MTPJ 27 Juli – 2 Agustus 2014

0
2333
TEMA BULANAN : “Berdemokrasi Dalam Ekonomi Yang Berkeadilan”
TEMA MINGGUAN : “Ekonomi Yang Menyelamatkan”
Bahan Alkitab:  Imamat 25:23-28; Lukas 19:1-10

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ada ungkapan orang: “Dulu tanah tidak ada harga, tetapi sekarang sungguh sangat mahal”. Inilah realitas yang ada, seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Gunung-gunung di ratakan, lembah dan lautan ditimbun, untuk mendapatkan lahan yang bisa di buat bangunan, entah rumah, kantor, tempat perbelanjaan dan bangunan-bangunan lainnya. Hal ini mau menunjukkan bahwa ketersediaan tanah  sangat diperlukan, apalagi dengan meningkatnya populasi penduduk di negeri ini, menjadikan tanah sebagai satu kebutuhan untuk dibangun rumah sebagai tempat tinggal.

Kenyataan ini membuat banyak orang yang menjadikan tanah sebagai ladang bisnis. Tanah bisa dijual tetapi juga bisa digadaikan. Dengan jangka waktu yang sudah ditentukan atau disepakati bersama tanah itu bisa ditebus dan dimiliki kembali oleh pemiliknya. Di satu sisi bisnis ini dilakukan untuk meraih keuntungan besar (meraup kekayaan)  bagi si pebisnis, dan juga bisa membantu orang yang membutuhkan uang (Menyelamatkan orang dalam kesulitan ekonomi) bagi si penjual/penggadai. Tetapi di sisi yang lain sebenarnya si penjual/penggadai sudah dirugikan karena pebisnis sudah mengambil lebih dari yang seharusnya.

Dengan diangkatnya tema “Ekonomi Yang Menyelamat kan”, maka  sebagai warga gereja kita diajak untuk melihat bagaimana seharusnya bertindak dalam menyelamatkan sesama yang membutuhkan.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Perikop dalam Imamat 25:23-28 ini menjelaskan secara lebih detail tentang pengembalian tanah yang tergadaikan karena hutang di tahun Yobel. Tahun Yobel adalah salah satu perayaan keagamaan dalam tradisi Yahudi. Secara sederhana, tahun ini dikenal sebagai tahun ke-limapuluh yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan ungkapan jubilee. Dalam tradisi Yahudi, tahun Yobel dirayakan bersamaan dengan Hari Raya Pendamaian (Ibrani: yom kippur).Perayaan ini dibuka dengan meniupkan sangkakala (syofar) yang tidak hanya menjadi tanda dimulainya perayaan, tetapi juga menjadi seruan pembebasan bagi para budak, termasuk pembebasan lahan pertanian. Dengan kata lain tahun Yobel ialah tahun yang memberikan permulaan baru bagi mereka yang miskin ataupun mengalami kesulitan materi. Mereka yang terpaksa harus menjual ladang-ladang/tanah mereka  akan menerima nya kembali dan menjadi bebas. Alasannya  karena “tanah semata-mata adalah milik Allah – Tanah jangan dijual mutlak” (ay 23). Allah mengatakan kepada orang Israel bahwa mereka bukan pemilik sesungguhnya dari tanah, karena tanah itu adalah milik-Nya; mereka hanya merupakan pengurusnya saja. Mereka wajib mengatur dengan baik dan benar bagi Allah, bagi diri sendiri dan bagi sesama, sehingga mereka tidak dapat menjualnya. Peraturan ini bermaksud supaya milik/kepunyaan jangan sampai hilang dari keluarga  ter tentu. Setidak-tidaknya dalam tahun pelepasan semua kembali kepada pemiliknya.

Kemiskinan adalah salah satu alasan yang membuat seseorang di Israel  menjual tanahnya (bdg. I Raj. 21:3). Dalam kasus semacam itu seorang kerabat penebus bisa tampil dan membeli kembali tanah yang telah dijual itu dan mengembalikannya kepada pemilik semula. Jika orang itu tidak memiliki kerabat untuk menebus tanahnya dan telah berhasil mengumpulkan dana yang cukup, dia sendiri bisa membeli kembali tanahnya dengan ikut memperhitungkan jumlah hasil tanah yang tersisa sampai Tahun Yobel dan membayar orang itu dengan harga yang pantas. Jika orang itu tidak memiliki kerabat penebus maupun dana yang cukup, tanah itu dengan sendirinya kembali kepadanya pada Tahun Yobel. Pembeli tidak rugi apa-apa melalui pengaturan ini sebab dia hanya membayar hasil panen hingga Tahun Yobel saja.

Hal yang sama juga dalam Lukas 19:1-10, tentang seorang Yahudi  bernama Zakheus yang memberi kelegaan kepada banyak orang melalui kelimpahannya sebagai buah dari pertobatannya. Awalnya Zakheus adalah seorang kepala pemungut cukai (penagih pajak), seorang  yang kaya, yang telah mengumpulkan harta banyak untuk dirinya sendiri. Ia di pandang rendah oleh masyarakat karena mencari nafkah dengan mengumpulkan pajak lebih banyak daripada yang seharusnya ia peroleh. Tetapi ketika ia berjumpa dengan Yesus, membawa perubahan dalam diri Zakheus sehingga ia dari seorang yang hanya berpikir bagaimana mengumpulkan menjadi seorang yang mau membagi berkat. Oleh karena peristiwa itu, ia bersukacita apalagi ketika Yesus hendak menumpang di rumahnya, itu merupakan satu kehormatan yang besar bagi Zakheus. Dan akhirnya ia menyesali segala dosanya. Wujud dari pertobatan itu melahirkan tekad Zakheus yang memberikan setengah dari seluruh hartanya kepada orang miskin serta mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang telah di peras.

Makna dan Implikasi Firman

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan antara satu dengan yang lain. Ada satu semboyan yang di gagaskan oleh Sam Ratulangi sebagai mottonya yaitu; “Sitou Timou Tumou Tou” artinya manusia hidup untuk menghidupkan orang  lain. Kata menghidupkan memiliki makna mendalam, bahwa sebagai sesama manusia harus saling memberi hidup, saling membantu bukan saling mencari keuntungan untuk memperkaya diri  apalagi dengan cara menindas orang lain.

Kekayaan adalah berkat Tuhan yang harus di syukuri. Tetapi yang menjadi persoalan sekarang  ialah: Bagaimana cara mengatur dan menata berkat Tuhan, agar itu tidak saja  dinikmati oleh diri sendiri tetapi juga dapat dinikmati oleh orang lain (membagi kekayaan kepada mereka yang membutuhkan) agar terjadi keseimbangan. Sebagai warga gereja kita dipanggil untuk saling menolong dan menjadi berkat bagi sesama tentu saja dengan hati yang tulus tidak ada kepentingan-kepentingan terselubung di dalamnya melainkan membuat orang lain merasa terbantu dengan pertolongan yang kita berikan. Sebab apa yang kita terima dari Tuhan, tidak semua dapat kita nikmati sendiri tetapi harus membagi sebagai berkat untuk orang lain. Karena itu  kita harus peka dengan keadaan/lingkungan yang ada di sekitar kita dan kepada sesama kita. Jika kita mampu menolong/mambantu orang yang membutuhkan kemudian tidak dilakukan sama saja dengan kita mengambil/mencuri hak orang lain.

 

PERTANYAAN DISKUSI

1. Apa persamaan dan perbedaan dari kedua bacaan ini (Imamat 25:23-28 dan Lukas 19:1-10)? Jelaskan!

2. Hal-hal apa saja yang dapat di petik dari bacaan ini untuk di implementasikan dalam kehidupan berjemaat?

3. Menurut saudara bagaimana cara mengelolah kekayaan sebagai berkat Tuhan agar terjadi keseimbangan dalam hidup?

 

NAS PEMBIMBING: Kisah Para Rasul 20:35

POKOK-POKOK DOA

  • Meningkatkan kepedulian terhadap sesama manusia. Membantu, menolong mereka yang membutuhkan. Membebaskan sesama dari penderitaan dan keter purukan.
  • Mendorong jemaat untuk menjaga, mengelolah dan mengatur berkat Tuhan
  • Menguatkan warga gereja memahami kekayaan bukanlah jaminan keselamatan, melainkan sebagai sarana untuk menjadi berkat bagi orang lain (membagi kepada sesama yang membutuhkan)

 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK IV

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: NNBT No 2.

Pembukaan: NNBT No 9.

Pengakuan Dosa & Pengampunan: NNBT No 8.

Pembacaan Alkitab: NNBT No 7.

Persembahan: NNBT No 15.

Penutup: KJ No 424.

 

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here