MTPJ 25 November s/d 1 Desember 2018

0
1435
TEMA BULANAN : “Gereja di Era Digital”
TEMA MINGGUAN : Gunakan Media Sebagai Sarana Pelayanan

BACAAN ALKITAB : Keluaran 4:1-17

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Saat ini kita sedang berada di era Digital. Banyak orang memanfaatkan sarana komunikasi modern seperti: media sosial digital dalam berkomunikasi. Kecenderungan ketergantungan pada komunikasi modern ini tumbuh dan berkembang secara luas di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan upaya-upaya menciptakan jejaring sosial dan menjadikan sarana komunikasi modern ini sebagai gaya hidup. Menjadi persoalan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat ketika media sosial digital dimanfaatkan secara tidak tepat. Fenomena banyaknya persoalan muncul karena pemanfaatan yang melenceng dari sarana komunikasi media sosial digital ini merambah dalam berbagai ranah kehidupan. Persoalan perselingkuhan, perselisahan, pencemaraan nama baik, pornografi, dan berbagai masalah etis muncul melalui sarana media social digital.

Peran gereja justru menjadi tertantang dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi informatika. Gereja tidak bisa menghindar dan tidak bisa tidak harus merespons hal tersebut. Sesungguhnya di era digital ini peradaban baru manusia sedang berlangsung, maka tepatlah dalam penginjilan gereja juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi yang membangun iman dan perdamaian. Gereja adalah pewarta Firman Tuhan. Gereja juga perlu mengangkat tema-tema yang berhu-bungan dengan realitas perkembangan manusia dan teknologi di abad ini agar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk itu tema perenungan warga GMIM di minggu berjalan ini adalah “Gunakan Media Sebagai Sarana Pelayanan”.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Tuhan Allah bermaksud membawa orang Ibrani keluar dari Mesir, tempat mereka  diperbudak. Betapa pentingnya hal ini bagi Allah demi sebuah bangsa yang besar sebagai bangsa pilihan Allah yang memiliki otoritas atas bangsanya sendiri. Dalam rangka konteks tersebut tahapan pertama yang Allah lakukan adalah menentukan pemimpin yang akan memimpin orang Ibrani keluar dari Mesir. Orang yang dipilih Allah adalah Musa, dengan demikian dalam kitab Keluaran, Musa adalah tokoh utama yang dibicarakan. Keluaran 4 : 1-17 merupakan bagian dari panggilan Allah kepada Musa. Dari pihak Musa, ia meragukan  kepemimpinannya nanti; Musa tidak yakin apakah orang Ibrani mengakui panggilannya. Musa ragu apakah orang Ibrani mau percaya dan mau men-dengarkan perkataannya, sekalipun Allah menjamin. Musa berpikir jika orang Ibrani yang kemudian disebut umat Israel menduga kata-kata Musa dari diri sendiri, bukan dari Tuhan, dengan berkata: Tuhan tidak menampakan diri kepadanya, lalu bagaimana membuat mereka percaya akan perkataannya. Apakah yang akan Musa lakukan? (4:1).

Tuhan Allah mengerti keraguan Musa akan kepemimpinannya nanti, maka Tuhan Allah melakukan tanda-tanda mujizat untuk memberi keyakinan kepada Musa dan nantinya Musa kepada umat Israel. Allah-pun memberi kuasa kepada Musa untuk melakukan mujizat, terdapat 3 ( tiga) mujizat menurut perikop ini. Dalam melakukan tanda-tanda mujizat, Tuhan Allah menggunakan media, yakni  berupa: tongkat, tangan Musa, air dari sungai Nil dan Harun. Apa artinya tanda mujizat ini bagi pekerjaan Tuhan? Ternyata untuk melaksanakan maksud dan kehenda-Nya Tuhan Allah memakai “alat” benda mati seperti tongkat, alam semesta/benda cair seperti air di sungai Nil, bahkan tubuh manusia seperti tangan Musa, maupun talenta manusia seperti kafasihkan Harun dalam berbicara. (4:2-17).

Mujizat pertama yang Allah lakukan adalah dengan memakai media tongkat. Tuhan menyuruh Musa melemparkan tongkat ke tanah dan tongkat itu berubah jadi ular, membuat Musa lari, lalu Tuhan menyuruh untuk memegang ekor ular itu, maka ular  itu kembali menjadi tongkat. Ini adalah mujizat yang pertama (4 : 2 -4).

Mengantisipasi jika nantinya dengan mujizat yang pertama tidak cukup menyakinkan umat untuk percaya, maka Tuhan Allah menyiapkan mujizat yang kedua. Kali ini tangan Musa yang dipakai sebagai media. Tangan Musa dimasukkan ke dalam baju, lalu dikeluarkan sudah berubah menjadi tangan yang berkusta putih seperti salju, lalu dimasukkan kembali ke dalam baju, kemudian dikeluarkan lagi dari dalam baju, maka tangan itu sudah pulih kembali. (4:6-8)

Jika tidak cukup dua tanda mujizat, kesabaran Tuhan di nyatakan dengan menambahkan satu mujizat lagi, medianya air. Di ambil dari sungai Nil, air dicurahkan di tanah yang kering, maka air itu menjadi darah di tanah yang kering itu. (4:9)

Dengan dahsyat Tuhan menunjukan kekuasaan-Nya, namun ternyata dalam menerima penugasan Allah, Musa masih keberatan, ia berdalih, dengan alasan tidak pandai bicara, berat mulut dan berat lidah; Musa berhadapan dengan kemahakuasaan Tuhan yang melimpahkan dan menambahkan kemampuan termasuk kepada Musa untuk belajar berbicara menyatakan apa yang diajarkan Tuhan. Dalam tahapan ini Musa masih berpendirian tidak bersedia, dalam rangka mau coba-coba mundur atau kecondongan untuk lari dari tanggung jawab dan menyerahkannya kepada orang lain. Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus”. Allah menjadi murka, tetapi segera reda dengan menunjuk Harun menjadi juru bicara Musa atau penyambung lidah ilahi.  (4:10-16) Dengan ditunjuknya  Harun menjadi juru bicara, alasan apalagi Musa menolak panggilan Allah? Ia tidak bisa mengelak lagi.

Penegasan Allah kembali dinyatakan tentang pemakaian tongkat dalam ayatnya yang ke 17. Tongkat sebagai tanda menerima tugas dan juga sekaligus dikaitkan dengan tanda dan mujizat. Tongkat adalah media yang diberikan Allah dipakai dalam pekerjaan pelayanan Tuhan.

Makna dan Implikasi Firman

Dalam kehidupan bersosial di tengah-tengah masyarakat, jemaat, dunia kerja, dalam keluarga, dan komunitas lainnya, betapa pentingnya kehidupan berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, interaksi antar manusia dapat dibangun dan secara teologis interaksi manusia dengan Tuhan dan Tuhan dengan manusia juga dapat terpelihara melalui komunikasi. Tuhan dapat berkomunikasi dengan satu orang manusia dan kepada banyak orang. Namun demikian maksud atau kehendak Tuhan yang dikomunikasikan kepada satu orang tidak hanya berhenti kepadanya, melainkan ada maksud-maksud Tuhan yang harus diteruskan, kepada orang lain. Melalui komunikasi kehendak Tuhan dinyatakan, hal-hal yang baik dapat dibangun dan bahkan hal-hal yang buruk dapat diperbaiki dan dipulihkan melalui komunikasi. Jikalau manusia hanya berdiam diri, tidak bertindak dan berkomunikasi rasanya mustahil untuk menggapai apa yang diharapkan dari keluarga, masyarakat dan jemaat.

Tuhan memakai Musa sebagai orang yang dipilih-Nya, untuk melaksanakan rencana penyelamatan Allah bagi orang Ibrani dari perbudakan Mesir, kemudian menjadikan orang Ibrani menjadi sebuah bangsa yang besar, sebagai bangsa yang dipilih Allah disebut Israel dan agar Israel percaya dan mengakui ialah Allah, membawa mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir. Dalam berkomunikasi dengan Musa dan dengan umat Israel, hal yang menarik adalah Tuhan Allah memakai media. Tongkat yang menjadi ular dan dipegang ekornya kembali menjadi tongkat, memberi arti bahwa Allah memakai benda mati untuk mengko-munikasikan kuasa Allah yang tak terbatas itu kepada manusia, agar manusia percaya akan Allah dan kehendak-Nya. Kehendak Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia, oleh karena itu ketika manusia masih belum yakin akan kebenaran perkataan Tuhan, Tuhan dengan cara-Nya memakai berbagai media melakukan keajaiban agar manusia percaya kehendak Tuhan termasuk kepada Musa, kemudian Musa kepada umat Israel. Oleh karena itu Allah menyiapkan dua tanda mujizat lagi bila yang pertama belum berhasil. Mujizat kedua tangan Musa dipakai Tuhan sebagai media, tangan yang di masukan ke dalam baju Musa kemudian ditarik keluar, tangan itu kena kusta putih seperti salju, lalu dimasukkan kembali ke dalam baju dan ditarik ke luar tangan Musa pulih kembali. Mujizat ketiga air dari sungai Nil menjadi darah,  ketika air ditaruh di tanah yang kering air itu menjadi darah. Tuhan memakai media untuk memberitakan kuasaNya, untuk menyaksikan bahwa Ia Tuhan.

Di era digital, gereja harus terbuka dalam menanggapi media elektronik maupun media online. Media elektronik seperti Televisi, radio, computer dan lain-lain sedangkan media online adalah situs jejaring sosial yang mengizinkan para pengguna atau (user) untuk membuat profil atau informasi pribadi seperti foto, Video, data pribadi dan bahkan kegiatan keseharian. Beberapa situs jejaring sosial yang kita kenal, yaitu facebook, Twitter, Path, instagram, dan Geogle plus. Namun yang paling terpopuler dalam kenyataan adalah facebook. Realitas peradaban baru di zaman era digital oleh gereja harus disikapi secara terbuka dan menggunakannya sebagai media pemberitaan Injil dan pemberitaan tentang kemahakuasaan Allah. Dari penglihatan kita, facebook sangat banyak penggunanya maka adalah kesempataan emas dalam upaya”membangun” Kerajaan Allah dan peluang pekabaran Injil sebagai sebuah kekuatan. Namun demikian perlu juga diperhatikan dampak negative dari media online. Peran gereja adalah mengingat-ingatkaan jemaat, menegur dengan kasih karena adanya pemanfaatan media online seperti facebook yang menjadi batu sandungan. Gereja harus menghindarkan diri dari komunikasi yang kebablasan, yang merusak esensi persekutuan jemaat.

Peran gereja dalam memanfaatkan media sosial digital bagi pelayanan dalam rangka penginjilan, Pemberitaan Firman dan sebagai sarana komunikasi gereja dan pelayanan khusus serta warga gereja tentu adalah untuk menjawab kebutuhan pelayanan. Sehubungan dengan maksud tersebut di atas dan melihat realitas adanya dampak negative akibat pemanfaatan sarana teknologi informatika digital yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan maka gereja harus menyuarakan spirit integritas kristiani dalam pemanfaatannya. Peran gereja adalah menyuarakan paling tidak beberapa point antara lain: 1. Gereja (Pemimpin, pelayan dan umatnya) harus membangun kemampuan dalam penggunaan media sosial dengan sikap kritis dalam konteks wawasan etis yang memajukan nilai-nilai kemanusiaan/menempatkan manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia. 2. Sebagai sarana penginjilan. 3. Dalam semangat saling membantu, saling melengkapi, saling meng-hidupkan, saling memajukan dan saling memberdayakan. 4. Menghindarkan diri dari diperbudak atau menjadikan berhala komunikasi media social  karena keserakahan.

Marilah kita menggunakan media online sebagai media ber-koinonia, berdiakonia, bermarturia. Berkoinonia seperti ucapan selamat HUT, dukungan moral, turut berdukacita, dan sebagainya; Berdiakonia seperti ucapan-ucapan yang menghibur, menguatkan, mengarahkan, dan sebagainya. Hindarkanlah status yang men-cemarkan nama orang lain. Media haruslah digunakan untuk pelayanan.

 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Bagaimana sikap Musa menanggapi panggilan Tuhan kepa-danya menurut perikop bacaan dalam Keluaran 4:1-17?
  2. Allah memakai media untuk menyatakan kekuasaan-Nya menyakinkan Musa agar percaya diri dalam menerima pang-gilan Tuhan. Jelaskan media apa yang Tuhan gunakan.
  3. Di era digital, media online khususnya facebook banyak digunakan dalam berkomunikasi, termasuk warga GMIM (PELSUS dan Jemaat) ada dampak positif dan negative. Jelaskan dan bagaimana solusinya mengatasi/mengantisipasi dampak ini.

 

NAS PEMBIMBING: Efesus 6:16

 

POKOK – POKOK  DOA:

  • Agar warga gereja memberi diri dalam pekerjaan Tuhan
  • Tetap percaya pada kuasa Tuhan
  • Dapat menggunakan berbagai media secara positif, baik media cetak, elektronik maupun online.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:

HARI MINGGU BENTUK IV

 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan:  NNBT No 3 Mari Kita Puji Allah

Pembukaan: PKJ No. 2 Agunglah

Pengakuan Dosa dan Pengampunan: KJ No 439 Lawanlah Godaan

Persembahan: NKB No 197 Besarlah Untungku

Penutup: NNBT No 21  Pergilah Kamu.

 

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.