MTPJ 30 Nov – 6 Des 2014

0
3702

TEMA BULANAN : “Penantian Raja Yang Adil”
TEMA MINGGUAN : “Dia Yang Dijanjikan Dalam Kitab Suci”
Bahan Alkitab: Yeremia 33:14-16; 2 Petrus 3:8-15a

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Janji Tuhan adalah sesuatu yang pasti. Tidak mungkin Tuhan berdusta. Dari dalam Alkitab, kita mengetahui bagaimana Tuhan menyatakan janji-janji-Nya, kepada umat-Nya.  Pemberian janji-janji bermaksud supaya umat-Nya memiliki kepastian akan masa depan.  Salah satu janji kepada umat Israel adalah kedatangan seorang raja yang adil. Janji kedatangan raja yang adil ini, ketika umat berada dalam keterpurukan karena berada dibawah kekuasaan bangsa asing, Babel.  Umat Israel diminta untuk percaya dan karena itu, harus sabar menantikannya.

Tema “Dia yang dijanjikan menurut kitab suci”, dipilih dalam rangka memasuki minggu-minggu Adven. Melalui tema ini, kita diarahkan untuk belajar  dari pengalaman umat Israel, sebagaimana yang disaksikan di dalam Alkitab, menghayati janji kedatangan Dia yang membawa keadilan, kebenaran dan kebebasan, dalam hubungan dengan realitas masa kini. Diharapkan, melalui tema ini, memberi tuntunan bagi warga GMIM di tengah-tengah pergumulan hidup setiap hari,  dan dalam segala upayanya, bersama orang lain, menata kehidupan yang lebih baik.

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Yeremia 33:14-16, berisi berita mengenai janji pembebasan bagi umat-Nya, Israel. Pemberitaan pembebasan dihubung-hubungkannya dengan  Daud;  “tunas keadilan bagi Daud”. Pembebasan ini, adalah penggenapan janji Allah kepada umat, yang mengalami penderitaan. Janji Tuhan menunjuk pada suatu waktu yang telah ditentukan-Nya. “apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu …”(Yeremia 29:10). Kepada umat diingatkan untuk tidak terpengaruh atau ‘diperdaya’ dengan ucapan orang-orang lain “janganlah kamu diperdaya oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan juru-juru tenungmu dan janganlah kamu dengar mimpi-mimpi yang mereka mimpikan” (Yeremia 29:8).  Berita ini,  menggambarkan kondisi umat yang sedang terombang-ambing, bahkan mulai meragukan janji Tuhan yang pernah mereka dengar. Karena ada orang yang menamakan nabi menyampaikan berita yang berbeda dengan apa yang disampaikan Yeremia.  Pembebasan yang dijanjikan digambarkan sebagai suatu  tindakan Allah “menumbuhkan  tunas keadilan bagi Daud”, sebagai suatu hal yang sedang terjadi; ada dalam proses,  dan itu adalah sebuah kepastian. Untuk meyakinkan umat, mereka diajak mengingat bagai mana Tuhan bekerja melalui raja Daud, yang membawa Israel pada masa kejayaan (2 Sam 5,6). “Sebagai gembala dan sekaligus Raja ( 2 Sam. 5:2), seorang yang menghormati Tuhan (2 Sam 6:21,22.)

Pada masa Daud, Israel diberkati dengan ketentraman, karena disegani bangsa-bangsa di sekilingnya (7:1-3). Bahkan “Tuhan memberikan kemenangan kemana pun ia pergi berperang” (8:14). Ketokohan Daud hendak menunjuk pada apa yang dijanjikan, yaitu  “menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsa” (2 Sam. 8:15).

II Petrus 3:8-15a, menggambarkan kehidupan orang Kristen yang juga bergumul  untuk mempertahankan pengharapan akan kedatangan “sang Pembebas”, Kristus, Tuhan, sebagaimana yang telah dijanjikan.  Mereka itu, berhadapan dengan kelompok agama Yahudi yang menganggap pemberitaan tentang “Hari Tuhan” sebagai berita bohong. Kelompok penentang ini berani menpertanyakan bahkan dengan nada ejekan, mengatakan “Dimanakah janji tentang kedatangan-Nya itu? “Sebab sejak Bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula” (3:4). Mereka “sengaja tidak mau tahu”(ayat 5) (Yun, lanthanō, artinya bodoh, dunggu). Mereka membuat suatu perhitungan hari kapan tepatnya, dan mengambil kesimpulan, bahwa tertunda nya kedatangan Tuhan akibat kelalaian Tuhan. Padahal “waktu Tuhan” beda dengan hitungan manusia.  “Hari Tuhan”, seperti pencuri yang datang; Suatu misteri, saat Dia bertindak, “waktu kairos”,  yang dibedakan dengan “waktu kronos” atau waktu yang dapat diperkirakan.

Sikap para penentang tersebut, menunjukkan suatu ketidak sabaran. Karena itu  perlu diingatkan akan “kesabaran Tuhan” (ayat 9). Ketidaksabaran membuat mereka menganggap  Tuhan lalai dalam menepati janji-Nya. Hal yang benar, kedatangan Tuhan yang belum terjadi (tertunda), bukan ‘kelalaian’ Tuhan, malahan itu sebagai tanda kesabaran-Nya, membuka “pintu pertobatan” bagi  yang mau percaya. Orang percaya jangan bodoh,  tetapi harus bersikap positif melihat kondisi itu. Kata “sabar” dari kata Yun, μακροθυμέω, makrothumeō, yang dalam bahasa Inggris, longsuffering, artinya, telah lama menderita. Kata yang justru hendak menggambarkan kepedulian Tuhan pada kehidupan orang percaya.

Makna dan Implikasi Firman

Gereja kini, tak pernah sepi dari tantangan dan pergumulan di tengah-tengah melaksanakan pangilannya. Tantangan yang tidak boleh dianggap sepele adalah yang muncul dari dalam tubuh persekutuan jemaat, seperti perbedaan pendapat yang tak berujung,  yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan Perpecahan adalah sesuatu yang selalu menodai kewibawaan Gereja sebagai Tubuh Kristus, Garam dan Terang Dunia, “Yang diutus ke dunia”.

Munculnya ajaran-ajaran yang menyimpang, seperti ajaran tentang Hari Tuhan yang seringkali menggangu warga Gereja perlu disikapi.  Karena itu GMIM sebagai suatu persekutuan, perlu memperlengkapi warga Gereja dengan pengajaran  yang benar tentang Hari Tuhan berdasarkan Alkitab.

Pemberitaan mengenai “Hari Tuhan”, berisi hal-hal yang menyangkut  masa depan (future). Bukan nanti ‘sesudah mati’. Pemberitaan mengenai “Hari Tuhan” relevan dengan masyarakat dunia yang begitu gencar membicarakan “Masa depan”. Gereja dapat menjadikannya sebagai “pintu masuk” memberitakan Injil. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi sesuatu tawaran yang menarik. Memasuki minggu-minggu Adven, yang dirayakan setiap tahun,  berita tentang Hari Tuhan, memberi kepastian di tengah-tengah kebimbangan dan penderitaan, sebagai wujud tanggung-jawab kita.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa arti “Hari Tuhan” menurut   Yeremia 33:14-16 dan II Petrus 3:8-15a?
  2. Apa relevansi pemberitaan Gereja mengenai “Hari Tuhan” sebagai upaya membangun kehidupan di tengah-tengah pergumulan umat Tuhan dewasa ini?
  3. Hal-hal apa saja yang perlu diberi perhatian warga gereja untuk memaknai perayaan Minggu-minggu Adven?

NAS PEMBIMBING:  1 Tesalonika 5:4-5 

POKOK-POKOK DOA

  • Gereja menghadapi munculnya ajaran yang menyimpang
  • Warga Gereja diberi kekuatan menghadapi pergumulan hidup sampai Tuhan datang.
  • Aktivis kemanusiaan yang memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas
  • Perayaan-perayaan menyambut Natal di Kolom-kolom, Kompelka BIPRA, Instansi Pemerintah dan Swasta, dan Organisasi-organisasi lainnya.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU ADVEN 1 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan  : Indah Sebagai di  Eden

Ses Nas Pembimbing: NKB No.113

Ses Hukum Tuhan: NKB No. 13

Pengakuan Dosa & Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 85:8

Ses Khotbah : NKB No. 118:1,3

Persembahan : KJ. No. 84

Nyanyian Tekad: NKB No. 48

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar biru muda dengan simbol empat buah lilin berwarna ungu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here