MTPJ 11 – 17 Oktober 2015

0
5334

TEMA BULANAN:“Solidaritas Alkitabiah dalam Reformasi Gereja”
TEMA MINGGUAN:“Firman Allah adalah Benar dan Pasti”
Daniel 12:1-4; Lukas 24:25-27

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Tema “Firman Allah adalah Benar dan Pasti” meru-pakan sebuah proklamasi dan penegasan yang sungguh-sungguh tentang sikap gereja bahwa manusia dengan kecer-dasan apapun tidak dapat  “menggugat” Firman Allah. Pene-gasan ini perlu sebab, dengan perkembangan ilmu penge-tahuan dan teknologi orang mulai “meragukan bahkan meng-gugat” kebenaran dan kepastian Firman Allah sebagaimana tertulis dalam Alkitab, karena itu para reformator menekankan tiga hal penting, yakni; Sola Fide, Sola Gratia dan Sola Scriptura.

Sola Scriptura hendak mengatakan bahwa “hanya Alkitab” adalah satu-satunya Firman Allah yang benar dan pasti, karena itu ajakan reformasi gereja adalah “back to the Bible” artinya “kembali ke Alkitab”.

Alkitab merupakan “kanon” (kanon = ukuran yang benar) yang menjadi acuan utama gereja di sepanjang masa. Semua orang percaya yakin bahwa di dalam Alkitab Allah berfirman secara terus menerus dan melintasi ruang dan waktu. Dengan demikian, jika kita hendak memaknai Alkitab sebagai Firman Allah, maka kita sebenarnya hendak menga-takan bahwa Alkitab itu benar dan pasti, ya dan amin.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Daniel ditulis di saat orang Yehuda terbuang di tanah Babel. Kitab ini terdiri dari dua bagian. Pasal 1-6 bercerita tentang teman-temannya yakni pemuda-pemuda Yehuda yang ikut dibuang di Babel. Mereka berhasil menjadi pegawai istana. Pasal 7-12 berisi tentang sejumlah penglihatan tentang kuasa Allah yang memberi pengharapan dalam masa-masa penganiayaan.  Daniel 12:1-4 adalah bagian dari perikop pasal 12:1-13 merupakan bagian terakhir dari kitab Daniel. Sebagai bagian akhir, bukan berarti tidak penting, justru pokok ini merupakan kesimpulan dari pasal 1-11.

Perikop ini adalah nubuat tentang akhir zaman yang menampilkan Mikhael sebagai pemimpin besar yang akan mendampingi umat Tuhan menghadapi “kesesakan yang besar”. Gambaran ini sangat dramatis bahkan menakutkan. Namun penulis kitab ini tidak membiarkan “drama” itu berakhir tragis. Justru ia memberi suatu jaminan “keluputan”, sebuah “happy ending”. Hanya saja keluputan ini diberikan kepada mereka yang namanya tercatat dalam Kitab Kehidupan.

Lebih lanjut penulis kitab ini memberi rincian tentang orang-orang yang telah tidur dalam debu tanah (meninggal) akan bangun sebagian untuk hidup yang kekal dan yang lainnya mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.

Ayat 4 penulis menampilkan sebuah cara berbahasa yang paradoks. Pada satu sisi nabi disuruh menyembunyikan Firman itu, pada sisi lain ada pernyataan bahwa banyak orang menyelidiki Firman itu, dan pengetahuan akan bertam-bah.  Ayat ini memberi penegasan bahwa apa yang akan terjadi kemudian yang disebut sebagai akhir zaman itu, semuanya telah dinyatakan dalam firman. Dan semuanya itu benar-benar pasti.

Lukas 24:25-27 ini merupakan bagian dari kisah penampakan Yesus kepada dua murid dalam perjalanan ke Emaus (pasal 24:1-43). Yesus menyebutkan mereka sebagai “orang bodoh”. Bodoh disini tidak menunjuk pada aspek intelektual semata, tetapi lebih kepada ketiadaan hikmat dan kebijaksanaan. Mereka seharusnya percaya kepada Yesus sebagai Sang Mesias, namun ternyata mereka tidak meyakini semua itu. Yesus kecewa terhadap sikap yang demikian, sebab bukankah mereka selama ini ada bersama-sama dengan Dia sebelum Ia wafat? Lebih daripada itu sebagai orang-orang Yahudi mereka juga sudah membaca Kitab Taurat dan para nabi yang telah bernubuat tentang Yesus sebagai Sang Mesias itu. Olehnya Yesus perlu menjelaskan lagi kepada mereka tentang apa yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut mulai dari kitab Musa dan semua kita nabi-nabi. Sebetulnya mereka bukan tidak pernah membaca kitab-kitab tersebut, bahkan mungkin sangat rajin membaca kitab-kitab suci, tetapi mereka tidak mendalami dan tidak menyatu dengan kitab itu atau dengan kata lain lamban untuk mema-hami Firman Tuhan bahkan mungkin meragukan kebenaran Firman tersebut, padahal firman Tuhan adalah benar dan pasti yang telah mengungkapkan siapa Yesus dan apa yang akan terjadi pada-Nya kemudian.

Makna dan Implikasi Firman

Bertolak dari catatan eksegese (penafsiran) yang dikemukakan di atas maka ada beberapa makna dan implikasi yang dapat diterapkan dari kedua perikop di atas:

  • Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah Firman Allah yang pasti dan benar. Tugas kita adalah menggali isi Alkitab yang berisikan Firman Allah itu dan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bahwa secara ilmiah Alkitab dapat “dipelajari” dan “diteliti” namun sebagai “buku iman” Alkitab mesti diterima sebagai kebenaran yang abadi. Hal ini penting agar umat tidak terombang-ambingkan oleh angin pengajaran (band. Ef. 4:14). Sebagai contoh beberapa waktu lalu muncul Film “Da Vinci Code” yang mempersoalkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Jika umat tidak memiliki ketahanan iman maka bisa saja umat terjatuh dalam pengajaran-pengajaran yang kelihatannya benar tetapi menyesatkan.
  • Alkitab mesti diselidiki dan dipelajari dengan baik agar umat mengalami pertumbuhan dan kedewasaan iman. Tugas gereja adalah membangun dan meningkatkan iman jemaat melalui Penelaahan Alkitab Sosial (PAS), studi Alkitab untuk warga gereja sehingga Alkitab tidak hanya menjadi pajangan semata, tetapi menjadi pedoman dalam hidup setiap hari (diusulkan = sebaiknya memprogramkan kegiatan “sehari” membaca Alkitab).
  • Dengan memberi penekanan tentang Firman Allah sebagai sesuatu yang pasti dan benar, bukanlah mengabaikan rasio atau pemikiran manusia. Rasio dan iman sebetulnya tidak perlu saling dipertentangkan (dikotomi). Seharusnya imanlah yang menjiwai ratio, sebab iman melampaui ratio. Akal budi (rasio) manusia itu terbatas untuk menyelami misteri kasih dan kuasa Allah, karena itu, manusia harus selalu rendah hati untuk tunduk kepada Firman Allah dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.
  • Penderitaan dapat juga berupa ujian mengenai rupa-rupa angin pengajaran yang membingungkan yang membutuh-kan ketajaman dan kesungguhan kita untuk menyelami Firman Allah, sehingga tidak mudah kehilangan arah dalam hidup yang semakin kompleks dan rumit ini, di era post modern dengan segala persoalannya.
  • Firman Allah memberikan penguatan kepada umat yang sedang mengalami derita dan aniaya, maka kitapun mesti menjadi orang-orang yang tegar menghadapi derita dan aniaya. Kita yakin bahwa ada kelepasan yang Tuhan lakukan kepada kita asalkan kita senantiasa percaya dan berharap pada-Nya.

PERTANYAAN

  1. Mengapa kita menyebut bahwa firman Allah adalah benar dan pasti, ketika belajar dari 2 perikop yang kita baca ini?
  2. Mengapa sekarang, sebagian orang Kristen mulai meragukan Firman Allah?
  3. Bagaimana caranya agar kita tetap tegar dan optimis dalam firman di tengah dunia yang penuh kemelut di berbagai aspek kehidupan saat ini?

 NAS PEMBIMBING2 Timotius 3 : 15 

POKOK-POKOK DOA

  • Umat rajin membaca Alkitab
  • Gereja menjadi pelopor reformasi
  • Umat memiliki kecerdasan membaca dan memahami Alkitab

 TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Kemuliaan Bagi Tuhan :KJ No.19 Tuhanku Yesus

Sesudah Doa Penyembahan :NNBT No. 4 Naikkan Doa Pada Allah

Pengakuan Dosa: NNBT No. 36 Barang Siapa Yang Percaya Kepada Tuhan.

Janji Anugerah Allah :NNBT No. 34 Tuhanlah Perlin-dunganmu.

Persembahan :NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan.

Penutup: NNBT No. 46O, Alangkah Indah Hidupku

ATRIBUT

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here