MTPJ 28 Juni – 4 Juli 2015

0
5229

TEMA BULANAN: “Penginjilan dan Pendidikan Sebagai Upaya Membangun Solidaritas Kebangsaan”
TEMA MINGGUAN: “Pendidikan Diperhatikan, Injil Terus Diberitakan”
Bahan Alkitab: Amsal 23:12-16; Wahyu 14:6-7

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1).

Sistim pendidikan di Indonesia sekarang ini masih saja mengalami persoalan-persoalan yang krusial seperti: Mata pelajaran yang secara umum hanya mengutamakan segi kognitif (pengetahuan) sementara pendidikan akhlak/budi pekerti (segi afektif) sudah kurang. Pendidikan yang hanya menghasilkan manusia-manusia setengah robot yang kurang punya rasa/hati,  sebab lebih mengutamakan hal-hal yang rasional. Oleh karena itu terjadi penyimpangan perilaku dari anak-anak sampai orang tua. Tidak sedikit orang yang mengeluh tentang kelakuan anak-anak yang kurang sopan, tak beretika, melakukan kejahatan seperti berbohong, mencuri, seks bebas dan lain-lain. Demikian sebaliknya dilakukan juga oleh orang tua yang membuat anak-anak mengeluh tentang orang tuanya yang tak bermoral. Namun demikian tentu saja upaya pendidikan yang menyentuh segi moral dan etika (perasaan/hati) harus dilakukan semaksimal mungkin dari keluarga (informal) sampai di sekolah-sekolah (formal).

          Penginjilan atau memberitakan kabar baik/firman Tuhan tetap menjadi tugas utama gereja sebagaimana amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28: 18-20). Penginjilan yang selama ini dilakukan GMIM harus selalu kita tingkatkan agar tidak hanya bersifat teoritis, teologis, argumentatif yang akibatnya tidak mengubah/mentobatkan perilaku warga gereja yang salah. Hal ini berakibat gereja kita rentan dengan konflik yang bahkan cenderung ditinggalkan. Padahal penginjilan/pemberitaan kabar baik dimaksudkan agar warga gereja mengalami perubahan perilaku dan pertumbuhan rohani.

          Pendidikan yang mengutamakan budi pekerti/akhlak (moral dan etika) sudah harus diutamakan demikian dengan penginjilan/pemberitaan firman Tuhan harus membuat warga gereja bertobat dan diubahkan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Amsal 23:12-16.

Kata “didikan” kurang lebih 22 kali disebutkan dalam kitab Amsal, dari kata Ibrani: “musar yang dapat juga diartikan disiplin, koreksi praktis yang diterima oleh seorang murid dari guru atau orang tua, tetapi juga untuk didikan, disiplin dan koreksi moral dari hikmat yang dipersonifikasi (sebagai oknum). Malahan kata “didikan” sering digunakan sebagai makna koreksi yang menegur bahkan bermakna hukuman dengan rotan atau tongkat (ayat 13 dan Pasal 13:24). Kadangkala “didikan”, disiplin dan koreksi/teguran moral dari Allah kepada seseorang atau bagi bangsa Israel. (Ulangan 11:2; Ayub 33:16; 36: 10; Mazmur 50:17; Yeremia 17:23; 35:13). Didikan dimaksudkan agar seseorang atau bangsa memliki tata tertib hidup.

Di sini memperlihatkan bahwa orang tua membujuk anaknya untuk membaca Kitab Suci/pelajaran agama untuk memperhatikan pengetahuan. Pengetahuan dari kata Ibrani: ”da’ath”, yang sama artinya dengan “hokmah, yang berarti kebenaran moral.

Dari pengetahuan ini anak dididik untuk mengetahui kewajiban-nya, bahaya yang mengintainya bila tidak takut akan Tuhan dan manfaat didikan bagi dirinya. Bila anak tidak mengarahkan pikiran pada didikan dan tidak mau berpengetahuan (lawan dari kebodohan) maka itu akan membahayakan masa depannya, sebaliknya dengan didikan dan pengetahuan itu maka anak tersebut dipastikan dapat memiliki masa depan.

Terkadang orang tua sebagai pendidik demi pendidikan itu menggunakan rotan/cemeti untuk membetulkan, memperbaiki kelakuan anak. Memberi pukulan yang kepada anak manusia bukan seperti  yang kita berikan pada binatang. Rotan tidak akan membunuhnya, justru itu akan mencegah si anak membunuh dirinya sendiri dengan jalan yang keji. Dalam 2 Samuel 7:14, Tuhan Allah berlaku sebagai Bapa, bagi umat Israel serta menjadi (anak-Nya). Apabila umat-Nya melakukan kesalahan maka Tuhan akan menghukum mereka dengan rotan seperti yang dilakukan manusia pada umumnya.

Untuk sementara cara ini tidak menggembirakan tetapi menyedihkan baik bagi orang tua maupun bagi si anak. Tetapi apabila pukulan itu diberikan dengan hikmat, dirancang demi kebaikan, disertai dengan doa dan diberkati Allah maka itu akan menjadi sarana yang membahagiakan yaitu untuk mencegah kehancuran total dan menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati. Dengan pendidikan ini orang tua memberitahu anaknya bahwa yang diharapkannya tidak lain demi kebaikan anaknya, yakni agar hatinya bijak dan bibirnya mengatakan yang jujur. Anak yang belajar mengatakan yang jujur dan tidak berani mengatakan yang jahat, diharapkan akan berbuat jujur ketika ia tumbuh dewasa.

          Betapa bahagianya hati orang tua tatkala anaknya memenuhi harapannya. Kesusahan membesarkan anak dibayar dengan kejujuran, karena si anak berpengetahuan akhlak/moral yang baik. Kita dapati di sini bahwa hikmat anak menjadi kegembiraan orang tua dan guru-guru yang akan merasakan kegembiraan besar jika melihat mereka hidup dalam kebenaran (lihat 3 Yohanes 1:4) 

Wahyu 14: 6-7.

Penglihatan Yohanes seorang malaikat terbang di tengah-tengah langit yaitu cakrawala dan menyerukan  untuk menyembah Allah saja. Seruan yang sama dilakukan oleh Rasul Paulus di Listra (Kisah Para Rasul. 14:15). Malaikat memastikan bahwa semua bangsa di bumi mendengarnya dan setiap orang memiliki kesempatan untuk mendengar kabar baik. Oleh karena seruan malaikat ini adalah seruan yang baik, maka seruan itu disebut Injil, yaitu kabar baik. Seruan ini bernama Injil Kekal karena mempunyai nilai kekal. Malaikat di sini sebagai simbol segala pemberitaan firman Tuhan/Pekabaran Injil.

Malaikat memanggil semua orang untuk bertobat selagi  ada waktu, karena ini  kesempatan terakhir mereka, sebab tidak ada waktu lagi. Seruan untuk bertobat harus dilakukan secepat-nya sebab telah tiba saat penghakiman oleh Allah. Semua orang harus takut kepada Allah dan setiap orang harus menghormati Allah. Mereka harus menghormati Dia sebagai Tuhan dari semua. Mereka harus tahu bahwa Ia adalah Allah sumber segala kekuasaan. Orang-orang zaman Yohanes sangat takut kepada  kekuatan  binatang (Kaisar Romawi). Tetapi Allah jauh lebih kuat daripada binatang/Kaisar. Allah akan menjadi hakim dari setiap orang. Hari Tuhan sudah hampir datang ketika ia akan melakukan hal ini. Mereka yang menentang Tuhan tidak bisa mengharapkan masa depan yang bahagia. Allah menciptakan langit dan bumi, Dia membuat laut dan sungai. Tuhan mencipta-kan seluruh dunia, dan itu adalah milik-Nya. Jadi, semua orang harus menyembah-Nya. Mereka harus berbalik kepada Allah dan  melayani Dia.

Makna dan Implikasi Firman

Menurut kitab Amsal, tujuan pendidikan adalah untuk membantu anak agar memperoleh kebijaksanaan. Sebab mencapai kebijak-sanaan berarti hidup; sedangkan kegagalan mencapainya berarti kematian. Oleh karena itu pendidikan dan penginjilan menjadi tugas gereja dalam rangka menghasilkan warga gereja yang bijak-sana (takut akan Tuhan) berakhlak, berbudi pekerti, bermoral dan beretika. Dalam proses pendidikan berlangsung pula peng-injilan demikian juga sebaliknya dalam penginjilan berlaku juga proses pendidikan. Pendidikan dan penginjilan itu pertama-tama harus dimulai dari keluarga. Orang tua bertindak sebagai guru/penginjil bagi anak-anak. Sebab itu orang tua harus bertobat sungguh-sungguh, mendisiplinkan diri, takut akan Tuhan, agar menjadi panutan bagi anak-anak. Inilah orang tua yang penuh hikmat sehingga akan mudah mendidik/mengajar anak-anak berdasarkan hikmat/pengetahuan rohani.

Masalah sosial anak dan remaja, yakni prilaku yang me-nyimpang dapat berupa: kebiasaan merokok; minum – minuman keras/mabuk–mabukan; menggunakan narkotika atau zat adiktif lainnya; melakukan pergaulan bebas atau seks pra nikah, dan melakukan tindakan kekerasan, mencuri secara pribadi maupun berkelompok. Semua tindakan itu mereka lakukan tentu karena ada latar belakangnya.

 Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya prilaku menyimpang dari anak dan remaja antara lain; 1) kurangnya perhatian dari orang tua, karena kesibukan, atau karena keluarga kurang harmonis; 2) lingkungan pergaulan/pengaruh teman yang tidak mendidik; 3) tayangan televisi (iklan, sinetron, adegan keke-rasan, kemewahan, prilaku prematur misalnya: Siswa SD/SMP sudah pacaran); 4) akses internet (adegan/gambar porno); 5) akses media lain misalnya, majalah, koran, CD/VCD Porno; 6) belum mantapnya pendidikan budi pekerti.

Menyimak aneka permasalahan di atas tidak bisa tidak orang tua, guru (sekolah), gereja dan pemerintah bertindak cepat untuk mengubah sistem pendidikan dalam rumah maupun sekolah yang lebih banyak mengutamakan pengetahuan berdasar pada teori (kognitif) ke pengetahuan yang lebih mendidik akhlak/ budi pekerti (afektif). Pendidikan yang mengubah perilaku tidak menjadikan anak sebagai obyek tetapi mulailah dengan menem-patkan anak sebagai subyek. Hormati dan hargai prestasi anak dan tidak menghakimi/menyalahkan anak apalagi menekannya sekalipun dia telah melakukan kesalahan. Apalagi di sertai keke-rasan fisik yang berlebihan, seperti: meninju, memukul, menen-dang, menyulut dengan api rokok, dan lain-lain. Hukuman tidak harus dengan kekerasan tetapi dapat dilakukan dalam bentuk sangsi ekonomi dengan mengurangi jatah uang jajan atau menunda kebutuhan sekunder yang tidak terlalu perlu, seperti pakaian, pulsa, dll.

Hal yang sangat penting untuk kita perhatikan adalah menyelamatkan jiwa anak-anak kita. Janganlah sampai kita meli-hat anak-anak terancam bahaya masuk neraka, tanpa mengguna-kan segala kemungkinan yaitu mendidik dengan sepenuh hati dan kepedulian yang besar untuk merebut mereka kembali ke jalan yang benar seperti merebut kayu dari api yang membakar untuk selama-lamanya.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI    

  1. Apa bentuk Pendidikan dan Penginjilan menurut Kitab Amsal   23:12-16 dan Wahyu 14:6-7?
  2. Bagaimana seharusnya melakukan pendidikan dan peng-injilan dalam lingkungan GMIM ?

NAS PEMBIMBING: Amsal 29:17.

POKOK-POKOK DOA :

  • Bagi orang tua agar mendidik anak-anak berdasarkan Firman Tuhan, supaya takut akan Tuhan.
  • Pendidikan formal di GMIM: TK sampai Perguruan T
  • Program GMIM bidang Pekabaran Injil.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK IV

NYANYIAN YANG DIUSULKAN :

Persiapan : NNBT No 2. Dunia Tercipta Oleh Kar’na Tuhanmu.

Sesudah Doa Pembukaan. NNBT No.7. Mari Puji Tuhan Yesus.

Sesudah Pengakuan dan Pengampunan. NNBT No 9. Ku Akan Selalu  Bersyukur

Persembahan. NNBT No. 35. Tuhan Kau Gembala Yang Baik.

Nyanyian Penutup. NNBT No. 21. Pergilah Kamu.  

ATRIBUT :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here