TEMA BULANAN: “Solidaritas dalam Panggilan Gereja”
TEMA MINGGUAN: “Mengatasi Perselisihan dengan Hidup sebagai Manusia Rohani”
Bahan Alkitab: 1 Korintus 3 : 1 – 9

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Faktor utama terjadinya perselisihan adalah perbe-daan. Pada hakikatnya perbedaan telah ada sejak penciptaan yaitu manusia laki-laki dan perempuan, dengan tujuan agar saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Secara umum perbedaan itu dapat ditemui di mana-mana. Bangsa Indo-nesia sendiri merupakan bangsa yang plural (majemuk) karena keanekaragaman yang dimiliki antara lain; bahasa, budaya, adat istiadat, suku, ras dan agama, sehingga tak jarang adanya sikap primordialisme (perasaan kesukuan yang berlebihan) yang menjadi salah satu pemicuh perselisihan/ konflik. Manusiapun diciptakan masing-masing memiliki sikap, sifat, karakter dan pola pikir yang berbeda pula. Dengan demikian perbedaan pendapat, pandangan bahkan pema-haman banyak kali terjadi dalam satu kelompok, mulai dari kelompok terkecil yaitu keluarga maupun kelompok yang lebih besar yaitu gereja dan masyarakat sebagai lembaga.

Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa jika dipandang sebagai satu kekayaan untuk kepentingan ber-sama. Namun fakta yang ada tidaklah demikian, banyak orang atau kelompok merasa paling benar dan paling pintar dari yang lain, ketika menyampaikan pendapat atau pandangannya tentang suatu hal sehingga rawan perselisihan. Semua itu terjadi karena ketidakdewasaan dalam memandang dan menyikapi sesuatu. Setiap manusia diciptakan oleh Allah memiliki karunia dan talenta yang berbeda-beda, memiliki kelebihan dan kekurangan, bukan untuk menonjolkan diri dan iri hati, melainkan untuk saling bekerjasama dan saling melengkapi.

Dengan diangkatnya tema: Mengatasi Perselisihan dengan Hidup sebagai Manusia Rohani, maka sebagai warga gereja kita diajak untuk melihat bagaimana seharusnya bertindak agar terhindar dari perselisihan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Dalam 1 Korintus 3:1-9 ini, Paulus mau menunjukkan bahwa dalam pekerjaan Tuhan, para hamba Tuhan semua bekerja sama untuk kemajuan Injil dan kebangunan jemaat. Tetapi anggota-anggota jemaat juga berkewajiban untuk membangun diri sendiri di atas dasar yang telah diletakkan para rasul yaitu Injil. Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus bahwa ketika ia pertama kali berkunjung di sana, ia tidak dapat berbicara kepada mereka sebagai orang-orang rohani sebab mereka masih bersifat duniawi (Yun: Sarkinos,  secara harafiah artinya dibuat dari daging. Di balik kata sarkinos ini terdapat pengertian lemah), karena mereka baru saja bertobat dan belum dewasa secara rohani. Dalam pengertian orang-orang Korintus masih lemah, karena mereka baru saja menjadi orang percaya. Oleh karena itu Paulus hanya memberikan susu yaitu ajaran yang paling dasar dan sederhana, sesuai dengan kemampuan mereka untuk mene-rimanya pada saat itu, bukan makanan keras. Di sini kita melihat suatu prinsip baik, yaitu bagi orang-orang yang belum begitu lama bertobat dan percaya, sebaiknya diberikan ajaran yang mudah untuk diterima, agar pengajaran cepat dicerna, nanti secara perlahan memberikan doktrin yang lebih dalam dan sukar. Namun ternyata jemaat Korintus masih belum maju serta belum pada kedewasaan rohani, walaupun waktunya sudah cukup untuk terlaksananya hal itu.

“Karena kamu masih manusia duniawi”(ayat 3), sebuah perubahan kata yang perlu diperhatikan, duniawi di sini bukan sarkinos lagi tetapi sarkikos, yang secara harfiah arti-nya: bersifat seperti daging, yang sama dengan menurut daging. Di balik kata ini terdapat pengertian sifat bandel, dan Paulus menyalahkan orang-orang yang dalam kondisi ini. Kelemahan yang terus-menerus menghasilkan sifat bandel. Hal ini Bukan berarti mereka belum percaya, tetapi bahwa kehidupan mereka masih dikuasai oleh keinginan-keinginan daging. Dua contoh keinginan daging dan sifat ketidak-dewasaan yang sangat nyata di antara jemaat Koritus ialah “iri hati” dan “perselisihan”. Perselisihan itu disebabkan oleh sikap mereka yang menokohkan orang-orang tertentu. Seba-gian memilih Paulus (seorang teolog, pemikir yang meng-andalkan logika), dan yang lain memilih Apolos (seorang yang fasih berbicara/ahli pidato). Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum tahu bagaimana hidup bersatu di dalam roh, karena mereka masih hidup seperti orang duniawi yang berselisih dan iri.

Selanjutnya Paulus menjelaskan hubungan yang sebe-narnya antara dia dan Apolos yaitu:

  1. Mereka bersama-sama melayani Tuhan dengan tujuan yang sama yaitu agar orang-orang Korintus boleh percaya kepada Tuhan Yesus (ayat 5). Mungkin cara Pemberitaan Injil Paulus berbeda dengan cara Apolos, tetapi tujuan keduanya sama.
  2. Mereka saling melengkapi dalam pelayanan (ayat 6-8). Di sini Paulus mengambil contoh dari ilmu pertanian, di mana ada orang yang menanam dan harus ada orang yang menyiram. Tetapi hal pertumbuhan adalah di luar kekuasaan mereka, karena tergantung pada musim, sinar matahari, hujan dan sebagainya. Demikianlah dalam pelayanan rohani, harus ada Penginjil yang memimpin seseorang untuk percaya kepada Tuhan maupun Pem-bimbing atau Pengajar yang mendewasakan orang yang telah percaya itu. Tetapi kalau usaha kedua-duanya tidak diberkati Tuhan, maka tidak akan ada hasil sama sekali. Karena itu perhatian jemaat Korintus harus terarah kepada Allah saja, bukan kepada tokoh Paulus atau Apolos, sebab Paulus dan Apolos sama dalam pandangan Tuhan dan pekerjaan mereka akan dinilai Tuhan, bukan oleh manusia.Yang terpenting dalam pertumbuhan jemaat adalah Allah sendiri.
  3. Mereka adalah rekan sekerja Allah (ayat 9). Pelayanan mereka adalah pekerjaan Allah dan mereka adalah alat-Nya saja. Jemaat adalah milik Allah, bukan milik manusia, karena itu mereka harus bersatu di dalam Dia.

Makna dan Implikasi Firman

Menokohkan seseorang adalah hal yang wajar. Apalagi jika dilakukan untuk hal yang positif dalam arti; kepribadian, sikap, sifat, bahkan karakternya dijadikan contoh atau  pola anutan untuk diteladani. Namun akan menjadi hal yang tidak wajar apabila menokohkan sese-orang secara berlebihan dengan membeda-bedakan ataupun menjelek-jelekkan orang lain karena menganggap tokoh kitalah yang paling hebat, benar dan pintar, sehingga menganggap orang lain tidak ada apa-apa. Inilah salah satu penyebab perselisihan/konflik yang banyak kali terjadi. Perhatian tidak lagi tertuju pada tujuan yang baik melainkan lebih kepada pembenaran diri sendiri atau kelompok

Tiap-tiap orang dalam hal ini hamba Tuhan mempunyai ketrampilannya sendiri-sendiri, masing-masing ada talenta/ karunia yang diberikan Tuhan, dengan tujuan agar dapat bekerja sama, saling melengkapi dalam pela-yanan untuk kemuliaan Tuhan. Sebab kita adalah rekan sekerja Allah, Ia menjadikan kita rekan-Nya untuk mewu-judkan rencana-Nya. Sebagai penanam dan penyiram, mempunyai kelemahan dan kelebihannya sendiri-sendiri. Ukuran ketrampilan, kelemahan dan kelebihan itupun berbeda-beda menurut masing-masing orang. Karena itu tidak boleh  dibanding-bandingkan, sebab Allah sendiri yang memberi pertumbuhan. Sikap yang dewasa adalah mau memahami kelemahan orang lain sebagai keter-batasannya, dan mensyukuri kelebihannya sebagai karu-nia Tuhan. Akuilah kelebihan orang lain agar tidak muncul iri hati dan perselisihan, jangan mempertentangkan kele-mahan dan kelebihannya, melainkan melihat dan mene-rima keduanya secara terbuka, saling  bekerja sama dan saling melengkapi maka itulah ciri manusia rohani. 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa faktor penyebab perselisihan menurut 1 Korintus 3:1-9?
  2. Sebutkan contoh fakta perselisihan yang pernah ditemui dan bagaimana saudara menyikapi hal itu!
  3. Menurut saudara bagaimana sikap dan tindakan kita sebagai gereja dalam mengatasi perselisihan?

NAS PEMBIMBING :  Efesus 4:7

POKOK-POKOK DOA :

  • Saling menghargai, tidak membeda-bedakan kelebihan dan kekurangan orang lain, melainkan saling menerima dan saling melengkapi.
  • Menjadi dewasa dalam melihat serta menyikapi sesuatu agar tidak ada iri hati dan perselisihan.
  • Kerjasama yang baik, sehati sepikir, seia sekata dalam pelayanan untuk kemuliaan Tuhan. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK III 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN :

Nyanyian Masuk: NNBT No. 5, Sorak sorailah

Sesudah Nas Pembimbing: KJ No. 453 Yesus Kawan Yang Sejati

Pengakuan dosa: NNBT No. 34 Tuhanlah Perlindunganku

Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. Ya Tuhan Engkaulah

Sesudah Pembacaan Alkitab: KJ No. 249 Serikat Persaudaraan

Sesudah Pengakuan Iman: NNBT No.19 Allah Besar Agung Nama-Nya

Sesudah Khotbah: NNBT No. 37 Tuhan Yesus adalah Penabur

Persembahan: NNBT No. 20 Kami bersyukur pada-Mu Tuhan

Penutup: KJ No. 421 Yesus Saja Kawanku Musafir

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top