MTPJ 4 – 10 Januari 2015

0
3497

TEMA BULANAN : “Hidup Untuk Menghidupkan”
TEMA MINGGUAN : “Hidup Dalam Jaminan Berkat Allah”
Bahan Alkitab: Bilangan 6:22-27; Ibrani 6:13-15

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Berada di minggu pertama tahun rahmat Tuhan ini sungguh merupakan suatu hal yang menggembirakan meski pada diri kita bertanya akankah keadilan seperti yang diumbar ketika kampanye lalu itu menjadi nyata di tahun ini? Ataukah hanya menjadi retorika semata untuk memposisikan diri pada bingkai penentu kebijakan. Dalam hal kehidupan beriman, memasuki babak baru kehidupan di tahun anugerah ini bagaimana kita memaknai diri sebagai umat yang hidup dalam jaminan berkat Allah. Biasanya ada prediksi-prediksi tertentu tentang suatu tahun baru baik yang bernada pesimis maupun yang bernada optimis mengenai peluang dan tantangan begitu juga untuk tahun 2015 ini. Prediksi-prediksi tersebut bermuara pada hal yang sama yaitu suatu keadaan yang belum pasti. Soal kita adalah bagaimana menghadirkan kepastian di tengah kebelum-pastian itu lewat perilaku hidup kita sehari-hari baik sebagai warga masyarakat maupun sebagai warga gereja.  Perjuangan kita jadinya adalah bagaimana kita memanfaatkan peluang dan juga mengatasi tantangan yang ada. Orang percaya dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi instrumen berkat dimanapun dan dalam situasi apapun keberadaannya. Sehingga pernyataan-pernyataan berkat bukan sekedar kalimat-kalimat liturgis saja melainkan menjadi pengalaman konkrit dalam keseharian umat Tuhan.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Kitab Bilangan dalam bahasa Ibrani “bemidbar” artinya “di padang gurun” dan dalam bahasa Yunani disebut “arithmoi” artinya “bilangan” dalam pengertian jamak. Dalam banyak terjemahan termasuk terjemahan Alkitab oleh Lembaga Alkitab Indonesia maka pengertian dalam bahasa Yunanilah yang digunakan menjadi Kitab Bilangan.  Isi dari kitab ini memang sangat mengena dengan dua hal tersebut yaitu bilangan dan padang gurun. Bilangan memuat banyak catatan tentang angka-angka terutama sensus yang dilakukan setelah bangsa Israel keluar dari Mesir dan sebelum memasuki tanah Kanaan. Banyak perintah yang Allah berikan kepada Israel melalui Musa yang maksudnya untuk mempersiapkan bangsa itu tetap memegang per-janjian dengan Allah meski nanti mereka hidup di tanah yang baru yaitu Kanaan. Perintah-perintah itu diberikan selama pengembaraan di padang gurun. Padang gurun menjadi tempat penempaan Israel untuk menjadi sejatinya umat Allah. Mengenai peraturan-peraturan dalam kitab ini merupakan hal yang tidak boleh tidak dilakukan. Penandasan peraturan sebagai sebuah keharusan selalu diikuti dengan kata “haruslah” seperti juga bacaan dalam perikop Bil 6:22-27 ini. Lewat Musa, Tuhan Allah memberi perintah untuk dilakukan oleh Harun dan anak-anaknya dalam hal memberkati orang Israel. Menarik untuk disimak di sini adalah bahwa bukan Musa yang diperintahkan untuk memberkati orang Israel tetapi Harun dan anak-anaknya. Pengaruh Musa sebagai pemimpin atas Israel memang sangat kuat dan besar tetapi Harun dan anak-anaknya-lah yang ditugaskan Allah untuk pekerjaan memberkati orang Israel. Harun dan anak-anaknya pada waktu itu berkapasitas sebagai imam dan pelayan-pelayan di Kemah Pertemuan. Meskipun Harun dan anak-anaknya adalah liturgos (pelayan ibadah) bagi Israel dan mempunyai tugas antara lain memberkati umat itu, tetapi Tuhanlah yang empunya berkat. Realitas inilah yang disampaikan kepada umat Israel melalui pengungkapan liturgis oleh Harun dan anak-anaknya.  Kata “berkat” menurut kamus bahasa Indonesia baik karangan Surayin (2011) maupun Desy Anwar (2003) berarti “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan”.  Merujuk dari arti ini maka jelaslah bahwa yang diberi Allah kepada umat-Nya adalah hal yang penuh manfaat bahkan menghidupkan umat itu. Ungkapan-ungkapan “melindungi”, “menyinari”, “mem-beri kasih karunia”, “menghadapkan wajah-Nya”, dan “memberi damai sejahtera” adalah kata-kata yang sifatnya aktif bahwa Allah pemrakarsa kebaikan untuk umat-Nya. Ayat 27 menunjuk maksud dari pemberkatan itu yakni sebagai cara yang dengannya nama Tuhan diletakkan atas hidup orang Israel. Itu berarti tugas memberkati yang melekat pada seorang pelayan bukanlah hal yang ringan sebab pelayan itu membawa wibawa Allah untuk melaksana-kan pekerjaannya. Pemberkatan atas hidup Israel ini jadinya merupakan janji dan jaminan yang umat itu terima bukan hanya selama di pengembaraan di padang gurun( realitas present) tetapi juga nanti ketika mereka tiba di tanah perjanjian (realitas future). Kepastian jaminan inilah yang umat Allah terima dalam persekutuan dengan Tuhan. Ibrani 6:13-15 dengan mengangkat cerita tantang tokoh Abraham, penulis Ibrani melukiskan bahwa janji Allah berarti sumpah yang Allah sendiri hendak kerjakan. Namun selama menantikan perwujudan janji itu, Abraham harus menanti dengan sabar. Ungkapan “sabar” dalam hal ini bukan hanya punya konotasi “tabah”, “tenang”, tidak tergesa-gesa (Kamus Bahasa Indonesia), tetapi juga suatu pengakuan bahwa perwujudan janji itu adalah kedaulatan Allah. Waktu (kairos) Allah-ah yang akan berlaku. Manusia bukan menjadi penentu waktu perwujudan janji Allah itu.

Makna dan Implikasi Firman

Perubahan sosial yang terjadi telah turut mempengaruhi pandangan kita tentang sesuatu khususnya yang punya implementasi terhadap masa depan atau suatu realitas yang akan datang. Hal yang diwarnai dengan ketidakpastian membayangi perjalanan ke masa depan itu. Tetapi sebagai gereja, kita mempunyai realitas yang berbeda yaitu bahwa kita mempunyai jaminan masa depan yang pasti yakni pemberkatan Allah sejak masa Israel sampai masa kita kini dan yang akan datang. Bahwa orang percaya menerima dan menikmati kepastian hidup karena Allah yang terus bekerja dan memberkati umat-Nya. Hal-hal yang ekonomis  atau politis sifatnya memang dapat berubah setiap masa tetapi umat percaya terpanggil untuk tidak menggantungkan diri dan harapan pada hal-hal itu melainkan kepada Allah. Di satu sisi umat dipanggil untuk terus percaya dan di sisi yang lain umat terpanggil untuk menanti dengan sabar pernyataan berkat Allah itu. Sikap sabar dalam hal ini bukanlah dalam pengertian pasif tanpa melakukan sesuatu. Melainkan sabar dengan tetap aktif mengerjakan panggilan kita selaku umat-Nya. Di dalam setiap peribadatan, dengan menerima berkat sesuai unsur liturgi kita menerima berkat Allah dan sekaligus kita diingatkan tentang janji jaminan kepastian berkat Allah yang  berlangsung terus-menerus. Sehingga apa yang kita alami secara liturgis dalam suatu ibadah terhayati relasinya dengan hidup kita secara nyata. 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Hal-hal apakah yang terkandung dalam janji berkat yang harus disampaikan oleh Harun dan anak-anaknya?
  2. Bagaimana kita memaknai hidup yang menerima jaminan berkat Allah?

NAS PEMBIMBING : Yeremia 17:7

POKOK-POKOK DOA

  • Mohon berkat Tuhan di tahun 2015 ini.
  • Mereka yang merasa hidup dalam ketidakpastian.
  • Penghayatan berkat bukan hanya dalam peribadatan tetapi dalam hidup konkrit sehari-hari. 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan : NNBT No 3:1-2

Ses Nas pembimbing: NNBT No 7:1-2

Pengakuan dosa: NNBT No 10:1 dan 3

Berita Anugerah: NNBT No 8:1-2

Ses Pengakuan Iman: NNBT No 19:1-2

Ses Hukum Tuhan: NNBT 46:1-2

Ses Pembacaan Alkitab: NNBT No 37:1 dan 3

Persembahan: NNBT No 15:1-5

Penutup: NNBT No 27:1-2

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar putih dengan simbol lilin dan palungan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here