MTPJ 11-17 Agustus 2013

0
1291

Tema Mingguan: Mengembangkan sikap kebangsaan

Tema Bulanan: Gereja yang misioner dan transformasi sosial

Bahan Alkitab:

  • Keluaran 2:11-22
  • 1 Timotius 2:1-3

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Patriotisme dan nasionalisme adalah topik yang semakin terpinggirkan akhir-akhir ini. Isu ini seolah-olah hanyut di tengah-tengah hiruk pikuk politik, masalah hukum, masalah HAM dan gaya hidup hedonis yang semakin menggejala akhir-akhir ini. Padahal justru patriotisme dan nasionalisme yang menjadi perekat kebangsaan kita sebagai negara dalam kebhinekaan Indonesia. Nasionalisme dan patriotisme adalah “daya dorong” untuk memperkokoh rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air. Hanya warga bangsa yang mampu melakukan penghayatan yang mendalam dan utuh terhadpa hakekat patriotisme dan nasionalisme yang mampu memberi sumbangsih bagi kesejahteraan dan kelanggengan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Panggilan gereja adalah menyatakan dan mewujudkan kehendak Tuhan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Sebagai orang Kristen semangat patriotisme dan nasionalisme kita sebagai bangsa, akan ditentukan oleh sampai sejauh mana gereja yang juga adalah merupakan bagian warga bangsa ini, dapat mengejawantahkan semangat rasa kebangsaan ini dalam kiprah gereja dan kehidupan umat sehari-hari.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Musa dalam bahasa Ibrani artinya “menarik” atau “orang yang menarik keluar”. Dalam bahasa Mesir artinya “lahir”. Itulah sebabnya nama Musa diartikan sebagai orang yang ditarik/diambil dari air dan “lahir” dalam “suasana” Mesir.

Pada suatu hari ketika melihat seorang Mesir menganiaya salah seorang saudaranya. Musa merasa iba dan hatinya berontak oleh kesewenang-wenangan tersebut. Oleh karena itu ketika mlihat kondisi yang aman, Musa kemudian membunuh orang Mesir tersebut. Tindakan Musa ini lahir dari rasa cinta terhadap bangsanya yang diperlakukan sewenang-wenang. Dari kejadian di atas maka kita menemukan satu karakter Musa yang peka dengan perilaku arogan dan ketidakadilan. Secara spontan ia akan membela siapa saja yang mengalami tindakan kesewenang-wenangan terutama terhadap bangsanya. Tetapi bagaimanapun tidak ada perintah Tuhan untuk membunuh orang Mesir itu. Ini sama dengan tindakan Petrus dalam Mat 26:51 dimana ia membacok telinga hamba Imam besar yang mau menangkap Yesus. Hal seperti ini tetap adalah suatu kesalahan. Memang semangat tanpa pengertian dan ketaatan terhadap Firman Tuhan, justru akan mencelakakan.

Dari surat Timotius, kita mendapatkan gambaran tentang gereja yang baru lahir. Pada saat itu gereja ibarat pulau di tengah-tengah samudera kekafiran. Paulus meminta agar Timotius bersyafaat untuk semua orang. Seruan untuk mendoakan raja-raja, pembesar-pembesar dan semua yang berkuasa. Hal ini merupakan prinsip pokok doa persekutuan Kristen. Bisa jadi Kaisar adalah merupakan penganiaya dan para penguasa merupakan pihak yang memutuskan untuk memusnahkan kekristenan. Namun gereja Kristen tidak pernah berhenti berdoa bagi mereka. Bahkan ketika gereja berada dalam tekanan yang paling pahit sekalipun.

Hal yang luar biasa untuk memahami iman gereja mula-mula bahwa mendoakan para penguasa adalah sebuah kewajiban mutlak. Di tengah-tengah ancaman dan aniaya dari kaisar, raja-raja bawahannya dan para gubernur, Petrus berkata “Takutlah akan Allah, hormatilah raja” (1Petrus 2:17).

Kepada Timotius, Paulus menasihatkan agar supaya ia hidup menjaga kekudusan dan berpegang pada Injil dalam melawan para pengajar-pengajar sesat. Paulus secara teratur mendorong jemaat untuk berdoa bagi para penguasa. Nasihat yang tersirat dari nas ini adalah agar orang Kristen menjadi warga negara yang baik dan menjadi seorang Kristen yang sempurna. Paulus menasihati Timotius untuk hidup dalam kesalehan eusebia (Yun). Kata kesalehan adalah salah satu kata terpenting dalam bahasa Yunani dan hampir tidak dapat diterjemahkan. Kata melukiskan sikap hormat, baik  terhadap Allah maupun terhadap manusia. Kata ini menggambarkan suatu sikap menghargai manusia dan menghormati Allah.

Hidup dalam kehormatan, semnotes (Yun.). Kata ini juga hampir tidak dapat diterjemahkan. Kata sifatnya semnos berarti orang yang memperoleh rahmat dan martabat yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Orang yang hidup dalam “kehormatan” adalah orang yang hidupnya ada dalam hadirat Allah dan sepenuhnya ditujukan untuk dibaktikan bagi Allah di sorga.

 

Makna dan Implikasi Firman

  • Tuhan Allah adalah Pencipta alam semesta dan semua umat manusia. Ia mengasihi semua manusia di dunia ini. Gereja harus peka dan peduli terhadap dinamika berbangsa dan bertanah air. Bukan kebetulan gereja berada di negara Indonesia tercinta ini. Gereja dipanggil untuk menghargai kehadirannya di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai. Kita perlu menyadari bahwa kemerdekaan negara ini adalah juga bagian daripada jawaban doa dan perjuangan orang-orang Kristen bersama warga bangsa lainnya.
  • Tuhan menghendaki agar semua orang percaya mampu bersaksi tentang nilai kebenaran dan keadilan. Indonesia adalah panggung besar di mana kita sementara berjuang untuk mewujudnyatakan kehendakNya. Panggilan kita adalah sejauh mana orang Kristen dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam konteks negara kita yang diperhadapkan dengan berbagai problem yang kronik. Menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan adalah merupakan satu panggilan mutlak bagi kita.
  • Kita tidak boleh berpangku tangan menyaksikan adanya begitu banyak fakta yang memilukan terjadi di berbagai penjuru tanah air, karena ambisi menguasai ekonomi, sumber daya alam strategis dan berbagai tindakan arogan lainnya. Bahkan politik juga menjadi sarana berbagai kelompok untuk memaksakan kehendak sehingga kedok agama dipakai untuk membenarkan tindakan penganiayaan, pengusiran dan pembakaran rumah-rumah dan tempat ibadah.
  • Karena itu, adalah tanggungjawab orang percaya untuk berdoa bagi pemerintah. Panggilan kita bukanlah untuk menghakimi mereka sebagai pemerintah, tetapi untuk patuh terhadap Firman Tuhan dan berdoa syafaat agar damai dan keteraturan di dalam negara ini. Kita perlu mendoakan agar Allah mengajarkan kepada pemimpin-pemimpin bangsa ini, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah asal dari kepemimpinan pemerintahannya. Juga agar kerendahan hati memenuhi hati raja-raja dan pemerintah yang belajar takut akan Allah. Mendoakan agar pemimpin bangsa mengasihi umatnya lebih dari pada ia mengasihi dirinya sendiri dan agar ia melayani sebagai seorang gembala dan bukan sebagai majikan. Gereja selalu beranggapan bahwa berdoa untuk mereka yang memegang kekuasaan atas kerajaan-kerajaan di dunia adalah tugas wajib, dan mereka tetap memohonkan anugerah Allah bahkan bagi para penganiaya mereka sekalipun. Seruan ini memotivasi agar sebagai umat percaya, orang kristen mempunyai tanggung jawab misioner dalam dunia ini.

 

PERTANYAAN DISKUSI

  • Apa yang mendorong Musa membela orang sebangsanya?
  • Menurut saudara mengapa nasionalisme dan patriotisme penting untuk dimiliki oleh seorang Kristen?
  • Sebagai orang Kristen bagaimanakah seharusnya doa dan tindakan kita di tengah-tengah kondisi ketidak adilan dan kesewenang-wenangan?

NAS PEMBIMBING: Yeremia 29:7

POKOK-POKOK DOA

  • Mendoakan supaya semangat kebangsaan tetap berkobar di dalam hati setiap warga negara Republik Indonesia.
  • Kepekaan sosial kepedulian dan semangat untuk membela menolong mereka yang lemah dan teraniaya.
  • Agar supaya para pemimpin di berbagai lembaga di negara ini memiliki hikmat Tuhan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II

NYANYIAN YANG DIUSULKAN
Kemuliaan bagi Allah: KJ No.242:1,3
Doa Penyembahan: NNBT No.4
Pengakuan Dosa: NKB No.10
Janji Anugerah Allah: NKB No.17
Puji-pujian: KJ No.336
Pembacaan Alkitab: NNBT No.7
Persembahan: KJ No.337:1-3
Nyanyian Penutup: NKB No.194:1,2

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here