MTPJ 23 – 29 Oktober 2016

0
4386

TEMA BULANAN : “Gereja yang Dibaharui Harus Terus Menerus Membaharui Diri”TEMA MINGGUAN : “Memelihara Kekudusan Bergereja”
Bahan Alkitab : 1 Korintus 1 : 1 – 9
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Dunia ini tidak stagnan, dari waktu ke waktu mengalami perubahan di berbagai bidang kehidupan. Perubahan tersebut misalnya dengan semakin berkembangnya teknologi yang mempengaruhi gaya hidup orang Kristen. Antara perilaku yang menyimpang seperti tidak membina hubungan yang baik dengan orang lain, tidak menghormati keluarga bahkan dalam persekutuan bergereja sering terjadi pertengkaran antar jemaat, pelsus dan tidak menghormati persekutuan ibadahnya.

Perubahan perilaku tersebut sangat mempengaruhi keku-dusan umat dalam bergereja. Misalnya dalam ibadah ada orang hanya sibuk mengotak-atik HP, sehingga sebelum ibadah dimulai, melalui layar LCD ditayangkan tulisan “matikan HP selama ibadah berlangsung”,  ada yang berjalan-jalan sebelum atau sementara ibadah sehingga di LCD tertulis duduklah dengan sopan. Demikian pun dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang tidak menghargai, anugerah kehidupan dan karunia yang Tuhan berikan padanya misalnya dengan mabuk-mabukkan, berjudi, pergaulan bebas, mengkon-sumsi obat terlarang dan perilaku kejahatan lainnya dan menjauhkan diri dari persekutuan yang beribadah.

Memperhatikan beberapa hal tersebut maka sebagai gereja menganggap sangat penting untuk menghayati hakikat gereja yang adalah kudus melalui tema perenungan “Memelihara Kekudusan Bergereja”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Nas 1 Korintus 1:1-9. merupakan ungkapan awal dari surat rasul Paulus sebelum ia menjelaskan tentang pokok-pokok imannya terhadap apa yang sedang dialami oleh jemaat yang ada di Korintus pada waktu itu. Berbagai hal yang menye-babkan Korintus ini menjadi pusat perhatian orang, antara lain karena kota ini letaknya sangat strategis dalam hal lalu-lintas perdagangan dan perhubungan dari Utara ke Selatan dari Yunani Utara ke Peloponesos di Selatan, serta perjalanan laut ke Timur dan ke Barat harus melewati dan melalui Korintus. Perbuatan maksiat di kota ini juga sangat terkenal apa lagi di dalam kota ini terdapat kuil Aphrodite (dewi cinta). Kota ini merupakan salah satu kota yang ada di “dunia Perjanjian Baru” yang mendapat perhatian pekabaran Injil dari rasul Paulus. Paulus tiba di kota ini setelah ia meninggalkan kota Atena di Yunani (Kisah Para Rasul 18:1) pada tahun 50 M dalam perjalanan keduanya untuk pemberitaan Injil. Ia adalah orang pertama yang memberitakan injil di kota ini. Penduduk di kota ini ada yang berasal dari Roma, Yunani dan Asia.

Di awal tulisannya Paulus menjelaskan kepada jemaat penerima surat bahwa ia adalah seorang rasul Yesus Kristus artinya seorang yang diutus oleh Yesus Kristus.

Istilah “rasul“ (orang yang diutus) menunjuk kepada mereka yang dipanggil, diberikan wewenang dan ditugaskan oleh Tuhan Yesus Kristus yang bangkit, untuk menjadi saksi-saksi-Nya (Lih. Kisah Para Rasul. 1:21, 22, dan 9-19),  yang  bersama dengan saudara kita (yakni sesama orang Kristen) (1:1).

Selain penjelasan tentang kerasulannya, dia juga menya-takan bahwa jemaat di Korintus adalah “orang-orang kudus” yang dikuduskan oleh Yesus Kristus (ayat 2). Kata “Kudus“ (bahasa Yunani “hagios”) yang berarti: suci. Pengertian suci berarti dikhususkan oleh Roh dan bukan karena perbuatan manusia. Penyebutan orang-orang kudus bukan pertama-tama dalam arti etis, melainkan dikhususkan sebagai umat Allah dengan akibat-akibat moral yang besar.

Kondisi itulah yang membuat Rasul Paulus mengucap syukur yang dia bahasakan  sebagai kasih karunia dari Allah, yang membuat mereka  menjadi kaya dan tak berkekurangan dalam satu karuniapun (1:4, 7). Kehidupan jemaat yang penuh dengan kasih karunia inilah yang membuat mereka tak bercacat di hadapan Allah. Rasul Paulus juga mengingatkan kepada jemaat di Korintus bahwa kasih karunia yang mereka dapatkan itu bukan karena usaha mereka, tapi merupakan pemberian dari Allah dalam Yesus Kristus.

Selanjutnya Rasul Paulus berusaha agar jemaat di Korintus tetap terus menerus memelihara kekudusan hidup sebagai satu komunitas orang percaya. Sebab bukan secara kebetulan saja Yesus Kristus disebut berulang-ulang dalam bagian ini, pasti karena ada sesuatu yang sedang menggerogoti kehidupan persekutuan berjemaat. Jadi perkataan-perkataan Paulus ini tidak hanya bersifat himbauan moral saja tapi sebagai suatu peringatan yang terus menerus agar kasih karunia yang mereka miliki dalam Yesus Kristus harus tetap  dipertahankan dengan setia.

Makna dan Implikasi Firman

Rasul Paulus menyadari bahwa kerasulan yang dimilikinya itu bukan karena usahanya tetapi merupakan kasih karunia Tuhan, oleh sebab itu penting sekali tiap orang menyadari dan menghargai serta menghormati akan tugas kerasulan itu dalam hal ini tugas sebagai pelayan khusus (Pendeta, Penatua, Syamas, Guru Agama). Di mana tugas kerasulan ini sangat menjunjung arti kekudusan seorang hamba Tuhan. Hal ini sangat mempengaruhi pelayanan gereja zaman sekarang, ketika seorang hamba Tuhan hanya melihat tugas kehambaan itu sebagai tugas yang biasa saja, hanya terkait dengan periode pelayanan gereja. Sehingga tak jarang ada pelsus tidak lagi menghormati kekudusannya sebagai hamba Tuhan, dengan masih saja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Antara lain masih didapati ada hamba Tuhan yang melibatkan diri pada praktik prostitusi, perjudian, pemabukan, kekerasan dalam rumah tangga, korupsi, dan lain-lain.

Perbuatan tersebut di atas secara langsung berdampak buruk bagi jemaat yang dilayaninya, sehingga ada sebagian anggota jemaat melakukan perbuatan yang sama seperti yang dilakukan oleh pelsus tersebut. Hal ini menunjukan bahwa kekudusan itu harus benar-benar menjadi bagian hidup bagi seorang hamba Tuhan, sehingga apa yang ia lakukan pada akhirnya mempengaruhi kehidupan bergereja. Selain itu kekudusan menurut rasul Paulus bukan hanya untuk hamba Tuhan tapi juga untuk warga jemaat. Dengan demikian warga gereja juga terpanggil untuk menunjukan kekudusan hidupnya sebagai jawaban atas kasih karunia yang telah dianugerahkan Tuhan bagi orang percaya.

Selain hal tersebut di atas rasul Paulus juga menekankan tentang pentingnya hidup yang tidak bercacat di hadapan Tuhan untuk dinyatakan dalam kehidupan jemaat sehari-hari. Sehingga terciptalah satu persekutuan hidup umat yang mela-kukan firman Tuhan, itu bukan hanya berhenti pada hal-hal serimonial saja melainkan juga pada praktik hidup sehari-hari.

Sikap saling menghormati di antara sesama manusia adalah perilaku yang patut ditumbuhkembangkan dalam berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka yang melakukannya disebut orang yang beradab. Perbuatan ini harus dipraktekkan terus seperti rasul Paulus yang selalu menyapa jemaat dan semua orang  percaya.

Karena Allah adalah setia, maka setiap orang percaya, terpanggil untuk tetap setia pada kehendak-Nya sampai hari kedatangan Kristus. Umat Tuhan terpanggil untuk tetap menjaga kekudusan hidup dalam bergereja dengan tidak mengingkari imannya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Bagaimana saudara memahami arti kekudusan dan kasih karunia menurut 1 Korintus 1:1-9?
  2. Bagaimana cara mempraktekkan kekudusan dan kasih karunia dalam hidup bergereja dan berjemaat? 

NAS PEMBIMBING : Imamat 20:26 

POKOK-POKOK DOA:

  • Mohon Roh Kudus menuntun para hamba Tuhan dan jemaat untuk memahami kekudusan dan kasih karunia.
  • Mohon Roh Kudus memampukan para pelayan khusus menjaga kekudusan sebagai kasih karunia Allah 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK IV 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: KJ. No. 2 Suci, Suci, Suci

Pembukaan: Hati S’bagai Hamba

Pengakuan Dosa & Pengampunan: NNBT No. 11 Ya Allahku Kami Mengaku Dosa

Persembahan: NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan”

Nyanyian Penutup: Oh Tuhan Pimpinlah Langkahku 

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

[sociallocker id=6891]

Terima Kasih Telah Menekan Tombol Like Page

Sinode GMIM

[/sociallocker]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here