MTPJ 14 – 20 Juni 2015

0
5104

TEMA BULANAN: “Penginjilan dan Pendidikan Sebagai Upaya Membangun Solidaritas Kebangsaan”
TEMA MINGGUAN: “Menerima Didikan Tuhan”
Bahan Alkitab: Ayub 5:17-18; Kolose 1:19-23

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Mencermati meningkatnya jumlah kriminalitas, perceraian, peng-guna narkoba, HIV/AIDS di daerah kita, banyak yang mengata-kan bahwa salah satu penyebabnya adalah terabaikannya pendidikan. Karena pendidikan sekarang ini hanya menekankan pada aspek kognitif semata, yang bermuara pada transfer ilmu, nilai dan angka kelulusan, bukannya pada pembentukan karakter.

Di samping itu ada pepatah lama yang mengatakan “di ujung cemeti ada emas”. Ungkapan ini melukiskan maksud/tujuan baik dari pendidikan ataupun pengajaran, kendati harus melalui proses yang sukar. Tentu saja pengertian cemeti di sini tidak selalu harus diartikan sebagai tindakan kekerasan dari pendidik kepada anak didik, melainkan sebagai bentuk pembinaan disiplin. Tidak sedikit anak yang sulit mengerti maksud di balik tindakan orang tua yang disiplin. Demikian pula manusia di hadapan Allah. Terkadang kita kecewa dan marah karena kita tidak mampu memahami ajaran/didikan Tuhan kepada kita. Di bulan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen ini, kita diajak untuk merenungkan sejauh mana pendidikan Kristen telah dilaksanakan dan memberi dampak dalam kehidupan berkeluarga, berjemaat dan bermasyarakat.

Mengacu pada pembacaan Alkitab Ayub 5:17, 18 dan Kolose 1:19-23 maka sepanjang minggu ini kita akan memahami cara Allah yang yang penuh kuasa dan kasih menjalankan pengajaran-Nya dalam sorotan tema:  “Menerima Didikan Tuhan”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Ayub 5:17-18

Kitab Ayub mencoba menjawab pertanyaan utama yaitu mengapa orang benar mengalami penderitaan?  Yang menarik dalam kitab Ayub adalah pemahaman tentang cara Tuhan yang  mendidik Ayub melalui penderitaan. Ayub yang saleh dan hidup dekat dengan Tuhan mengalami penderitaan beruntun: ke-hilangan harta benda, kehilangan anak-anaknya serta mengalami penyakit yang menjijikkan pada sekujur tubuhnya (pasal 1-2).

Perkataan Elifas dalam Ayub 5:17, 18 yang menasihatkan Ayub untuk menerima didikan Tuhan sebagai bentuk kasih-Nya, memiliki tendensi di mana mereka melihat bahwa tidak mungkin Ayub tidak melakukan keselahan sampai keadaannya menjadi seperti itu. Mereka yakin bahwa Tuhan Allah sedang menegur untuk meluruskan jalan Ayub dan membawanya pada kebahagiaan. Walaupun Tuhan Allah melukai tetapi Dia yang akan membebat (membalut) (ayat 18a), yang memukul, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula (ayat 18b). Tindakan-tindakan Allah yang Mahakasih begitu tidak terselami. Itulah yang terjadi pada Ayub. Sekalipun ia tidak melakukan kesalahan tetapi ternyata ia pun menanggung penderitaan yang sangat berat. Meskipun demikian Ayub tetap taat, karena didikan Tuhan Allah harus dapat diterima, dijabarkan, bukan dipertanyakan atau digugat.

Bagian Alkitab ini memberi penjelasan untuk menjawab didikan Tuhan dengan ketaatan. Kekayaan hikmat-Nya yang luar biasa melalui kasih dan kuasa-Nya, ketegasan dan kelemahlembutan-Nya hanya dapat dipahami dengan berusaha mengetahui kehen-dak Allah. Ayub mewakili orang di zamannya yang mencoba menyelami didikan Allah dari cara manusia memandang Allah, namun pada akhirnya semua upaya mereka begitu jauh dari kesempurnaan akan pengetahuan tentang Allah. Singkat kata yang mereka pahami tentang Allah masih terlalu jauh untuk menggambarkan Dia dalam kesempurnaan-Nya. Hikmat manusia dari zaman ke zaman yang membicarakan tentang Allah hanya-lah usaha kecil dari pekerjaan yang tak dapat dilakukan sem-purna untuk menyelami Allah. Teologi haruslah tetap merupakan kajian yang hidup dan terus menerus untuk memahami maksud dan kehendak-Nya. Karena banyak orang yang berpikir telah mengenal Allah seperti Ayub maupun teman-temannya bahkan orang sezamannya, tetapi sesungguhnya seperti kata Ayub, ”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. (Ayub 42:5).

Kolose 1:19-23

Dalam bagian Alkitab ini Paulus sangat menekankan bahwa keunggulan dan keutamaan Kristus menjadi modal utama dalam pendidikan iman orang percaya. Dalam ayat 23 menekankan fungsi dan tujuan pendidikan Kristen dapat lebih memberikan alasan mengapa kita taat menerima kehendak/didikan Tuhan. Profil Yesus yang digambarkan Paulus kepada jemaat Kolose menggambarkan bahwa Dia menang atas segala kekuatan yang ada pada waktu itu (pemerintah-pemerintah dan penguasa, ayat 15). Paulus menghadapkan antara fakta kematian Yesus dan kebangkitan-Nya yang membuat Kristus memiliki kuasa untuk menjalankan pemerintahan-Nya. Kemenangan-Nya telah terbukti lewat kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Yesus mati di kayu salib untuk mengalahkan kematian dan memungkinkan semua orang “dibenarkan” yakni diterima oleh Allah (ayat 20), kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya (ayat 22). Kalau sebe-lumnya para imam mengorbankan seekor hewan dan memer-cikkan darahnya pada tutup pendamaian (Imamat 16:14-16), maka dalam kematian Yesus yang melaksanakan pengorbanan itu adalah Allah sendiri dengan mencurahkan darah putera-Nya yaitu Yesus Kristus.

Cara untuk mengakui keutamaan dan keunggulan Kristus adalah melaksanakan kehendak-Nya dengan taat dan setia. Sebagai-mana Kristus telah mendamaikan manusia dengan Allah maka efek pendamaian inilah yang juga mendidik manusia untuk berdamai dengan sesama dan memupuk solidaritas dengan sesama anak bangsa.

Makna dan Implikasi Firman

Ada berbagai pertanyaan yang muncul disekitar pende-ritaan orang kristen seperti :

  • Apakah selama ini kita dapat memahami kebaikan Allah di balik penderitaan hidup kita.
  • Bagaimanakah sikap kita selama ini dalam menerima didikan Tuhan? apakah kita tetap taat?
  • Mengapa ada pergumulan dan penderitaan kalau Allah Mahakasih dan baik bagi umat-Nya? Jawaban-jawaban manusia atas berbagai tantangan ini menunjukkan respon manusia dalam kebebasannya, ada yang menyambut dengan baik tetapi ada juga yang malah menyimpang dari kehendak-Nya.

Alasan kita untuk taat sepenuhnya pada didikan Tuhan adalah kebaikan-Nya. Hakekat-Nya sebagai Allah yang baik yaitu dengan mengorbankan putera tunggal-Nya untuk keselamatan kita manusia dan alam semesta. Allah yang kita taati adalah Allah yang telah menyatakan kehadiran-Nya lewat Yesus Kristus yang keutamaan-Nya telah dibuktikan melalui kematian dan kebang-kitan-Nya.

Banyak orang yang merasa memahami kehendak Allah tetapi sebenarnya perlu belajar terus memahami Dia dalam tindakan-tindakan-Nya yang mendidik umat-Nya. Pemahaman kita akan didikan-Nya ibarat sebuah perjalanan yang harus disempurnakan setiap zaman. Sepanjang zaman manusia akan terus belajar tentang kehendak (didikan) Tuhan. Apabila kita memahami hakikat kebaikan Allah maka kita tidak akan menolak didikan Tuhan. Kita percaya bahwa segala sesuatu yang dikerjakan-Nya mendatangkan kebaikan bagi kita. Bukan tanpa maksud Allah menegur kita dan mengingatkan kita agar terus berharap dan memohon pertolongan-Nya. Bukan tanpa maksud orang tua menerapkan didikan tegas untuk mengarahkan anak-anaknya pada kebaikan hidup. Persoalannya apakah kita benar-benar memahami maksud Allah yang baik itu? Kalau kita yakin akan keutamaan Kristus dapat menyelamatkan kita melebihi kuasa apapun di dunia ini, maka kita tidak akan menolak didikan Tuhan karena percaya bahwa didikan-Nya dan seluruh pengaturan Allah bagi kita baik adanya.

Di bulan pekabaran injil dan pendidikan Kristen ini kiranya kita selalu terarah untuk memahami didikan Tuhan agar hidup kita selalu berpadanan dengan injil Kristus. 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Bagaimana memahami didikan Tuhan menurut Ayub 5:17, 18 dan Kolose 1:19-23?
  2. Apa saja yang dapat kita lakukan supaya Pelayan Khusus dan jemaat taat dan melaksanakan didikan Tuhan? 

NAS PEMBIMBING : Roma 8:28

POKOK-POKOK DOA

  • Bagi mereka yang tergoncang imannya ketika menghadapi penderitaan
  • Bagi mereka yang mengalami penderitaan oleh sistem di tengah masyarakat
  • Bagi upaya pendampingan untuk memulihkan pribadi, keluarga dan komunitas yang kehilangan fungsi sosialnya karena berbagai pergumulan 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Persiapan : NKB No. 3 Terpujilah Allah

Ses. Doa Penyembahan: NNBT No. 4 Naikkan Doa Pada Allah

Pengakuan Dosa dan Janji Anugerah: NKB  No.17 Agunglah Kasih Allahku

Sesudah Pengakuan Iman: KJ. No. 370 Kumau Berjalan Dengan Juruselamatku

Sesudah Khotbah: NKB No. 129 Indah Mulia

Persembahan  : NKB No. 183 Dulu ‘Ku Mencari

Penutup: NKB No. 163 Tak Mudah Jalanku

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here