MTPJ 19 – 25 Juni 2016

0
4692

TEMA BULANAN:“Penginjilan, Pendidikan dan Pengucapan Syukur Sebagai
Sarana Kesaksian Gereja”
TEMA MINGGUAN: “Hikmat Yang Membangun”
Bahan Alkitab : Amsal 9:1-18

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Laju perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi ser-ta pluralitas kehidupan telah menyebabkan munculnya berbagai ketegangan sosial (konflik agama, suku, ekonomi dan politik) yang berdampak pada aspek moralitas (tingkah laku) individu maupun masyarakat. Kurangnya perhatian kepada pendidikan yang ber-basis karakter untuk membangun moral, etik spiritual individu dan masyarakat akan memperluas perilaku menyimpang dan rusak-nya tatanan kehidupan. Masalah korupsi, narkoba, pelacuran, perselingkuhan, perceraian, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan lain-lain adalah tanda dari perilaku yang menyim-pang sebagai akibat kurangnya perhatian pada aspek pendidikan karakter.

Untuk itu pendidikan dan pengajaran hikmat yang mem-bangun sangat diperlukan oleh semua orang terutama generasi muda (anak-anak, remaja dan pemuda) dalam membangun si-kap hidup berkarakter takut akan Tuhan merupakan tugas pang-gilan gereja.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Situasi sosial dan ekonomi yang porak poranda, tekanan kekuasaan, budaya dan pendidikan asing yang sekuler (duniawi) sesudah pembuangan, dipandang sebagai ancaman serius yang dapat menghancurkan moralitas, iman dan citra umat Allah. Berhadapan dengan kondisi ini mendorong para guru hikmat untuk menggali dan merumuskan bahan-bahan  pengajaran dan pendidikan (hikmat teologis) yang sangat diperlukan untuk menjaga dan menegakkan moral-etik spiritual yang khusus. Hikmat yang membangun adalah perbuatan seseorang yang peduli dan penuh komitmen  untuk memelihara citra sebagai umat yang taat, adil, jujur, benar dan setia kepada Tuhan.

Amsal 9 : 1-18 merupakan suatu cara penyampaian peng-ajaran hikmat yang kreatif dengan menampilkan hikmat sebagai personifikasi (oknum) perempuan bijaksana, (Ibr = Hokhmot; asal kata hokma; kata benda feminin) yang memiliki kepedulian yang tulus berprakarsa mendirikan rumah (Ibr = Bayit) dengan  tujuh tiang, suatu gambaran rumah yang besar dan kuat  yang berfungsi sebagai rumah atau rumah pendidikan. Ia juga sosok pekerja keras, gigih, ulet dan rajin. Hal itu diperlihatkan dengan pekerjaan mengolah ternak sembelihannya, anggurnya, suatu hidangan yang sehat yang khusus. Makanan itu bergizi dan sangat dibutuhkan manusia supaya hidup sehat, deskripsi tentang kualitas bahan pendidikan hikmat untuk mem-bangun karakter generasi muda yang berkualitas. Rumahnya, tiangnya, ternak sembelihannya, anggur­, dan hidangannya ada-lah suatu lukisan tentang keautentikan bahan pengajaran dan rumah sebagai sarana prasarana pendidikan  hikmat (ayat 1,2).

Perempuan bijaksana ini mengutus para pelayan perempuan yang taat dan setia, menggambarkan sebuah gerakan kaum perempuan yang sungguh-sungguh peduli terhadap pendidikan moral. Mereka berseru-seru di tempat-tempat yang tinggi di kota, sebagai gambaran tempat strategis untuk mengundang semua orang terutama orang-orang muda; “yang tak berpengalaman” (Ibr: pethayim = orang yang belum menerima pendidikan yang cukup atau orang mudah menerima pengaruh dari lingkungan-nya) dan “yang tidak berakal budi” (Ibr: hasarlev = orang yang tidak baik karakter moralnya). Kepada orang-orang muda itu diundang dan diperintahkan oleh hokhmot dan pelayan-pela-yannya (Ibrani: Na-roteha) untuk makan roti dan minum ang-gur. Roti (Ibr: Lehem) adalah makanan rohani atau pengajaran moral dan intelektual yang berguna bagi pembentukan karakter hasarlev. Anggur yang khusus itu adalah minuman rohani yang memberi pengertian/pengetahuan (hokhma) kepada pethayim.  Bagi orang-orang muda yang menerima, dan taat kepada un-dangan dan perintah dari hokhmot dan naroteha akan beroleh hidup (intruksi-causatif-intruksi). Sebaliknya orang yang tidak taat (menolak) perintah hikmat akan menjadi pribadi yang mati atau amoral (ayat 3-6).

Dua karakter yang berbeda ini semakin dipertajam: orang bodoh, amoral, dan menolak undangan hikmat dikelompokkan sebagai pencemooh (Ibr: =Lets) dan fasik. Pencemooh adalah orang yang tidak terpelajar, membenci hikmat, menolak prinsip kehidupan yang baik. Fasik adalah orang yang bertabiat melakukan kejahatan secara terang-terangan melawan keadilan dan kebenaran. Keduanya digolongkan sebagai orang-orang sulit, tertutup, keras hati dan keras kepala (ayat 7). Sebaliknya orang yang menerima pengajaran hikmat akan menjadi orang bijak bersifat mengasihi, suka belajar, terbuka terhadap nasehat atau kritik untuk membangun karakter dirinya menjadi lebih berkualitas (ayat 8-9), identik sebagai orang benar dan berpengetahuan luas.

Karakter orang yang menerima pengajaran (ayat 7-9) sejatinya akan mendasarkan hidupnya pada takut akan Tuhan dan untuk tujuan mengenal yang Maha Kudus. Kata “permulaan”(Ibr: Resyith); mengandung arti  dasar atau awal dan unsur utama  atau tujuan pengajaran hikmat). Karena itu orang  berhikmat yaitu orang beriman (percaya dan taat kepada yang Maha Kudus) akan beroleh umur panjang, dan mengalami  tahun-tahun hidup yang berkuallitas, jasmani maupun rohani. Hikmat memiliki kewibawaan ilahi (ayat 10-11).

Amsal 9 : 12, bagaikan garis pembatas yang  membedakan kon-sekwensi orang berhikmat dan pencemooh. Orang pencemooh akan menghadapi konsekwensinya sendiri (ayat 12b), yaitu hidup dalam bayang-bayang kehancuran dan kematian. Karena itu peri-laku pencemooh dan fasik disejajarkan dengan perilaku perem-puan asing atau pelacur yang berkarakter seperti perempuan bebal, cerewet, bodoh (ayat 13), pemalas (ayat 14), perayu atau penggoda (ayat 15), penyesat (ayat 16), menghalalkan segala cara (ayat 17) sehingga menghancurkan dirinya dan orang lain (ayat 18).

Upaya pengajaran hikmat yang dilakukan adalah untuk memberi peringatan dan menyelamatkan generasi muda dari godaan kenikmatan-kenikmatan lahiriah, seks atau yang sejenis yang merusak moral dan menghancurkan masa depan. Orang muda yang menerima pengajaran hikmat akan mampu membedakan yang baik dan jahat tapi juga mampu terhindar dari yang jahat, mampu menjaga dirinya (ayat 12a).

Makna dan Implikasi Firman

Gereja sebagai perwujudan rumah Allah yang didirikan oleh Yesus Kristus harus menyediakan makanan bergizi yaitu firman Allah  sehingga berfungsi sebagai rumah pengajaran. Yang harus bersaksi dan memberitakan keselamatan melalui pendidikan yang membangun manusia berkarakter takut akan Tuhan, mencintai dan mengagumi keadilan, kejujuran dan kebenaran. Gereja harus mendorong pelayan-pelayan dan warganya untuk bersama-sama bergerak membangun pendidikan dan pengajaran di tengah masyarakat. Terutama membekali anak-anak sekolah minggu, remaja dan pemuda dengan pengetahuan dan moralitas yang takut akan Tuhan.

Gereja harus memberi peran kepada kaum perempuan untuk berpartisipasi untuk membangun karakter moral di tengah-tengah keluarga, jemaat dan masyarakat. Untuk menyampaikan seruan pertobatan, meninggalkan perilaku amoral di segala tempat  dalam ruang-ruang publik.

Gerakan untuk membangun kepribadian manusia secara utuh harus menjadi perhatian gereja untuk mengubah dan mem-baharui kehidupan sosial yang sedang dirusak oleh kejahatan makin terstruktur; sistematis dan masif (menyeluruh) disebabkan oleh kebodohan dan kemiskinan moral.

Rumah atau rumah tangga warga gereja harus menjadi basis pengajaran yang berkarakter. Orang tua atau suami-isteri harus menjadi sarana pelayanan dan teladan bagi pembentukan karak-ter yang baik untuk anak-anaknya.

Lembaga-lembaga pendidikan dalam asuhan gereja harus me-ningkatkan sarana dan prasarana menjadi rumah pendidikan yang nikmat (berkualitas), bergizi, dan sehat. Sekolah yang berstandar GMIM (khusus; otentik) bukan sekedar berstandar nasional atau internasional sehingga dapat menghasilkan kaum intelektual yang cerdas; baik kecerdasan intektual, emosional, spiritual, kecerdasan sosial (relasi) untuk mampu menjaga diri dari berbagai tantangan dan godaan narkoba, korupsi, pergaulan bebas, miras, dan sebagainya.

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa yang saudara mengerti tentang “Hikmat yang Membangun” menurut teks ?
  2. Apa saja kesamaan dan perbedaan fungsi rumah kediaman kita, rumah hikmat dan rumah Tuhan?
  3. Apa saja yang perlu dibenahi dan ditingkatkan pada sekolah-sekolah dan perguruan tinggi GMIM? 

NAS PEMBIMBING: Amsal 5 : 1-2

POKOK-POKOK DOA:

  • Para Pendidik, Guru, Pelsus dan Orang Tua dalam upaya peningkatan pendidikan dan pengajaran
  • Orang-orang yang hidup dalam kejahatan yang mengabaikan pendidikan
  • Perempuan dan anak dalam pemberdayaan pendidikan

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK  III 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Nyanyian Masuk : NNBT No. 5 Sorak-Sorailah

Nas Pembimbing :NNBT No.45 Kusayang Mama dan Papa

Ses Pengakuan Dosa: NNBT No.11 Ya Allahku, Kami Mengaku Dosa

Ses Berita Anugerah Allah: NNBT No. 36 Barang Siapa Yang Percaya Kepada Tuhan

Seb Pembacaan Alkitab : Jalan Hidup orang Benar

Ses Pengakuan Iman : KJ No. 224 Masyhurkan Rajamu

Persembahan : NKB No. 116  Siapa Yang Berpegang

Nyanyian Penutup : NNBT No. 21 Pergilah Kamu

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

Stola minggu-minggu sesudah Pentakosta dan Epifani