MTPJ 31 Januari s/d 06 Februari 2016

0
5050

TEMA BULANAN: “Menanggulangi Kemiskinan Adalah Tanggung Jawab Bersama”
TEMA MINGGUAN: “Berhak Atas Keselamatan Menurut Kekayaan Kemuliaan-Nya”
Bahan Alkitab : Hosea 1:10-12; Roma 9:14-26

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Kita Gereja Tuhan segera akan mengakhiri bulan pertama di tahun 2016 dan hendak memasuki bulan kedua. Berbagai upaya sebagai bentuk kepeduliaan kepada kaum miskin sudah kita gumuli bersama untuk menjadi motivasi awal yang tentu saja perlu dimantapkan lagi sebagai penguatan dalam rangka mewu-judkan panggilan Gereja (GMIM) di dunia yang semakin maju dan berkembang pesat tak terbendung, melalui Visi GMIM: Gereja yang Kudus, Am dan Rasuli, agar kita sebagai Gereja tetap berprosesi melalui: ”Kuncup” itu senantiasa ”berkembang”, ”Ragi” itu senantiasa ”Mengkhamirkan”, ”Garam” itu senantiasa ”Mengasinkan” dan ”Terang” itu senantiasa ”Bercahaya”. Dalam pemahaman itulah maka kepedulian kita sebagai Gereja kepada si miskin tidak saja menjadi pergumulan bersama, tetapi juga karena kita sadar dan siuman bahwa panggilan itu karena semua ”berhak atas janji keselamatan menurut kekayaan kemuliaan-Nya”. Dengan menyadari bahwa semua kita warga Gereja beroleh hak yang sama menurut kekayaan kemuliaan Tuhan dalam janji keselamatan sebagai belas kasihan dari Tuhan sendiri, maka kitapun terpanggil untuk wajib secara bersama-sama, mengambil bagian dalam Visi kita bersama (GMIM) di tengah dunia dan bangsa kita dalam berbagai bentuk kemajuan, termasuk di dalamnya, berbagai ketimpangan yang tak luput dalam pengamatan kita, seperti: Kemiskinan, Ketidakadilan, Radikalisme dan Kerusakan Lingkungan. Dengan demikian secara bersama-sama pula, maka: ”Berbagai tantangan dapat kita hadapi dan berbagai peluang dapat kita raih”.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Perikop Hosea 1:10-12 dilatar-belakangi  oleh panggilan Allah untuk bernubuat kepada Kerajaan Israel yang sedang ambruk kerohanian mereka. Ia memulai pelayanannya pada masa akhir pemerintahan Yerobeam II. Pada waktu itu Israel sedang mengalami kemakmuran ekonomi dan kestabilan politik untuk sementara waktu yang menciptakan rasa aman yang palsu. Akan tetapi ketika Yerobeam II wafat (753 SM), keadaan bangsa itu mulai memburuk dengan pesat menuju kehancurannya yang terjadi pada tahun 722 SM. Allah memerintahkan Hosea untuk ”Kawini seorang perempuan sundal” (1:2), yaitu ”Gomer (ay.3) untuk melukiskan ketidak-setiaan rohani Israel kepada Allah. Kemudian berturut-turut memperanakkan 3 orang anak-anak sundal yang diberi nama oleh Allah sendiri (ay.4-9) yaitu: Yizreel. yang artinya ”Allah menabur” dalam hal ini penghukuman kepada keluarga Yehu untuk mengakhiri pemerintahan Israel. Kemudian anak kedua ”Lo-Ruhama” artinya ”tidak dikasihi” sebab itu Allah tidak menyayangi lagi kaum Israel  sehingga tidak mengampuni mereka. Dan anak ketiga ”Lo-Ami, artinya ”bukan umat-Ku, sebab mereka bukan lagi umat Allah karena mereka telah memberontak kepada Allah, sebab terus-menerus menyem-bah kepada berhala. Meski demikian belas kasihan Allah kelak dinyatakan bagi semua bangsa Israel yang dilukiskan seperti pasir dilaut, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung (ay.10-11). Bahwa penolakan Kerajaan Utara (Israel) oleh Allah sebagai bangsa yang terpisah tidak berarti bahwa Allah melupakan janji-Nya kepada Abraham, Ishak dan Yakub mengenai negeri dan bangsa itu sama seperti Kerajaan selatan (Yehuda) yang tidak dapat berakhir pada saat yang sama dengan Kerajaan Utara (Israel) seperti dinubuatkan pada ay.7, sebab kendatipun dosa Israel kepada Allah, namun belas kasihan Allah dengan janji keselamatan-Nya akan memulihkan mereka kembali sebagai anak. Ia akan mempersatukan keduabelas suku itu menjadi satu bangsa di bawah satu pemimpin. Janji penyatuan kembali ini sebagai wujud dari semuanya berhak menikmati belas kasihan Tuhan, sebab ”tidak” lagi dan ”bukan” lagi berpredikat ”Lo”, menujuk kepada pemerintahan Mesias yang akan datang, yang semuanya beroleh ”Ruhama” yaitu ”kasih” setia  yang bersumber dari ”Akulah Allahmu, dan kamu adalah umat-Ku”, Pernyataan ini menunjuk bahwa semuanya tak terkecuali berhak memperoleh belas kasihan Tuhan. Hak yang sama dalam hal beroleh belas kasihan dari Allah, juga mendapat perhatian dari Rasul Paulus dalam Roma 9:14-25. Penegasan Paulus itu muncul karena Jemaat di Roma membantah otoritas Allah yang sudah memilih Israel sebagai milik kesayangan-Nya, yang sesungguhnya hendak dikenakan Paulus kepada mereka juga, agar Tuhan dimuliakan sebab Ia kaya dengan kemuliaan-Nya Padahal sesungguhnya bantahan itu tidak perlu sebab yang mustahil bagi manusia bagi Allah tidak. Hal itu seperti tukang periuk yang berhak membentuk sesuatu benda dari gumpalan tanah untuk tujuan mulia dan yang dibentuk tidak dapat membantah, selain menerima. Bahwa dengan Allah menaruh belas kasihan kepada siapa saja, mene-kankan kebebasan kemurahan Allah dengan belas kasihan-Nya yang meluap secara aktif yang tidak dapat digapai atau diatur oleh manusia, dan itu berlaku bagi semua. Di sini Allah menun-jukkan kemurahan-Nya kepada mereka yang bertobat dan per-caya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat agar berhak menikmati kekayaan kemurahan-Nya untuk tujuan men-jadi alat kekayaan kemuliaan-Nya. Hal itu beda dengan mereka yang mengeraskan hati menolak untuk bertobat karena memilih benda-benda kemurkaan Tuhan yang sudah ditetapkan untuk binasa. Namun mereka yang menyadari akan pemilihan dan pemulihan Yesus Kristus berdasarkan kemurahan-Nya sebagai hak yang patut dipertahankan, berkewajiban menebarkan keka-yaan kemuliaan Allah yang berwujud dalam benda-benda belas kasihan atau dalam tindakan nyata,  tidak saja dalam lingkungan Jemaat Roma, tetapi juga bagi semua bangsa. Dengan demikian ”Yang bukan umat-Ku akan Ku sebut umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih. Dan di tempat mana akan dikatakan kepada mereka”Kamu ini bukanlah umat-Ku, di sana akan dikatakan kepada mereka: Anak-anak Allah yang hidup” (Ayub.25-26) ”.

Makna dan Implikasi Firman

Dalam fenomena sekarang ini kita sebagai Gereja tidak saja diperhadapkan dengan berbagai kemajuan zaman yang patut disyukuri sebab dengan mudah dapat memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga ternyata dipertontonkan dengan tampilan-tampilan kehidupan seperti: kemiskinan, ketidakadilan, radi-kalisme dan kerusakan lingkungan. Sementara itu, kitapun masih tetap berkomitmen dalam Visi bersama sebagai GMIM yang terpanggil di dalam dunia dengan berbagai tampilan fenomena-nya untuk terus berprosesi sebagai: Gereja yang Kudus, Am dan Rasuli. Sehingga diharapkan Gereja terus-menerus menjadi: ”Kuncup” itu senantiasa berkembang, ”Ragi” itu senantiasa mengkhamirkan, ”Garam” itu senantiasa mengasinkan dan ”Terang” itu senantiasa bercahaya. Predikat yang disandang Gereja: Kudus, Am dan Rasuli hanyalah karena hak dan kemurahan Allah bagi kita  Gereja, untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya melalui belas kasihan kepada semua orang dalam kondisi ketimpangan hidup yang sarat melandanya. Panggilan yang mulia itu hanya dapat dikerjakan secara bersama sebagai kewajiban sama seperti hak Tuhan yang sudah kita terima dalam belas kasihan-Nya, bahwa ”kita adalah umat-Nya dan Dia adalah Allah kita. Dan Dia mengutus kita agar siapapun tak terkecuali dan dimanapun berada, disitupun hidup anak-anak Allah yang membutuhkan belas kasihan dari Tuhan. Dalam pemahaman bersama itulah, maka kita lanjutkan lagi panggilan Yesus Kristus dalam keyakinan iman, bahwa bersama Dia yang memiliki dan mengasihi kita Gereja-Nya, maka: ”Berbagai tantangan dapat kita hadapi dan berbagai peluang dapat kita raih”.

PERTANYAAN DISKUSI:

  1. Apa bentuk belas kasihan dan kekayaan kemuliaan Allah menurut bacaan Alkitab kita saat ini?
  2. Dalam hal tindakan yang bagaimana maka kita telah bersama-sama sebagai Gereja yang Kudus, Am dan Rasuli menyatakan belas kasihan kepada sesama manusia menurut kekayaan kemuliaan-Nya?

POKOK-POKOK DOA:

  • Bersyukur kepada Tuhan atas belas kasihan yang dikaruniakan kepada siapapun yang dikasihi-Nya menurut kekayaan kemuliaan-Nya
  • Gereja agar terus-menerus secara bersama mengambil bagian dalam panggilan untuk menyatakan belas kasihan Tuhan dalam kepedulian kepada yang miskin, mengalami ketidak-adilan, kekerasan dan kerusakan lingkungan
  • Pemerintah dan masyarakat agar bersama-sama terus berko-mitmen dalam menanggulangi kemiskinan, berlaku adil, meng-atasi radikalisme dan menangulangi kerusakan lingkungan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK V 

NYANYIAN/LAGU YANG DIUSULKAN:

Persiapan: KJ No. 428 : 1-2  Lihatlah Sekelilingmu

Ungkapan Sembah: NNBT No. 6 Allah Bapa Yang Kumuliakan

Ses Di Dalam Dia Tidak Ada Yang Tersembunyi: Tak Tersembunyi Kuasa Allah

Syukur atas Kasih Karunia-Nya: KJ. No. 39 : 1, 3 Ku Diberi Belas Kasihan

Berilah Yang Baik:  NNBT No. 15 Hai Seluruh Umat Tuhan

Tembang Tekad: KJ. No. 425:1-2 Berkumandang Suara Dari Seberang 

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here