MTPJ 14 – 20 Februari 2016

0
5062

TEMA BULANAN: “Pemulihan Dunia”
TEMA MINGGUAN: “Mengalami Sengsara Untuk menyelamatkan Orang Sengsara”
Bahan Alkitab : Ayub 36:1-15
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Dunia modern sekarang ini menampilkan kemajuan di segala bidang kehidupan yang dengan mudah dapat dinikmati oleh manusia dihubungkan dengan kebutuhannya. Namun dalam realita berbagai kemudahan yang dinikmati tidak saja menyenangkan hati dan membuat orang berbahagia, tetapi nyatanya juga bagi sebagian orang kondisi sekarang ini menyisakan penderitaan atau sengsara. Sebab semakin lebar jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin. Bahkan sering terdengar ”Yang kaya dan bermodal semakin kaya dan berjaya, sedangkan yang miskin semakin terpuruk dan tidak berdaya”. Ketidakseimbangan itu mestinya mengetuk hati orang yang mampu untuk prihatin dan berbuat sesuatu bagi mereka yang mengalami penderitaan atau sengsara, sehingga paling kurang mereka pun dapat terbantu untuk keluar dari kondisi mereka yang menyengsarakan. Namun rasanya kepri-hatinan itu terlalu sulit untuk dilakukan seiring dengan sema-kin bertumbuhsuburnya individualisme atau mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kalaupun upaya itu dilakukan tidak jarang hanya karena ada maksud-maksud tertentu, seperti: ”memenangkan pilihan kepada seseorang”. Itu dikenakan kepada orang yang mampu dan hidup senang. Lalu bagaimana jika bantuan itu diharapkan dari orang yang hidup sengsara? Jelas keprihatinan darinya tidak mungkin diharapkan, ”itu kata dunia”. Lalu muncul pertanyaan: Apakah memang demikian?. Karena itu, memasuki Minggu-Minggu Sengsara Yesus, khususnya Minggu Sengsara I, maka ditampilkan tema: ”Mengalami Sengsara Untuk Menyela-matkan Orang Sengsara”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Ayub dilatarbelakangi oleh kisah kuno tentang Ayub yang hidup di tanah Us. Cerita semacam ini sudah dikenal di daerah Mesopotamia dan sekitarnya antara tahun 2100 – 1800 Sebelum Masehi. Kisah ini kemudian diangkat oleh penulis Kitab Ayub antara Abad ke-7 (mungkin juga sebe-lumnya) sampai Abad ke-3 Sebelum Masehi. Tujuannya untuk menjawab pertanyaan mengapa orang benar menderita. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia dikaruniai Tuhan 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan dangan harta kekayaan yang berlimpah. Sebagai orang tua beriman ia sangat memperhatikan kesejahteraan rohani dari anak-anaknya.

Penderitaan dan kesengsaraan Ayub dimulai ketika semua kekayaannya dirampas oleh orang Syeba dan anak-anaknya mati (Pasal 1). Sengsara Ayub semakin bertambah ketika Allah mengizinkan iblis untuk menguji imannya di mana kesehatannya terganggu oleh penyakit kulit yaitu barah yang busuk di sekujur tubuhnya. Sengsaranya semakin menjadi-jadi sebab istrinya tidak menunjukkan rasa sepenanggungan dalam derita, tetapi justru meminta Ayub untuk mengutuk Allah yang dia percaya. Dalam sengsaranya, maka hadirlah ketiga sahabatnya Elifas, Bildad dan Zofar (Pasal.2). Kehadiran ketiga temannya bukanlah prihatin dengan sengsara Ayub, tetapi malahan mempersalahkannya. Sedang-kan Ayub sendiri menganggap ia benar di hadapan Allah, sehingga sengsara tidak patut diterimanya.

Dalam kondisi seperti itu maka hadirlah Elihu (bah. Ibrani artinya: “Dialah Tuhanku”) seorang penasehat/tokoh baru setelah dengan panjang lebar ketiga temannya memberi nasehat atas sengsara yang dialami Ayub. Padahal sebelum-nya, Elihu menahan diri untuk mengemukakan pendapatnya karena merasa lebih muda dari teman-teman Ayub dan Ayub sendiri (Pasal 32).

Menurut Elihu, sesungguhnya melalui sengsara yang dialami Ayub, kebaikan Tuhan dinyatakan kepadanya. Allah menurut Elihu adalah Allah yang perkasa dalam kekuatan akal budi, tidak membiarkan orang fasik hidup, memberi keadilan kepada yang sengsara dan Allah yang setia bagi orang benar, memberi kemuliaan dan kemujuran kepada orang benar. Allah, kata Elihu, juga adalah Allah yang menuntut pertobatan dari kejahatan. Ini menjadi jalan baru bahwa kesengsaraan dan penderitaan membawa kepada jalan keselamatan (band. Ayat 15).

Makna dan Implikasi Firman

  • Gereja sebagai persekutuan Kristiani memasuki Peringatan Minggu-Minggu Sengsara Yesus Kristus khususnya Minggu Sengsara Sebagai orang percaya di dunia ini tidaklah sepi dari sengsara atau penderitaan. Secara sederhana paling kurang ada tiga faktor penyebab kita mengalami kesengsaraan dalam kehidupan: Pertama, disebabkan oleh ulah sendiri. Faktor ini sebagai kelan-jutan dampak kejatuhan Adam dan Hawa. Ketika dosa memasuki dunia, penyakit, kesusahan dan pertikaian datang melanda dan akhirnya kematian memasuki semua manusia.
  • Kedua, disebabkan karena ulah orang lain, setidak-tidaknya dialami oleh batin. Faktor itu dapat terjadi karena kita orang percaya hidup di dalam dunia yang berdosa dan jahat, di samping ada juga orang-orang yang terpolusi dengan kejahatan sebagai dampak dosa, berimpilikasi pula pada tindakan yang semena-mena kepada sesama. Sementara itu juga kita menyaksikan kesusahan dan penderitaan yang dialami oleh sesama di sekeliling kita.
  • Ketiga, Allah dapat memakai penderitaan atau kesengsaraan orang percaya, sebagai sarana pertumbuhan iman. Bahkan Ia juga mengizinkan iblis untuk menguji kesetiaan iman Ayub. Dalam realita Ayub seorang yang saleh, jujur dan takut akan Tuhan tidak goyah imannya ketika mengalami kesengsaraan, bahkan kesengsaraan yang dialaminya telah bermakna keselamatan bagi orang-orang sengsara.
  • Ilah zaman Ayub terus-menerus menguasai dunia kita juga di zaman modern ini yang tidak saja menawarkan hal-hal positif yang sesuai dengan keyakinan iman kita, tetapi juga hal-hal negatif dengan berbagai kejahatan yang menyengsarakan hidup. Kalau pun kita mengalami penderitaan atau sengsara, kita harus tetap setia dan terus-menerus bertekun dalam iman kepada Kristus dan tidak tergoda dengan ikut-ikutan dalam kejahatan dunia. Sebab untuk keselamatan kita manusia, maka Yesus Tuhan kita telah mengalami sengsara dalam hidup-
  • Hal itu juga menjadi alasan dari Rasul Paulus untuk mengucap syukur kepada Allah, karena kepelayanannya dan teman-temannya memperoleh bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus. Ia menasehati Jemaat Korintus agar tetap kuat beriman kepada Kristus dan sabar menderita kesengsaraan, karena keyakinan yang sungguh atas keselamatan berlimpah dari  Dia (2 Korintus.1:5-6).

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Mencermati pembacaan Alkitab kita saat ini, apakah makna kesengsaraan yang dialami Ayub menurut bacaan ini?.
  2. Daftarkan berbagai bentuk kesengsaraan yang dialami oleh sesama di sekitar kita. Dan tindakan apa saja yang dapat kita lakukan kepada mereka ?

NAS PEMBIMBING: 2 Korintus 1:5-6 

POKOK-POKOK DOA:

  • Sesama kita yang mengalami berbagai bentuk keseng-saraan hidup
  • Gereja dalam tanggungjawab Am dan Rasuli yang memotivasi penghayatan Minggu Sengsara Yesus 1, untuk membebaskan dan menyelamatkan mereka yang mende-rita sengsara dalam berbagai bentuk, sehingga merekapun mendapat bagian berlimpah dalam kesengsaraan
  • Pemerintah dalam tanggungjawab untuk menyejahterakan setiap warga termasuk mereka yang menderita sengsara oleh berbagai bentuk, agar dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU SENGSARA 1 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan:  KJ.No.460 Jika Jiwaku Berdoa

Ses Nas Pemb/Nyanyian Masuk: KJ.No.332 Kekuatan Serta Penghiburan

Pengakuan Dosa: NKB No.10 Dari Kungkungan Malam Gelap

Berita Anugerah Allah: NNBT No.9 Ku Akan Selalu Bersyukur

Ajakan Untuk Ikut Yesus Di Jalan Sengsara: NKB.No.125 Ku dengar Panggilan Tuhan

Persembahan:  KJ.No.181 Yang Sengsara Itulah

Penutup: KJ.No.376 Ikut Dikau Saja Tuhan

ATRIBUT:

Warna dasar ungu dengan simbol XP (Khi-Rho), cawan pengucapan, salib dan mahkota duri.

Perayaan_Minggu-minggu_Sengsara

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here