MTPJ 12 – 18 Juli 2015

0
4676

TEMA BULANAN: “ Membangun Solidaritas Dalam Keluarga”
TEMA MINGGUAN: “Membangun Iman Keluarga”
Bahan Alkitab: Ulangan 5:16; Efesus 6:1-18a

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Di zaman sekarang ini, tantangan kehidupan keluarga Kristen menjadi bertambah berat dan kompleks karena diperhadapkan dengan berbagai masalah seperti biaya pendidikan yang relatif naik, kesulitan ekonomi yang ditandai dengan naiknya bahan kebutuhan pokok karena dipicu oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM), kenakalan remaja, perselingkuhan, ancaman nar-koba, pergaulan bebas dan akses teknologi lewat situs internet yang tidak mendidik. Masalah dalam keluarga, di mana ada anak-anak yang perbuatannya sudah kebablasan, dengan kata lain “memberontak” terhadap orang tua, tidak lagi mengindah-kan nasehat dan didikan orang tua.

          Kenyataan bahwa banyak keluarga Kristen yang tidak sungguh-sungguh melandasi dan membangun iman keluarga sesuai dengan kehendak Kristus. Keluarga yang dimaksud juga berhubungan dengan tanggung jawabnya sebagai tuan terhadap hamba dan sebaliknya hamba terhadap tuannya. Iman yang dimaksud adalah rasa percaya kepada Tuhan. Iman seharusnya bertumbuh dan dibangun karena mendengarkan pengajaran dan didikan serta kesaksian orang tua tentang Tuhan. Tetapi terka-dang peranan, tugas pokok dan fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

          Sehubungan dengan hal itu maka di minggu ini diangkat-lah tema: “Membangun Iman Keluarga”. Karena  memba-ngun kehidupan keluarga Kristen haruslah berdasarkan pada kebenaran iman, yaitu kebenaran Kristus sebagaimana yang difirmankan dalam Alkitab.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Ulangan 5:16 ada dalam bagian Dasa Titah/Ke sepuluh Firman. Menurut pembagian yang tradisional, Dasa Titah terbagi atas dua “loh”: loh pertama (Titah I-IV) yang menyangkut tanggungjawab umat perjanjian terhadap Tuhan, sedangkan loh kedua (Titah V-X) menyangkut tanggung jawab umat itu terhadap sesama manusia. Ayat 16 (Titah V) berkata: “Hormati-lah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik kea-daanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

          Kata “hormatilah” ayah dan ibumu (Ibrani: “kabbed”) secara harfiah berarti “nilailah tinggi”. Ini adalah arti yang konkret. Mengapa? Karena ayah dan ibu dalam kewibawaan merekalah yang membesarkan dan mendidik anak-anak. Menghormati orang tua tidak dilihat dari harga/ekonomis seperti arti harafiah bahasa Ibrani “kabbed” di atas. Tetapi menghormati orang tua, hal itu karena mereka dituakan dan kewibawaan mereka sebagai orang tua dihargai. Karena itu Amsal 19:26 berkata: “Anak yang menganiaya ayahnya atau mengusir ibunya, memburukkan dan memalukan diri.”

          Efesus 6:1-18a menjelaskan beberapa hal, pertama: dalam ayat 1-4, Paulus menetapkan agar supaya anak-anak patuh dan hormat kepada orang tuanya. Penghormatan yang dimaksud Paulus di sini bukanlah sekedar penghormatan basa-basi. Paulus juga menasehatkan bapak-bapak agar jangan menyakiti hati anak-anak dengan mencari-cari kesalahan mereka, sehingga membuat mereka jengkel. Selanjutnya ada perintah untuk melatih anak-anak dalam pendidikan disiplin hidup Kristen (Yunani “paidea, artinya pendidikan dengan disiplin; “nouthesia artinya pendidikan dengan lisan). Mengapa ditujukan kepada bapak-bapak dibanding kaum ibu, hal ini dikarenakan ada semacam bakat kesabaran yang dimiliki oleh kaum ibu, sedangkan “bapak-bapak lebih mudah terbawa oleh kemarahannya.”

          Ayat 5-9, Paulus menulis tentang hamba-hamba (banyak hamba). Pada zaman Paulus ada kecenderungan dari warga negara Roma untuk bermalas-malasan. Kenyataan bahwa Roma menguasai seluruh dunia pada waktu itu sehingga menimbulkan keangkuhan pada warga negaranya dan menganggap rendah seorang yang bekerja sebagai hamba. Sehingga para hamba sering diperlakukan tidak baik, tetapi Paulus tidak menasehatkan mereka untuk memberontak; ia mau supaya mereka berlaku sebagai orang-orang Kristen yang baik. Paulus menasehatkan para hamba untuk bekerja sebaik-baiknya dengan penuh kesadaran, karena Allah langsung mengawasi mereka, bukan hanya karena adanya pengawasan dari tuannya.

          Dalam ayat 10-18a, berbicara tentang perlengkapan senjata Allah dan seruan Paulus yang terakhir. Ketika Paulus berpisah dengan para pengikutnya, ia memikirkan betapa berat perjuangan yang masih akan mereka hadapi. Ada roh-roh jahat yang melayang-layang di udara dan yang berusaha merusak iman jemaat. Yang Paulus sebutkan, seperti penguasa-penguasa, pemerintah-pemerintah dan penghulu-penghulu dunia, adalah sebutan untuk berbagai jenis roh-roh jahat itu. Dan untuk meng-hadapi peperangan itu diperlukanlah perlengkapan persenjataan seperti yang digunakan oleh para prajurit Romawi. Tetapi per-lengkapan persenjataan itu diterjemahkan ke dalam pengertian-pengertian Kristiani, yakni:

Ikat pinggang kebenaran. Ikat pinggang itu sebenarnya melekat pada seragam dan sekaligus tempat menyandangkan pedang; dengan demikian prajurit itu bebas bergerak. Tetapi orang-orang Kristen akan bergerak secara bebas dan cepat karena mereka tidak ragu lagi akan kebenaran yang ada pada dirinya, karena mengenakan ikat pinggang kebenaran.

Baju zirah keadilan. Orang yang ber-bajuzirah-kan keadilan tentu kebal terhadap serangan-serangan yang menimpanya. Tutur kata saja tak dapat menahan tuduhan-tuduhan yang dilon-tarkan atas diri kita; tetapi kehidupan yang baik tentu mampu menangkis tuduhan-tuduhan itu.

Kasut kaki. Kasut kaki atau sandal adalah perlengkapan yang dipakai oleh orang yang siap segera bergerak. Salah satu ciri Kristen ialah bahwa ia bersedia bergerak dan rela untuk mem-beritakan Injil, terutama kepada mereka yang belum pernah mendengarnya.

Perisai. Yang dimaksud oleh Paulus bukanlah perisai yang berukuran kecil, tetapi perisai besar yang berbentuk bujur yang biasa digunakan dalam perang besar.

Ketopong Keselamatan” adalah perlindungan untuk kepala, mempertahankan bagian kritis dari tubuh. Sebab kepala adalah pusat dari pikiran di mana Injil pengharapan hidup kekal ditanamkan.

“Pedang Roh” adalah Firman Allah, di mana pedang roh adalah satu-satunya senjata penyerang dalam senjata Allah, dan tidak ada senjata lain yang lebih ampuh.

Selain dari mengenakan senjata Allah maka diminta untuk berdoa dalam Roh, karena dengan berdoa maka kita mendapatkan kekuatan rohani dari Allah.

Makna dan Implikasi Firman

  • Amanat agung iman Kristen kepada setiap orang ialah di mana pun Allah menempatkan kita sebagai keluarga, maka kita harus memberlakukan kehidupan kristiani sesuai dengan kehendak-Nya.
  • Ketaatan anak-anak kepada orang tua adalah jalan untuk mencapai salah satu janji Allah, yaitu kebahagiaan dan umur panjang.
  • Menghormati orang tua berarti juga menghormati Tuhan Allah. Karena orang tua telah dipercayakan Tuhan untuk merawat, menjaga, mengajar/mendidik anak-anak.
  • Sebagai hamba, apabila mereka melakukan pekerjaan dengan baik maka mereka telah melakukannya untuk Allah.
  • Sebagai tuan, ia tetap adalah hamba Allah. Ia juga harus ingat bahwa segala yang dilakukannya tidak pernah lepas dari pengawasan
  • Iman Kristen tidak membuat kita melarikan diri dari masalah, tetapi justru mencari jalan keluar.
  • Tugas bersama keluarga Kristen ialah membangun iman dengan keyakinan penuh kepada Kristus, baik itu firman-Nya, kuasa-Nya dan janji-Nya. Beriman tidaklah cukup tanpa per-buatan. Perbuatan mana harus tercermin dalam kehidupan keluarga yang berdampak baik bagi keluarganya, khususnya sesama umatnya.
  • Gereja perlu mengupayakan katekisasi dan penggembalaan bagi keluarga-keluarga lebih khusus bagi yang bermasalah. Apalagi zaman sekarang ini ada yang memahami bahwa kebenaran tentang sesuatu hanya tergantung pada komunitas tertentu. Hal negatif seperti ini dapat menggoyahkan iman keluarga Kristen.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa pendapat saudara mengenai tanggung jawab orang tua, anak-anak, hamba-hamba dan tuan berdasarkan Kitab Ulangan 5:16 dan Efesus 6:1-9?
  2. Apa arti, maksud dan tujuan dari perlengkapan senjata Allah menurut kesaksian Efesus 6:10-16!
  3. Bagaimana cara membangun kehidupan keluarga Kristen sesuai dengan iman kepercayaan kepada Kristus, sebagai-mana yang diajarkan melalui kedua perikop pembacaan kita saat ini?

NAS PEMBIMBING: Amsal 11:29a 

POKOK-POKOK DOA     :

  • Tugas dan tanggung jawab orang tua dan anak-anak.
  • Tugas dan tanggung jawab majikan/tuan dan pekerja/ buruh/ hamba.
  • Peran Gereja dalam membangun iman Keluarga.

TATA IBADAH YANG DIUSULKANHARI MINGGU BENTUK II

NYANYIAN YANG DIUSULKAN       :

Kemuliaan Bagi Allah : KJ. No. 4 Hai Mari Sembah

Sesudah Doa Penyembahan : NNBT No. 6 Allah Bapa Yang Kumuliakan.

Pengakuan Dosa: NNBT No. 8 Banyak Orang Suka Diampuni.

Janji Anugerah Allah: NNBT No. 36 Barangsiapa Yang Percaya Kepada Tuhan.

Sesudah Puji-pujian: NKB No. 164 Kidung Yang Merdu Dihatiku.

Persembahan : NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan.

Penutup : KJ. No. 424 Yesus  Menginginkan Daku.

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here