalamnya Bait Allah) di tahun 70 Masehi, hari-hari raya ini mulai dirayakan di tengah keluarga masing-masing dan di sinagoge-sinagoge yang ada, namun dengan tujuan yang tetap sama: mengucap syukur atas segala kebaikan Allah dan mempererat kesatuan sebagai satu umat Tuhan.

Pada intinya, perayaan-perayaan ini adalah suatu kewajiban bagi semua umat Tuhan di manapun berada. Umat Tuhan diminta mengingat segala perbuatan Allah yang ajaib, yang dinyatakan-Nya melalui pertolongan dan berkat-berkat-Nya yang tiada berkesudahan (ayat 12, 17). Dengan mengingat dan merayakannya, umat Tuhan dipenuhi dengan sukacita dan kemurahan yang sama untuk berbagi dengan semua orang yang membutuhkan (ayat 11). Dengan demikian pengucapan syukur yang berkenan kepada Tuhan selain berdimensi ucapan syukur tetapi juga berdimensi memperkuat persekutuan, kesaksian dan pelayanan gereja.

Makna dan Implikasi Firman

Tidak ada alasan yang dapat membuat orang percaya tidak mengucap syukur di hadapan Tuhan Allah. Sama seperti orang Israel, ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang harus dirayakan oleh semua orang percaya. Hasil panen yang berlimpah karena tanah yang subur dan diberkati adalah salah satu contoh berkat terbesar yang dinikmati oleh orang percaya di tanah Minahasa dan harus disyukuri. Betapa besarnya kebaikan Tuhan bagi umat yang percaya kepada-Nya! Berkat ini haruslah membuat semua orang percaya mengucap syukur. Melalui pengucapan syukur tersebut persekutuan dan kesaksian orang percaya yang sama-sama bersyukur diperkuat dan pelayanan terhadap sesa-ma yang membutuhkan semakin digiatkan. Tindakan-tindakan inilah yang membuat pengucapan syukur orang percaya berke-nan dan memuliakan nama Tuhan, bukan tindakan-tindakan yang hanya menjurus pada pesta pora, mabuk-mabukan, per-judian, dan pengeluaran yang berlebihan tanpa memperhatikan orang lain yang berkekurangan; terjadi perpecahan dalam ke-luarga, jemaat, bahkan tak jarang kita dengar terjadi perkelahian antar kelompok dan antar kampung justru di saat Pengucapan Syukur.

Belajar dari orang Israel yang mengucap syukur karena telah dibebaskan oleh Tuhan Allah dari tanah Mesir lewat perayaan Paskah, orang percaya di seluruh dunia kini merayakannya dengan makna yang baru atas keselamatan yang telah diterima melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Inilah ucapan syukur terbesar yang harus dinyatakan semua orang yang percaya dan yang mendorongnya untuk melayani sesama yang membutuhkan dengan segala yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa motivasi dan bagaimana bentuk perayaan syukur umat Tuhan menurut bacaan Alkitab ini?
  2. Apakah bentuk-bentuk perayaan yang menunjukkan pengu-capan syukur yang tidak berkenan di hadapan Tuhan Allah?
  3. Bagaimanakah mewujudnyatakan secara konkrit pengu-capan syukur yang memperkuat persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat? 

POKOK-POKOK DOA

  • Jemaat menyadari segala kebaikan Tuhan dari hal-hal terbesar hingga hal-hal terkecil dan belajar mensyukurinya melalui kehidupan yang memuliakan Tuhan.
  • Kehidupan jemaat yang semakin diberkati dan menjadi berkat bagi sesama yang membutuhkan.
  • GMIM yang semakin kuat dalam persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di dalam pengucapan syukur yang benar di hadapan Tuhan Allah. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah: KJ. No. 3 Kami Puji dengan Riang

Ses Doa Penyembahan: NNBT. No. 9 Ku Akan Selalu Bersyukur

Ses Pengakuan Dosa: NKB. No. 17 Agunglah Kasih Allahku

Ses Janji Anugerah Allah : NKB No. 199 Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan

Persembahan: NKB. No. 133 Syukur Pada-Mu, Ya Allah

Nyanyian Penutup: DSL 176 Musim Penuaian. 

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

Stola minggu-minggu sesudah Pentakosta dan Epifani

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here