MTPJ 12 – 18 Juni 2016

0
4901

TEMA BULANAN: “Penginjilan, Pendidikan dan Pengucapan Syukur Sebagai Sarana Kesaksian Gereja”
TEMA MINGGUAN: “Menabur Benih Injil”
Bahan Alkitab : Matius 28 : 16 – 20
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Dalam interaksi sosialnya, Gereja sering menggunakan istilah “mencari/menyelamatkan jiwa”, dan istilah itu terasa akrab di banyak kalangan/komunitas Kristen. Menjadi patut disoal perihal apakah Gereja dibenarkan menganut pemahaman “dikotomis”  (memisahkan manusia menjadi dua substansi, tubuh dan jiwa) seperti itu dalam hubungan dengan misinya, yang merupakan implementasi dari “Amanat Agung” Kristus kepada semua orang percaya?

Keseharian hidup membuktikan, tidak sedikit denominasi Gereja terjebak pada pemahaman sempit terhadap “Amanat Agung” Kristus sebatas peningkatan angka-angka statistik semata, tidak simultan berbanding lurus dengan implementasi “citra Kristus” yang nyata nampak dalam berbagai aspek kehidupan.

Perbedaan cara, sudut pandang serta tingkat pemahaman terha-dap “Amanat Agung” Kristus juga tak jarang memberi peluang terjadinya gesekan antar denominasi Kristen yang ada, bahkan tidak sedikit dari gesekan tersebut berbuah kesan negatif terhadap keberadaan/kehadiran Gereja itu sendiri.

Dalam konteks itulah tema “Menabur Benih Injil” dipilih untuk kita renungkan. Perintah untuk Pergi, Menjadikan Murid dan Membaptis sangat penting untuk dipahami dalam cakra-wala “misi Allah” dan bukan “misi gereja” secara organisatoris semata.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ayat 18), merupakan sebuah proklamasi, bahkan dapat juga dipahami sebagai legitimasi dari misi/perintah yang mengikuti kalimat tersebut (Pergi, Menjadikan Murid dan Membaptis). Segala kuasa di sorga dan di bumi menunjuk pada terbukanya jalan bagi pekerjaan pemberitaan Injil, sehingga seharusnya tidak ada keraguan apalagi rasa takut untuk melakukannya.

Kepemilikan Yesus atas segala kuasa di sorga dan di bumi juga merupakan salah satu aspek dari berita Injil yang luar biasa, yang tidak dapat diganggu gugat/dihambat/dihentikan oleh kuasa apapun.

Perintah untuk pergi, mengandung makna mengemban amanat pemberitaan Injil itu ke mana saja, diawali dengan keluar dari tempat asal kita (dapat juga dipahami keluar dari zona nyaman kita) demi tersebarnya kabar baik itu.

Menjadikan Murid, adalah misi yang harus diawali  tindakan memuridkan diri terlebih dahulu, konsistensi melakukan perintah dan ajaran Yesus, untuk kemudian berjuang demi kepantasan memuridkan orang lain.

Kata ‘baptiskanlah mereka’ baiknya dipahami sebagai tanda bahwa seseorang dihubungkan dengan kematian dan kebang-kitan Kristus, sebagai simbol seseorang dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (bnd. Rm. 6:3,4; Kol. 2:12), sebagai simbol pembebasan dari dosa dan dilibatkannya manu-sia dalam hadirnya kerajaan Allah dalam diri Kristus, yang mendatangkan syalom. Itulah sebabnya perkataan ini dihubung-kan dengan menjadi murid Kristus. Adapun menjadi murid Kristus itu berarti ‘mengajar melakukan apa yang diperintahkan oleh Kristus, bukan mengajar perintah Kristus, tetapi ‘mengajar melakukan kehendak Bapa di sorga sebagaimana diteladankan Yesus’.

Makna dan Implikasi Firman

  • Harus disadari, bahwa dalam menghayati Amanat Agungnya tersebut, Gereja sering terjebak dalam absolutisme diri, meng-klaim diri sebagai satu-saatunya cara/wahana mencapai kesela-matan kekal, sering “ditegaskan” dengan penggunaan Yoh 14:6 – “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

    “Amanat Agung Yesus Kristus juga biasanya dipahami sebagai perintah untuk mengabarkan Injil, dalam arti sempit meng-kristenkan umat lain, bahkan lebih sempit lagi menjadikan orang lain menjadi warga gereja tertentu. Pandangan ini bia-sanya disertai dengan keyakinan, bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus dan di luar Yesus Kristus manusia akan binasa. Ini bermuara pada aktualisasi misi gereja terfokus pada peningkatan jumlah umat yang dibaptis, mengesamping-kan peningkatan kualitas hidup/kesaksian keseharian mereka.

  • Tantangan yang dihadapi Gereja dewasa ini adalah melurus-kan pemahaman tentang “penginjilan” sehingga tidak terbatas pada aktifitas ibadah KPI, berkhotbah dan pelayanan pembaptisan, melainkan bagaimana secara holistik dipahami sebagai upaya memiliki kualitas hidup yang menjadi teladan “melakukan kehendak Bapa” yang dengan demikian menjadi kesaksian hidup tentang “kabar baik” itu sendiri.
  • Gereja sudah saatnya meninggalkan pandangan yang melihat pembaptisan sebagai “klimaks” dari tugas kesaksian dan mulai memandang “syalom” dan “Kerajaan Allah” sebagai kondisi-kondisi yang harus terlihat/terasa nyata lewat kehadiran dan kesaksian Gereja.
  • Semua warga Gereja pada dasarnya memiliki/mengemban tanggung jawab yang sama, yaitu sebagai murid Yesus bersaksi tentang apa yang diajarkan dan diperintahkan Yesus, yang nyata lewat pola hidup yang menggambarkan “Citra Kristus” dalam segala aspek.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa yang kita pahami tentang menabur benih Injil dihubungkan dengan perkataan Yesus pada ayat 18-20?
  2. Apa sajakah yang harus dimiliki seseorang yang mengaku percaya dalam rangka “memuridkan” orang lain?
  3. Menurut pemahaman saudara, apakah yang menjadi tujuan Gereja memberitakan Injil?

POKOK-POKOK DOA:

  • Setiap warga gereja semakin memahami panggilan dan tanggung jawabnya dalam Amanat Agung Gereja.
  • Gereja (melalui kualitas hidup umat) semakin menampakkan buah dari Injil yang diberitakan/disaksikan.
  • Api Roh Kudus tetap menyemangati perjuangan Gereja bersekutu, bersaksi dan melayani.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Panggilan Beribadah : NKB No. 3 Terpujilah Allah

Nas Pemb/Nyanyian Masuk : NNBT No. 3 Mari Kita Puji Allah

Pengakuan Dosa & Pemb Anugerah Allah: NNBT. 8 Banyak Orang Suka Diampuni

Ses Pengakuan Iman : KJ No. 38. T’lah Kutemukan Dasar Kuat

Ses Hukum Tuhan: NKB No. 73 Kasih Tuhanku Lembut

Ses. Pembacaan Alkitab: KJ No. 49 Firman Allah Jayalah

Persembahan  : NNBT. 20. Kami Bersyukur Pada-Mu, Tuhan.

Nyanyian Penutup: KJ No. 425 Berkumandang Suara Dari Seberang

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

Stola minggu-minggu sesudah Pentakosta dan Epifani

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here