TEMA BULANAN: “Gereja yang Mengutuhkan”
TEMA MINGGUAN: “Hidup dalam Kasih Karunia”
Bahan Alkitab : Kisah Para Rasul 4:32-37
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Di era post modern sekarang ini manusia semakin sibuk dengan pekerjaan ataupun aktivitas kesehariannya. Setiap indi-vidu berlomba-lomba untuk memenuhi berbagai keperluan, baik dari segi kebutuhan jasmani, sosial, ekonomi, kerohanian, kese-hatan, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam berlomba meme-nuhi segala kebutuhan itu, sebagian manusia semakin sejahtera, namun sebagian lainnya menjadi semakin terpinggirkan. Gam-baran hidup seperti itu bukan hanya terjadi di dunia sekuler saja, tetapi ternyata dalam gerak langkah pelayanan gereja, kesen-jangan hidup itu makin kentara. Hal ini terjadi karena dalam segala kesibukan kerja pelayanan, ternyata manusia menjadi semakin individualis, egois, hedonis yaitu menganggap kese-nangan dan kenikmatan materi adalah yang utama, materialis yaitu mengukur segala sesuatu dari materi. Model hidup seperti itu telah membuat manusia lebih memikirkan diri sendiri atau kepentingannya, kesenangan sendiri walau orang lain menderita dan tidak lagi peduli terhadap orang lain. Gaya hidup yang individualis, materialis dan hedonis telah menyita perhatian kasih kita terhadap mereka yang harusnya menjadi alamat kita membagi kasih atau berdiakonia.

    “Hidup dalam Kasih Karunia” adalah sebuah gaya hidup yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula, untuk menggambar-kan bahwa mereka yang telah menerima kasih karunia Allah, yaitu keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus, adalah duta Kristus untuk merealisasikan kasih karunia Allah itu dalam hidup berjemaat, supaya jemaat makin kuat dan pelayanan gereja Tuhan makin berkembang.

          Tema “Hidup dalam Kasih Karunia” dipilih menjadi tema utama perenungan Firman Tuhan bagi kita dalam pembacaan Alkitab sepanjang minggu ini.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Penulis Kisah Para Rasul hendak menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi usaha penye-barluasan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Kisah Para Rasul 4:32–37 adalah sebuah potret kehidupan dari jemaat mula-mula yang bertumbuh dalam hidup percaya kepada Kristus karena pekerjaan Roh Kudus. Sebagai murid atau pengikut Kristus, pada awalnya jemaat mula-mula mengorganisir kehidupan ber-jemaat dengan cara: tiap-tiap hari mereka berkumpul untuk memecahkan roti serta berdoa bersama (Kisah 2 : 41 – 47). Kemudian dalam perkembangan pelayanan berjemaat, mereka hidup sehati dan sejiwa, tidak mementingkan diri sendiri sebab segala kepunyaan mereka adalah milik bersama.

          Perilaku saling mempedulikan membuat mereka dapat saling berbagi dalam segala keperluan. Dengan berbuat demi-kian, maka tidak ada seorangpun yang berkekurangan dari antara mereka.

          Walaupun memiliki berbagai pergumulan dengan segala perbedaan yang ada, jemaat mula-mula justru makin giat ber-usaha membangun keutuhan jemaat yang terus bertumbuh serta berakar pada Kristus, sumber kasih karunia. Kasih karunia Allah yang yang sudah nyata yaitu keselamatan sejati melalui kebang-kitan Kristus, telah membuat para rasul mampu melakukan pekerjaan pelayanan terhadap jemaat dan jemaat tergerak untuk berlomba-lomba mengambil bagian dalam pelayanan kasih.

    Jemaat mula-mula sangat terinspirasi dengan motivasi kepe-layanan yang diberikan para rasul melalui kesaksian mereka tentang kebangkitan Kristus. Hal ini memotivasi mereka untuk hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah. Mereka me-nunjukkan kesaksian iman yang luar biasa yaitu yang mem-punyai tanah dan rumah menjual kepunyaannya itu dan mem-bawa hasilnya kepada rasul-rasul, supaya diatur atau didistribusi-kan kepada setiap orang, sesuai keperluan masing-masing.

          Kisah Para Rasul 4:32-37 menunjukkan tentang manaje-men pengorganisasian jemaat yang paripurna, bahwa dari segi kebutuhan jasmani mereka saling mempedulikan, dari segi kebu-tuhan sosial-ekonomi mereka saling berbagi dan mencukupkan, dari segi kebutuhan spiritual atau kerohanian mereka sehati-sejiwa dalam mengusahakan kehidupan berjemaat yang saling mendoakan, ada persekutuan yang beribadah bersama.

          Cara hidup jemaat mula-mula dalam hal penataan or-ganisasi, nampak juga dalam membangun kerja sama. Hal ini nampak dalam pendistribusian materi kepada yang memerlukan bukan dilakukan sendiri-sendiri, melakukan dengan rela hati mereka meletakkan semua itu di kaki rasul-rasul. Para rasul yang bertanggung jawab dalam menyalurkan segala keperluan yang dibutuhkan jemaat, guna mengokohkan kehidupan berjemaat yang saling mempedulikan dan penuh dengan kasih karunia.

          Kasih karunia adalah istilah yang dalam Perjanjian Lama, bentuk terjemahan Ibrani dari kata ‘khen’ yang mempunyai arti perbuatan atasan kepada bawahannya tentang kasih karunia. Sedangkan dalam terjemahan Yunani ‘kharis’ mempunyai arti perbuatan Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Oleh kasih karunia Allah, manusia dapat mene-rima atau mengalami segala tindakan baik dari Tuhan Allah dalam hidupnya.

          Dalam Perjanjian Baru yaitu pada Injil Sinoptis dan Kisah Para Rasul, pengertian kasih karunia menunjuk pada istilah ‘kharis’, yaitu suatu tindakan mengagumkan yang adalah karu-nia Roh Kudus yang luarbiasa dan diberikan kepada orang percaya, untuk dapat melayani umat. Dengan demikian, ‘kharis’ mengandung pengertian sebuah wibawa pelayanan yang didasarkan pada kesaksian hidup yang benar. Kebenaran hidup itu nampak dalam perilaku orang percaya kepada Kristus yang menghadirkan damai sejahtera, hingga menjadi berkat bagi setiap orang yang dijumpainya dalam hidup dan segala karya yang menimbulkan kekaguman.

                   Hidup dalam Kasih Karunia telah memperlengkapi je-maat mula-mula, untuk memberi perhatian kasih kepada mereka yang memerlukan, sambil mempercayakan pekerjaan kasih karunia itu kepada para rasul. Setiap anggota dalam perse-kutuan jemaat mula-mula, termasuk Yusuf Barnabas yang telah hidup dalam kasih karunia, telah mengimplementasikan gaya hidup berimannya dengan menjual tanah ladangnya dan diper-gunakan dalam pelayanan kasih. Demikianlah setiap anggota jemaat berjerih lelah untuk saling melengkapi dan mereka juga membawa persembahan dari hasil jerih lelah atau usaha keras mereka. Persembahan itu dibawa kepada para rasul, supaya diatur dengan baik demi tujuan pelayanan, terhadap segenap anggota jemaat.

Makna dan Implikasi Firman

Belajar dari bagian Alkitab ini, maka kita dapat me-ngetahui betapa pentingnya Hidup dalam Kasih Karunia yang kita maknai dalam Kisah Para Rasul 4 : 32 – 37, seperti berikut:

  1. Sebagai orang-orang yang telah diberkati dan menerima kasih karunia Allah, yaitu keselamatan melalui kebangkitan Kristus, hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang suka mengambil bagian dalam pelayanan gereja Tuhan, baik dalam perse-kutuan, kesaksian dan berdiakonia. Disamping itu, hendaklah kita menjadi pribadi yang tahu menghargai kerja pelayanan dari mereka yang menerima pengutusan Tuhan, yaitu setiap orang yang melakukan pekerjaan rasuli dalam topangan jemaat. Kita juga diajak untuk membawa persembahan kita dengan kerelaan dan sepenuh hati, dalam rangka pelayanan dan keutuhan gereja.
  2. Sebagai persekutuan gereja Tuhan yang diberkati-Nya untuk berkarya di tanah Minahasa, di Indonesia dan di muka bumi ini, baiklah kita menjadi saksi kebangkitan Kristus yang hidup, untuk menghidupkan sesama melalui perilaku yang saling mempedulikan, menolong, berbagi, mendoakan, menguatkan, dan mengusahakan kesejahteraan hidup bersama. Supaya yang lemah dikuatkan, yang berbeban dihiburkan dan yang tak berpengharapan dipulihkan.
  3. Sebagai pelayan Tuhan, peliharalah selalu wibawa kerasulan yang diberikan Tuhan, untuk dapat mengatur kehidupan jemaat, termasuk dalam mengelola pemberian-pemberian je-maat demi mencukupkan keperluan penatalayanan, di da-lamnya diakonia. Diakonia bukan harus dibagi sama rata seperti yang banyak dipraktekkan jemaat-jemaat, tapi belajar dari bagian Alkitab ini, diakonia artinya dibagi sesuai kebu-tuhan, supaya maksud pemberian yaitu yang kuat menolong yang lemah, yang kaya atau berkelimpahan mencukupkan yang miskin/berkekurangan, dapat dipenuhi dengan sukacita dan rela hati. Maka Tuhan Yesus sumber kasih karunia dipermuliakan dalam hidup kita. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI       

  1. Bagaimana jemaat mula-mula mempraktekkan makna ‘Hidup dalam Kasih Karunia’, sesuai bacaan Alkitab kita saat ini?
  2. Apakah kita sudah ‘Hidup dalam Kasih Karunia’ dan bagaimana cara kita mengimplementasikannya di tengah keluarga, jemaat dan masyarakat? Berikan contoh-con-tohnya!

NAS PEMBIMBING: 2 Petrus 3:18 

POKOK-POKOK DOA:

  • Pemberdayaan ekonomi jemaat.
  • Usaha-usaha diakonal gereja.
  • Pelayan khusus dalam melaksanakan tugas pelayanan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK III

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: KJ No. 15 Berhimpun Semua Menghadap Tuhan

Nyanyian Masuk: NNBT No 4 Naikkan Doa pada Allah

Pengakuan Dosa:  NNBT 36 Barangsiapa yang Percaya Kepada Tuhan

Berita Anugerah:  NNBT No 37 Tuhan Yesus Adalah Penabur

Doa Untuk Pembacaan Alkitab dan Pemberitaan Firman: KJ No. 356 Tinggallah dalam Yesus

Pembacaan Alkitab: NKB No. 116 Siapa yang Berpegang

Khotbah: KJ No. 383 Sungguh Indah Kabar Mulia

Pengakuan Iman:  PKJ No. 19 Mari Sembah

Persembahan: NKB No. 199 Sudahkah yang Terbaik Kuberikan

Doa Bapa Kami dinyanyikan: NNBT No. 18 Bapa Kami yang Di Sorga

Nyanyian Penutup: NNBT No 43 Pujilah Allah Semesta Alam

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top