MTPJ 16-22 Juni 2013

0
1553

Tema Mingguan: Anak-Anak penentu masa depan

Tema Bulanan: Gereja yang misioner dan transformasi sosial

Bahan Alkitab:

  • Markus 10:13-16
  • 1 Samuel 1:19-28

ALASAN PEMILIHAN TEMA
Anak adalah pemberian Tuhan, karena itu harus dipelihara dengan penuh kasih sayang, dididik sesuai iman Kristen dan disekolahkan agar memiliki masa depan yang baik. Tema GMIM Minggu ini: “Anak-anak penentu Masa Depan”. Melalui tema ini mengingatkan dan mengajak semua komponen anak bangsa terutama warga GMIM untuk lebih serius dan sungguh-sungguh memperhatikan anak-anak. Mengingat ada begitu banyak anak yang diterlantarkan, tidak disekolahkan, trafficking anak dan diekploitasi (dimanfaatkan oleh orang dewasa).

     Sebagai warga Negara dan warga gereja yang baik tentu kita sangat mengharapkan agar Negara kita terus maju dalam semua aspek pembangunan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, demikian juga gereja. Gereja harus bertumbuh dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia yaitu: kasih, keadilan, dan damai sejahtera. Misi ini tidak boleh berhenti di satu generasi tetapi harus terus berkesinambungan sepanjang masa. Agar terus berkesinambungan, maka anak-anak sebagai penentu masa depan harus mendapat perhatian yang baik.

Tema: Anak-anak penentu masa depan yang dibahas dalam sorotan pembacaan Markus 10:13-16 dan 1 Samuel 1:19-28, dapat memberi pemahaman kepada Gereja untuk lebih memperhatikan anak-anak seperti Yesus.

 

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (exegese)
Dalam Markus 10:13-16, Murid-murid Tuhan Yesus sekalipun selalu bersama-sama dengan-Nya tetapi masih banyak hal yang belum mereka ketahui terutama mengenal misi-Nya. Sehingga terkadang mereka keliru mengambil sikap. Karena ada pemahaman waktu itu bahwa anak-anak dan perempuan dipandang sebagai warga kelas dua. Maka rasa hormat dan segan mereka terhadap-Nya membuat mereka begitu selektif menerima orang-orang yang datang kepada-Nya. Anak-anak kecil termasuk orang-orang yang dipandang belum waktunya di bawah kepada Yesus. Itulah sebabnya ketika orang-orang membawa anak kecil kepada-Nya mereka memarahi dan melarangnya (ayat 13).

     Melihat sikap dari murid-murid-Nya, Yesus marah kepada mereka (ayat 14). Kata mereka dalam bahasa asli Alkitab (Yunani: Aganakatein). Kata ini menunjuk bukan hanya marah dalam arti biasa tapi sangat marah. Jadi dalam hal ini Yesus tidak hanya marah tetapi, “sangat marah” karena sikap murid-murid-Nya itu. Reaksi Yesus begitu keras kepada mereka karena apa yang dilakukan mereka bertentangan dengan keinginan-Nya. Yesus menginginkan agar anak-anak sejak kecil sudah dibawah kepada-Nya (ayat 14) sedangkan murid-muridnya menganggap anak-anak kecil belum waktunya dibawa kepada Yesus. Yesus menginginkan demikian karena baginya anak-anak adalah orang-orang yang termasuk pewaris (punya hak) atas kerajaan Allah (ayat 14). Sebagai pewaris Kerajaan Allah, maka sewajarnya jika mereka mengetahui pemilik Kerajaan Allah dan hidup sebagai warga Kerajaan Allah. Di samping itu ada ungkapan dari seorang filsuf/psikolog John Lock mengatakan anak-anak ibarat seperti selembar kertas putih yang terbuka dan siap ditulis apa saja. Jika ditulis hal-hal baik maka hal itulah yang diterima dan tertanam di dalam pikiran mereka demikian sebaliknya. Dalam pemahaman ini kita melihat betapa pentingnya anak-anak diperhatikan seperti yang Yesus inginkan agar anak-anak sejak kecil sudah dibawa kepada-Nya supaya sejak kecil sudah dibawa kepada-Nya supaya sejak kecil mereka sudah mengenal DIA dan hidup dalam DIA sebagai anak-anak yang empunya Kerajaan Allah.

     Dalam 1 Samuel 1:19-28, Elkana dan hana adalah suami istri yang hidup di zaman hakim-hakim. Mereka sudah lama belum dikaruniai anak. Akibatnya Elkana mengambil Penina sebagai isterinya yang ke-2. Hal ini di zaman itu bukan merupakan penyimpangan (band. Kejadian 16:3). Bersama Penina, Elkana memperoleh anak sedangkan Hana belum dikaruniai anak. Karena itu dia putus-putusnya berdoa memohon seorang anak kepada Tuhan. Sekali waktu, ia menghadap Imam Eli di Silo dan berdoa memohon anak kepada Tuhan sambil bernazar “Jika Tuhan memberikan ia seorang anak laki-laki, ia akan menyerahkan anaknya kepada Tuhan seumur hidupnya (1 Samuel 1:11). Doanya dikabulkan oleh Tuhan, ia mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel (ayat 20).

     Sesuai kesepakatan Hana dan Elkana bahwa mereka akan membawa dan menyerahkan anak mereka kepada Tuhan melalui imam Eli di Silo jika anak mereka sudah cerai susu (ayat 22). Di zaman itu biasanya anak cerai susu pada usia 3 tahun. Jadi dapat dikatakan hana dan Elkana membawa dan menyerahkan anak mereka kepada Tuhan di usianya yang ke 3 tahun. Usia 3 tahun bagi seorang anak dapat dikatakan sudah mulai mengerti walaupun baru sedikit-sedikit karena itu sudah dapat diberikan pengajaran-pengajaran sesuai dengan umurnya.

Penyerahan Samuel kepada Tuhan melalui Imam Eli yang ada di Silo pada waktu itu menggambarkan.

  • Lembaga keagamaan dipercaya sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk mentransformasikan nilai-nilai iman kepada umat Tuhan, termasuk anak-anak kecil.
  • Karena itu lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab besar dalam pembentukan karakter sebagai umat Tuhan.

Kesadaran dan tanggung jawab lembaga keagamaan pada waktu itu ternyata sangat berpengaruh dan mempengaruhi Samuel dalam pembentukan karakternya sebagai umat Tuhan. hal ini terbukti bahwa Samuel setelah dewasa ia menjadi iman, hakim dan nabi yang begitu terkenal di zamannya.

Makna dan Implikasi Firman
Hana dan Elkana dalam 1 Samuel 1:19-28 demi masa depan yang baik dari anak mereka Samuel maka mereka memberikan pendidikan khusus kepadanya melalui imam Eli yang ada di Silo. Berkat pendidikan khusus ini maka Samuel dikemudian hari menjadi seorangt imam, hakim dan nabi yang sangat terkenal di zamannya.

     Markus 10:13-16 menjelaskan tentang perhatian Yesus kepada “anak-anak, memeluk dan memberkati mereka”. Bahkan, Yesus menegaskan bahwa anak-anak mempunyai masa depan yang indah dengan mengatakan merekalah yang empunya Kerajaan Allah.

     Dari kedua perikop ini mengangkat dua tokoh yang sangat memiliki perhatian terhadap anak. Tokoh pertama yaitu Yesus. Dalam Markus 10:13-16 digambarkan bagaimana Yesus di tengah-tengah kesibukan-Nya mengajar dan berkhotbah tetapi ketika orang-orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya, Ia menyambut mereka dengan sukacita. Sebaliknya Ia memarahi murid-murid-Nya karena mereka melarang orang-orang membawa anak-anak kecil kepada-Nya. Perhatian Yesus yang begitu besar terhadap anak-anak memberi teladan kepada gereja baik secara institusi maupun pribadi agar di tengah-tengah kesibukan tetap memberi perhatian terhadap anak-anak. Hal ini penting, mengingat banyak orang tua yang berhasil meraih karir dan sukses dalam usaha tetapi gagal dalam pendidikan anak. Akibatnya, mereka terjerumus dalam penggunaan obat-obat telarang, pergaulan bebas, tawuran dan lain-lain.

     Di dunia yang sudah semakin canggih saat ini, sangat diharapkan gereja semakin memberi perhatian terhadap anak-anak melalui membangun hubungan dan komunikasi yang baik. Seperti yang dilakukan oleh Yesus terhadap anak-anak. Ia memeluk dan memberkati mereka bahkan menyatakan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Allah. Dalam hal ini Yesus menegaskan bahwa anak-anak memiliki masa depan yang baik sebagai pewaris dan pemilik Kerajaan Allah.

     Tokoh kedua yaitu Hana, seorang ibu yang sungguh-sungguh meyakini bahwa anaknya Samuel adalah pemberian Tuhan baginya. Karena itu, ia bernazar bahwa anaknya akan diserahkan seumur hidupnya kepada Tuhan untuk dipakai oleh Tuhan. Mewujudkan keinginannya maka, ia menyerahkan anaknya setelah berusia 3 tahun kepada Imam Eli yang ada di Silo untuk mendapatkan pendidikan iman secara khusus dalam membentuk karakter sebagai seoarang hamba Tuhan yang setia. Dalam hal ini hana memberi teladan yang baik pula kepada kita selaku orang tua dalam hal meyakini bahwa anak adalah pemberian Tuhan.

Pengakuan ini memotivasi dan menimbulkan kesadaran.

  • Anak harus dipelihara dengan penuh kasih sayang.
  • Anak jangan disia-siakan atau dilecehkan (seperti HAM untuk anak-anak dan perilaku dari murid-murid Yesus, Markus 10:13b).
  • Anak harus dididik sejak kecil untuk mengenal Tuhan, sehingga mereka akan percaya Tuhan mengasihi Tuhan dan hidup takut akan Tuhan.
  • Anak harus dipersiapkan dengan baik (termask di sini katekisasi sebelum baptisan perlu mendapat perhatian khusus) agar mereka mampu berperan aktif dan positif dalam kehidupan gereja dan masyarakat di masa depan.

 

PERTANYAAN DISKUSI

  • Bagaimana sikap Yesus dan Hana terhadap anak berdasarkan perikop Markus 10:13-16 dan 1 Samuel 1:19-28?
  • Bagaimana sikap orang tua, gereja dan pemerintah terhadap anak selama ini?

NAS PEMBIMBING: Ulangan 6:6-7

POKOK-POKOK DOA

  • Orang tua supaya diberikan kesadaran untuk memelihara anak-anak, mendidik anak dalam Iman dan menyekolahkan anak.
  • Untuk anak supaya diberikan kesadaran untuk, takut akan Tuhan, menghormati orang tua, dengar-dengar dan taat pada nasihat orang tua dan rajin belajar di sekolah.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: Hari Minggu Bentuk III

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Persiapan: KJ No.252:1
Sesudah Nas Pembimbing: KJ No.362:1
Pengakuan Dosa: KJ No.29:1
Berita Anugerah Allah: KJ No.178
Persembahan: KJ No.367
Penutup: KJ No.424

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here