MTPJ 3 – 9 Agustus 2014

0
1397
TEMA BULANAN: “Berdemokrasi Dalam Ekonomi Yang Berkeadilan”
TEMA MINGGUAN: “Etika Pelaku Ekonomi”
Bahan Alkitab: Kisah Para Rasul 16:13-18; Amsal 10:15-16

 

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Ekonomi dan bisnis sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh orang-orang percaya (Gereja), sebab ekonomi dan bisnis adalah kotor dan kurang pantas bagi orang jujur, saleh dan bermoral.  Padahal untuk bertahan hidup, apalagi mengembangkan hidup, setiap manusia pasti melakukan aktivitas ekonomi. Pemenuhan kebutuhan hidup, seperti sandang, pangan dan papan, harus ditempuh melalui kerja-kerja ekonomi tanpa harus mengabaikan etika. Pada kenyataannya manusia kerapkali melakukan kegiatan ekonomi yang bertentangan  dengan nilai-nilai kemanusiaan yang pada gilirannya, merugikan orang lain. Contohnya praktek monopoli dagang dan praktek-praktek bisnis tidak etis lainnya.

Gereja terpanggil dan bertanggungjawab untuk memberi nilai-nilai iman dalam praktek ekonomi dan bisnis. Sebab salah satu  tugas gereja adalah melengkapi warga gereja yang juga adalah pelaku-pelaku ekonomi. Sehingga memiliki sikap moral dan tanggungjawab etis atas karunia dan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan dan kesentosaan banyak orang.

 

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Filipi adalah kota pertama di bagian Makedonia, suatu kota perantauan orang Roma (Kis. 16:12). Jemaat di Filipi adalah yang pertama di Eropa dan didirikan oleh Paulus, Silas, Timotius dan Lukas dalam perjalanan penginjilan Paulus yang kedua pada tahun 49-51M. Paulus mengadakan penginjilan biasanya dengan mencari tempat berkumpul orang-orang seperti pasar, tempat ibadah ataupun rumah-rumah tertentu. Di Filipi ini, rupanya agak sulit ditemukan tempat Ibadah orang Yahudi (Sinagoge), sebab kota Filipi bersuasana Romawi. Filipi boleh dikatakan kota Romawi yang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat istiadat Romawi. Orang Romawi di kota itu menganggap  orang Yahudi di Filipi sebagai kelompok minoritas dan hina sehingga mereka tidak diizinkan untuk membangun sinagoge. Karena itu, setelah menyusuri sungai, yang Paulus temui hanyalah sebuah tempat sembahyang, yaitu sebuah rumah yang digunakan oleh orang Yahudi untuk berkumpul. Di tempat sembahyang yang disebut “Proseuche” inilah pertama-tama Paulus bertemu dengan beberapa wanita Yahudi dan salah seorang diantaranya adalah perempuan bernama Lidia, yang berasal dari Tiatira, yaitu sebuah kota Asia kecil di daerah Lidia. Tiatira dan seluruh Lidia terkenal oleh pembuatan bahan celup ungu dari siput ungu, yang dengannya itu kain wol dicat secara indah sekali. Kain ungu harganya sangat mahal sehingga tidak heran kalau hanya dipakai  oleh orang kaya dan bangsawan.  Sebagai orang yang berasal dari daerah penghasil kain ungu maka tidak salah kalau Lidia  yang adalah pedagang (pebisnis) dan penjual kain tersebut. Maka dapat dipastikan juga bahwa dia adalah orang kaya dan terpandang. Dia dibaptis bersama seisi rumahnya termasuk para budaknya. Setelah dibaptis, Lidia meminta Paulus dan Silas untuk menumpang di rumahnya (ay.15) Inilah cikal-bakal jemaat Filipi. Jemaat di Filipi, seperti semua jemaat lain di Perjanjian Baru, terdiri dari orang-orang kudus yang dipimpin oleh para penilik jemaat (para penatua) dan diaken. Setelah itu, Paulus juga mengunjungi Filipi dalam perjalanannya yang ketiga (Kis. 20:1-6).

Kehadiran Paulus di Filipi bukan saja diterima dengan sukacita iman seperti yang dilakukan oleh Lidia, tapi juga harus berhadapan dengan tantangan dari seorang perempuan lain, seorang perempuan yang mempunyai roh tenung (Yun. Pythoon; menjadi nama seekor naga, nama ini juga digunakan untuk roh-roh peramal masa depan). Kemampuan dari perempuan ini rupanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik. Tuan-tuannya memanfaatkannya ini untuk mencari uang dan kesuksesan besar. (ay. 16). Berbeda dengan Lidia yang digambarkan sebagai perempuan kaya (kemampuan secara ekonomi) ulet, rajin dan memiliki jaringan usaha/bisnis yang luar biasa  bahkan berkedudukan tinggi serta yang beribadah kepada Allah (ay. 14). Perempuan yang lain ini justru sebaliknya, yaitu seorang budak, miskin dan memiliki roh tenung. Bahkan dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan dan keuntungan mereka semata.

        Amsal 10:15-16, Materi pengajarannya tidak dapat dilepaskan dari Amsal 10:1-32, yang bersifat teknis dan praktis, didasarkan pada pengalaman sehari-hari, berguna untuk mencapai keberhasilan hidup individual dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya kerajinan yang dibanding kan dengan kemalasan di musim panen. Pengajaran-pengajarannya adalah juga gambaran dari kehidupan pertanian, yaitu kehidupan masyarakat petani desa atau kota yang biasa. Masyarakat ini pada umumya menginginkan kemakmuran yang lebih, tetapi menolak untuk memperkaya diri dengan tidak bermoral, antara lain dengan menindas golongan lemah.

        Pokok pikiran pasal ini (10:1-32) adalah bahwa kondisi kehidupan material seseorang ditentukan oleh sikap dan  perilakunya, tetapi sikap dan perilaku seseorang ditentukan dirinya sendiri. Konsep sebab akibat sepertinya sangat jelas di sini. Diungkapkan bahwa pengetahuan, kebaikan, kerajinan akan mendatangkan kekayaan dan kesejahteraan; sebaliknya kebodohan, kejahatan, kemalasan akan mengakibatkan  kemiskinan dan kesusahan.

Khususnya ayat 15,16 pengajaran yang muncul adalah refleksi dari realita yang terjadi pada umumnya dalam kehidupan orang kaya dan orang miskin ditengah-tengah masyarakat Israel kuno. Harta orang kaya adalah kotanya yang kuat. Kekayaan bagaikan kota berbenteng tebal dan kuat, yang dapat memberikan perlindungan dari semua bahaya dan penyakit. Kekayaan menjadi jaminan dalam menghadapi kehidupan yang berubah-ubah dan segala kemalangan.

 Dalam konteks ini harta dan kekayaan menjadi tolak ukur kehidupan yang nyaman, kebutuhan-kebutuhan dapat dipenuhi. Sebaliknya  kemelaratan dan kemiskinan membuat orang binasa. Meskipun nampaknya  ada perbandingan antara kekayaan dan kemiskinan, tidak berarti orang kaya dijunjung tinggi dan orang miskin direndahkan. Bekerja keras dan mengumpulkan harta bagian dari pengajaran ini (ay.4) tetapi juga disadari ada orang yang menjadi kaya dengan cara jahat, dan hal itu dicela (ay.2). Bukan tidak disadari  bahaya moral dari kekayaan, tetapi barangkali manfaat harta, nilai uang bahkan problem kemiskinan adalah sasaran pengajaran juga. Kemiskinan tak diingini dan kekayaan tak dihindari. Selanjut nya pekerjaan menjadi ukuran lainnya juga, sebab orang benar akan bekerja dengan benar berdasarkan prinsip kebenaran dan keadilan.

Konsekwensinya bahwa penghasilan orang benar dari pekerjaan yang benar. Orang benar tidak akan melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan iman percayanya, merugikan orang lain dan membahayakan posisinya. Pengajaran cara  menggunakan penghasilan dengan benar. Menggunakan hasil dengan benar akan membawa  seseorang pada kehidupan dengan umur panjang dan kebahagiaan di bumi ini. Sebaliknya kebinasaan menanti, bagi mereka yang melakukan pekerjaan jahat, dan menggunakan hasilnya untuk kejahatan.

 

Makna dan Implikasi Firman

Kehidupan di era sekarang ini, telah membuka ruang terjadinya kompetisi (persaingan) di bidang ekonomi. Dinamika kehidupan bergerak begitu cepat sehingga mereka yang lambat otomatis pasti akan ketinggalan. Meningkatnya kebutuhan hidup merangsang manusia untuk melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

Panggilan terhadap orang percaya adalah untuk menjadi pelaku ekonomi yang bijaksana. Lidia seorang perempuan penjual kain ungu,  adalah seorang pelaku ekonomi dan bisnis, yang memberi dirinya bukan saja untuk dunia usaha tetapi juga menjadi pelaku firman.  Ia memberi ruang bagi kehadiran Allah dalam hidupnya, bahkan fasilitas yang dimilikinya (rumah) untuk menjadi sarana pelayanan.

Tak jarang kita juga menemukan bahwa ada orang yang juga mempergunakan orang lain untuk kepentingan dan keuntungan pribadi dan kelompok serta golongan semata. Mereka tidak segan-segan menggunakan berbagai macam cara untuk mencapai tujuan. Termasuk penipuan, monopoli, korupsi dan bertindak tidak adil terhadap sesama. Kekayaaan dan harta dicari dengan mengorbankan orang lain.

Allah menghendaki orang-orang percaya berhasil dan sukses dengan cara-cara yang sehat dan beriman. Allah tidak menghendaki manusia melakukan pekerjaan untuk memuas- kan kebutuhannya dengan cara-cara yang licik, ruci dan dibalut kemunafikan. Semua itu hanya akan mengantar mereka pada kebinasaan, kemelaratan dan hukuman. Muliakanlah Tuhan dengan hartamu.

 

PERTANYAAN DISKUSI

1. Bagaimana saudara memahami perikop Kisah Para Rasul  16:13-18 dan Amsal 10:15-16 bacaan ini dalam hubungan dengan etika pelaku ekonomi?

2. Bagaimana kiat kita menempatkan diri sebagai pelaku usaha yang diterangi Firman?

 

NAS PEMBIMBING:  Efesus 4:28

POKOK-POKOK DOA

  1. Untuk  Warga gereja yang menggeluti dunia usaha
  2. Kepedulian gereja terhadap orang-orang  miskin
  3. Warga gereja yang sementara berusaha mendapatkan pekerjaan

 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Nyanyian Persiapan : NNBT No. 2
Sesudah Nas Pembimbing : NNBT No. 26
Pengakuan Dosa : NNBT No. 11
Berita Anugerah Allah : NNBT No. 9
Pengakuan Iman : KJ No. 242
Hukum Tuhan : NNBT  No.24
Persembahan : NNBT No.15
Penutup : NNBT No.28:1,4

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here