MTPJ 20 – 26 Juli 2014

0
1647
TEMA BULANAN : “Berdemokrasi Dalam Ekonomi Yang Berkeadilan”
TEMA MINGGUAN : “Keadilan Ekonomi”
Bahan Alkitab:  2 Raja-Raja 4:7; Matius 20:1-16

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Keadilan ekonomi adalah suatu keadaan atau situasi ketika seseorang atau sekelompok orang memperoleh apa yang menjadi haknya tanpa mengabaikan kewajibannya. Diperlakukan secara adil dalam bidang ekonomi adalah kerinduan dari setiap manusia. Sebab di dalamnya ia akan mendapatkan penghidupan yang layak sesuai dengan kebutuhan pribadi dan kelompoknya itu.

Realitas yang ada dalam masyarakat masih banyak ditemukan adanya perlakuan yang tidak adil bahkan cenderung diskriminatif. Orang yang lemah, biasanya menjadi korban dari suatu ketidakadilan. Dan yang paling banyak ditemui adalah ketidakadilan dibidang ekonomi. Misalnya : upah yang terlalu rendah dari kewajaran yang semestinya menjadi hak para “pekerja” (buruh). Kontrak kerja yang seringkali menjadi dasar para “majikan” (pengusaha) memperlakukan para pekerja secara sewenang-wenang. Pola yang seperti ini akan membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin tetap miskin atau semakin miskin. Ketidakadilan  ekonomi seperti ini, seakan-akan telah tertanam dalam struktur politik, sosial, budaya dan ideologi suatu tatanan masyakat.

Tugas pemerintah adalah menyusun undang-undang serta peraturan yang harus memperhatikan aspek keadilan bersama (Mis: antara buruh dan majikan) sambil terus mengawasinya. Sementara itu, tugas gereja adalah memperlengkapi warganya yang memiliki peran dan tanggungjawab di bidang pemerintahan untuk memper- hatikan produk hukum yang mencermikan keadilan bagi semua masyarakat. Atau warga gereja yang bertindak sebagai majikan (Pengusaha), bahkan warga gereja yang berada dalam posisi sebagai pekerja/buruh atau kaum yang lemah.

Karena itu, Tema “Keadilan Ekonomi” diharapkan akan memperlengkapi warga gereja, baik dalam posisi sebagai pemerintah, pengusaha atau pekerja/buruh dalam mengimplementasikan buah-buah iman sebagai sebuah panggilan iman, yang bertitik tolak dari berita Alkitab.

 

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Perikop dalam Injil Matius 20:1-16, menceritakan seorang tuan yang keluar pagi-pagi benar untuk mencari pekerja kebun anggurnya. Tuan ini kemudian sepakat dengan para pekerja satu dinar sehari (1 dinar = upah pekerja harian). Hal ini dilakukannya beberapa kali, tetapi di jam yang berbeda, yakni pukul 9 pagi, pukul 12 siang dan pukul 3 serta 5 petang. Konflik belum muncul selama mereka bekerja.

Setelah malam dan waktu membayar upah tiba, maka sang tuan, pemilik kebun anggur itu membayar masing-masing satu dinar, sesuai kesepakatan di awal, tanpa memperhatikan lamanya bekerja. Padahal para pekerja itu masuk dengan hitungan 5 waktu yang berbeda. Dalam pikiran para pekerja yang pertama, setelah mereka melihat pembayaran kepada yang bekerja sore hari, seharusnya bagi yang pertama bekerja akan mendapat lebih dari satu dinar, dibandingkan dengan yang bekerja belakangan. Karena itu, ketika pekerja awal menerima upah sedinar, yang nilainya sama dengan yang bekerja sore hari, maka ini memunculkan sungut-sungut (ayat 11). Dalam pandangan mereka, sang tuan telah berlaku tidak adil.

Sepintas lalu konsep tentang keadilan yang benar adalah seperti pandangan para pekerja ini. Tetapi di mata pemilik kebun anggur ini, dia sudah berlaku adil, karena memberikan upah sesuai dengan kesepakatan awal. Perhatikan ayat 2 yang sangat jelas mengatakan bahwa upah ini, tidak ditentukan langsung oleh Pemilik kebun anggur, tetapi dia membuat kesepakatan bersama-sama dengan para pekerja.

Mengupah satu dinar tanpa memperhatikan waktu bekerja, meskipun ada yang tidak genap sehari penuh, tuan ini mau menyatakan kebaikan hati yang melebihi sebuah keadilan, tanpa memperkosa hak pekerja lainnya. Hal ini memperlihatkan sikap hati Allah yang mengizinkan masuk ke dalam kerajaan-Nya orang-orang yang datang terlambat, seperti orang berdosa dan yang non Yahudi. Inilah kasih Allah yang sempurna, yakni ketika kasih itu dibagikan melalui anugerah dalam kadaulatan tindakan-Nya, yang tidak melihat berdasarkan perbuatan manusia.

Jika Allah memberi sesuatu kepada orang lain secara melimpah bahkan melebihi dari apa yang telah kita terima, itu semua karena anugerah-Nya, bukan merupakan tindakan ketidakadilan Allah bagi manusia. Di pihak lain, hal ini mengajar Gereja-Nya untuk mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya, atau yang menjadi bagian kita. Sehingga gereja-Nya akan terus mengucap syukur di dalam kehidupan yang di beri oleh Tuhan ini. Dan seharusnya tidak ada alasan untuk mengeluh atas apa yang dimilikinya.

Kemudian 2 Raja-raja 4:7 memberi penjelasan tentang seorang janda yang hidup dalam kekurangan bahkan kedua anaknya terancam untuk dijadikan budak, karena hutang yang belum dibayar. Tetapi Tuhan menunjukkan keadilannya bagi mereka yang lemah dan tak berdaya. Ia memakai Abdi Allah yang bernama Elisa untuk menolongnya, dengan mujizat melalui minyak yang dituangkan di bejana-bejana kosong, sampai semuanya terisi penuh.

Tuhan Allah senantiasa memperhatikan umat-Nya yang berada dalam pergumulan. Hal ini memberikan gambaran bahwa segala sesuatu yang terjadi, ada di dalam tangan kuasa-Nya. Dan dengan demikian, hal ini mau menunjukkan bahwa tidak ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh Allah.

 

Makna dan Implikasi Firman

Allah adalah pemilik dunia sebab Dia yang telah menciptakannya (Kej.1:1), dan dunia yang kita tempati ini, diumpamakan sebagai “kebun anggur” Allah. Gereja adalah orang-orang yang dipanggil sebagai pekerja untuk menggarap kebun anggur-Nya ini, supaya berbunga dan berbuah bagi kemuliaan Allah. Kepemilikan-Nya itu adalah mutlak, absolut dan berdaulat tanpa batas. Itu berarti Dia bebas memberikan atau menggunakan sesuatu menurut kehendak dan rencana-Nya (Roma 9:15).

Keadilan Allah tidak dapat disamakan dengan keadilan manusia, sebab Kerajaan Allah tidak dapat disejajarkan dengan norma-norma atau peraturan-peraturan yang dibuat oleh tangan manusia. Keadilan Allahlah yang berada di level tertinggi dan tidak bisa di bandingkan dengan apapun. Konflik bisa muncul, ketika hikmat dan norma dunia ini dipaksakan untuk dilakukan dalam Gereja. Seperti halnya orang Yahudi yang menganggap lebih memahami dan mengerti tentang ajaran Tuhan Yesus. Karena itu, mereka tidak ingin disamakan kedudukannya dengan orang Kristen non Yahudi dan karena itu mereka menuntut perlakuan istimewa. Tetapi bagi Yesus semua manusia sama dan tidak ada yang lebih utama. Kasih karunianya dibagikan secara merata kepada semua manusia ciptaan-Nya (band: Mat. 5:45).

Dalam bidang ekonomi, tugas Gereja adalah memperlengkapi warganya untuk melihat keadilan ekonomi dalam perspektif (pandangan) “Ekonomi Allah” (Yun: Oikonomia Tou Theou). Harta benda adalah berkat Allah yang patut disyukuri. Namun berkat Allah ini, sebenarnya bukanlah hal yang terpenting dalam hidup manusia, dan tidak tepat untuk dijadikan orientasi hidup. Yang harus dijadikan dasar hidup manusia adalah sumber berkat itu sendiri yakni  Allah di dalam Yesus Kristus. Di dalam Ekonomi Allah ini, memungkinkan manusia untuk tidak menjadi hamba materi (harta benda) apalagi memberhalakannya. Dengan demikian manusia akan terhindar dari sifat serakah, melainkan akan menjadi manusia yang merdeka dalam memanfatkan berkat Allah dan saling menumbuhkembangkan ekonomi secara bersama.

Sikap iri hati bisa muncul dalam kehidupan bergereja. Ada yang melihat ketidakadilan dari perspektif pribadinya, yang cenderung melihat untung rugi. Sebab yang dipersoalkan bukan masalah upah yang di terima itu kurang dari kesepakatan, tetapi justru karena sama-sama menerima satu dinar. Bukankah sering kita berpikir harus menerima anugerah Allah melebihi dari orang lain, karena kita telah melakukan begitu banyak kebaikan, atau malah kita menganggap telah lama menjadi pelayan Khusus (Sym, Pnt, GA atau Pdt).

Karena itu, jika warga gereja melihat keadilan ekonomi dari sudut pandang Ekonomi Allah, maka dia akan melakukan sesuatu berdasarkan kehendak Allah, dan bukan pada kehendaknya sendiri. Setiap warga Gereja harus merasa terpanggil untuk mewujudkan ekonomi Allah ini. Maksudnya, jika seseorang bekerja dibidang pemerintahan, maka dia perlu membuat program pemberdayaan masyarakat sambil menyiapkan perangkat hukum yang melindungi hak-hak masyarakat yang termarginalkan itu, serta yang tak punya akses untuk memperbaiki taraf hidup ke arah yang lebih baik. Atau seorang pengusaha yang memiliki harta yang melimpah, agar memperhatikan dengan memberi modal sekaligus melatih masyarakat miskin untuk memberdayakan kehidupan mereka agar keluar dari belenggu kemiskinan. Serta bagaimana seorang pekerja untuk fokus pada kwalitas pekerjaannya, bukan hanya melihat apalagi kemudian membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

 

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apakah konsep tentang keadilan ekonomi dalam pembacaan Alkitab tadi ?

2. Apakah di sekitar kita, masih didapati adanya ketidakadilan ekonomi? Bagaimana sikap gereja terhadap hal ini?

3. Sebutkan bentuk program pemberdayaan ekonomi terhadap anggota jemaat yang sudah atau yang akan dilakukan oleh jemaat saudara!

 

NAS PEMBIMBING: Mazmur 145:7

POKOK-POKOK DOA

o    Misi Gereja untuk memperjuangkan ekonomi yang berkeadilan.

o    Kepedulian warga gereja kepada yang termarginalkan.

o    Warga Gereja yang bekerja di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif supaya bekerja berdasarkan panggilan iman yang benar.

 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK III

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Ny Masuk: NNBT No. 2

Ses. Nas Pemb. : NNBT No.34 : 3 

Ses. Pengakuan Dosa & Pemb Anugerah Allah: NNBT No. 35

Ses. Pemb Alkitab : NKB No. 14:1&3 

Ses. Pengakuan Iman: KJ No.280 : 1 – 3 

Ses. Khotbah: KJ No. 335 : 1 & 3 

Persembahan: KJ No. 428:1-6

Ny Penutup: NNBT No. 37:1-3

 

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here