MTPJ 4 – 10 Oktober 2015

0
6478

TEMA BULANAN: “Solidaritas Alkitabiah dalam Reformasi Gereja”
TEMA MINGGUAN: “Firman Dibaca, Didengar dan Diberlakukan”
Nehemia 8:1-4; Yakobus 1:19-25
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Di era Modern ini sebagai hasil dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berbagai kemajuan di belahan bumi Barat maupun Timur menjadi transparan dalam pengetahuan kita. Kondisi keterbukaan itu tidak saja disebabkan oleh kemajuan transportasi  yang semakin lancar tetapi juga karena informasi dan komunikasi yang semakin terbuka dan tidak tersembunyi, antara lain melalui  media elektronik maupun media cetak. Diakui bahwa apa yang dibaca di media cetak maupun didengar dan dilihat di media elektronik tidak hanya memberi dampak positif, tetapi juga berdampak negatif, sebab komu-nikasi dan informasi yang diserap dalam pengetahuan manusia dapat saja mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat luas, termasuk kehidupan beriman, yang dapat mengubah dan mereformasi hati dan pikiran manusia untuk kemudian tampil dalam tindakan yang diberlakukan dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks kehidupan modern sekarang, menjadi penting artinya untuk menyeleksi apa yang dibaca, didengar, untuk melakukan hal-hal positif yang bermuara pada kehidupan yang benar dan diberkati. Lebih khusus dalam hidup beriman, firman Tuhan adalah sumber dari kebenaran untuk diberlakukan. Oleh sebab itu, firman tidak boleh kalau hanya dibaca dan didengar tapi harus diberlakukan. Pemahaman itu penting artinya untuk dihayati di minggu pertama bulan Oktober ini, ketika Gereja sebagai satu persekutuan orang percaya kepada Kristus di dunia ini, memasuki bulan syukur tersedianya Alkitab dan Reformasi Gereja.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Nehemia 8:1-4, menceritakan tentang tindakan umat Israel setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel. Ada tida gelombang/tahapan orang Israel ketika kembali ke Yerusalem: 1).Tahun 538 SM di bawah pimpinan Zerubabel (Ezra 2:2; 3:8) 50.000 orang kembali dan membangun bait suci yang selesai pada tahun 516 SM. 2). Tahun 457 SM di bawah pimpinan Ezra (Ezra 7:1-10;44). 3). Tahun 444 SM di bawah pimpinan Nehemia (Nehemia 2:17) untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Mereka berkumpul laki-laki dan perempuan di depan pintu gerbang Air, setelah seluruh tembok kota dibangun kembali dari reruntuhannya, hanya dalam waktu 52 hari. Mereka meminta kepada Ezra yang dikenal sebagai Ahli kitab untuk membawa dan membaca kitab Taurat Musa yang berisi hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Ketika Ezra membaca beberapa bagian dari kitab itu dari pagi sampai tengah hari, maka seluruh umat tekun mendengar dan mengerti isi dari apa yang dibaca oleh Ezra: a) laki-laki dan perempuan menunjukkan sebuah janji firman dan tanggung jawab untuk melakukannya tanpa batasan. Jika  pada masa sebelum pembuangan janji dan tanggung jawab diberikan seolah-olah hanya kepada laki-laki, maka setelah pembuangan, baik janji maupun tanggung jawab untuk memelihara dan melakuan firman diperuntukkan untuk perempuan, b) yang dapat mendengar dan mengerti menunjuk pada mereka yang telah dewasa bukan kanak-kanak, sehingga firman yang didengar dan dimengerti dapat dilakukan. Sesungguhnya peristiwa ini diawali dengan kesediaan hati dari umat Israel, agar kitab Taurat dibacakan oleh Ezra dan mereka tekun mendengar dan mengerti, meng-gambarkan satu kebangunan rohani terbesar dari Perjanjian Lama (PL) dan melukiskan beberapa prinsip mendasar bagi reformasi dan kebangunan rohani. Pemimpin umat maupun umat Israel sendiri sangat menyadari bahwa reformasi dan kebangunan rohani hanya datang dari Allah, yang disam-paikan melalui Firman Allah. Betapa tidak, sebab ketika seluruh umat dengan penuh perhatian tekun mendengar dan mengerti isi pembacaan kitab Taurat itu, maka muncullah komitmen yang diwujudkan dalam tindakan untuk sungguh-sungguh hanya mengandalkan Firman Allah saja, dalam kehidupan beriman mereka. Motivasi seperti itu juga yang ditekankan oleh Yakobus dalam pembacaan Alkitab menurut Yakobus 1:19-25. Tujuannya ialah untuk membaharui atau mereformasi dengan membangun semangat orang Kristen berlatar belakang Yahudi yang berdiaspora yaitu ”keduabelas suku di perantauan” (ayat 1). Persoalannya karena mereka diperhadapkan dengan penderitaan dan berbagai cobaan yang menguji iman mereka kepada Yesus Kristus. Dan mereka yang mampu menghadapi pencobaan dan tahan uji akan mendapat mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah (ayat 12). Sebab Allah yang diam dengan kuasa dan kemuliaan-Nya, berkenan menganugerahkan pemberian yang baik bahkan telah menjadikan mereka bagian dari Firman kebenaran (ayat 17-18). Oleh sebab itu Yakobus menasehati mereka agar membuang segala bentuk kekotoran dan kejahatan, dengan hidup menurut firman yang tertanam di dalam hati. Sebab Firman Allah,  tidak efektif apabila manusia belum terpisah dari kekotoran dan kejahatan moral. Yakobus menegaskan bahwa Firman yang adalah kehendak Allah yang dibaca maupun didengar, haruslah diberlakukan dalam kehidupan beriman. Sebab jika tidak maka ia lupa wajahnya sendiri meski baru saja berkaca di cermin (ay.22-24). Karena firman Tuhan adalah kehendak Allah, hukum yang benar dan memerdekakan yang berkuasa untuk mengubah kehidupan hanya bila firman yang dibaca dan didengar itu dilakukan. (ay.25)

Makna dan Implikasi Firman

Di era transportasi, informasi dan komunikasi yang maju, batas antar negara tidak lagi menjadi hambatan, membuat orang begitu cepat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan dengan mudah mengakses informasi yang ada di media cetak juga elektronik. Seiring kemajuan itu, berbagai dampak positif maupun negatif turut mengalir deras memasuki sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk kehi-dupan beriman kita. Tentu semua berita dan fenomena kehidupan, tidak dapat kita bendung selain menguji tanda-tanda dan roh zaman ini. Agar kita dapat memilih apa yang baik sesuai dengan iman kita dan bukan apa yang jahat. Hal ini hanya mungkin manakalah kita rajin belajar Firman membaca, mendengar, giat bekerja dan melakukan kehendak-Nya.  Sebagai Gereja kita memasuki bulan syukur tersedianya Alkitab dan Reformasi Gereja. Tentu saja bulan syukur itu, tidak saja dirayakan secara seremonial, tetapi yang lebih penting dan utama ialah menghayati dan mensyukuri ter-sedianya Alkitab (Sola Scriptura) bagi kita untuk menjadi sumber Anugerah (Sola Gratia) dan ukuran Iman (Sola Fide) yang benar.

         Pembaharuan/Reformasi Gereja yang terus-menerus mendorong kita untuk  mampu membaca dan mendengar tanda-tanda atau roh zaman ini, agar orang-orang beriman termotivasi dari kebenaran firman yang dibaca, didengar dan dilakukan.  Firman-Nya yang dibaca, didengar dan dilakukan lewat peran gereja yang dinyatakan secara: positif, kreatif, kritis dan realistis. Yang dimaksud dengan “positif”, artinya terbuka terhadap yang baik. “Kreatif” artinya dalam kuat kuasa Roh Kudus menggantikan yang lama/yang tidak berguna dengan yang baru atau menambah kepada yang sudah ada. “Kritis” artinya  melihat segala sesuatu dalam terang Kristus. ”Realistis” artinya siuman/ sadar akan waktu dan batas-batas kemampuan dan tidak terbawa pada impian yang kosong. Oleh sebab itu kita sebagai persekutuan gereja, dalam konteks zaman post modern ini, diperhadapkan dengan tantangan maupun peluang yang dapat diraih, rasanya perlu untuk terus-menerus Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat (MTPJ), yaitu Tekun Berdoa, Belajar Firman dan Giat Bekerja guna mencapai visi GMIM yang Kudus, Am dan Rasuli.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI       

  1. Mencermati dua bagian bacaan Alkitab kita maka kondisi apa yang melatar-belakangi sehingga Alkitab sebagai firman Allah harus: dibaca, didengar dan dilakukan?
  2. Dalam hal tindakan yang bagaimana sehingga firman Allah senantiasa memotivasi kegiatan dan kerja kita? 

NAS PEMBIMBING : 2 Timotius 3:16-17 

POKOK-POKOK DOA

  • Bersyukur kepada Tuhan karena Alkitab sebagai Firman-Nya menjadi sumber pemberitaan dan ukuran iman orang percaya.
  • Gereja sebagai persekutuan senantiasa tekun belajar Firman (membaca, mendengar) dan Giat Bekerja.
  • Alkitab menjadi kabar baik bagi yang miskin, menderita, tertindas supaya terbebas dari belenggu kehidupan.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN : HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Panggilan beribadah:  KJ.No.4:1,6 Hai Mari Sembah

Sesudah Nas Pembimbing: NKB No.116:1,2 Siapa Yang Berpegang

Pengakuan Dosa : KJ.No.25:1,5 Ya Allahku, Di Cahya-Mu

Sesudah Berita Anugerah Allah: NNBT No. 7 Mari Puji Tuhan Yesus

Sesudah Hukum Tuhan: KJ No. 38 T’lah Kutemukan Dasar Kuat

Sesudah Khotbah: NNBT No. 37 Tuhan Yesus Adalah Penabur

Persembahan: NKB. No.119 Nyanyikan Lagi Bagiku

Penutup: NNBT No.26:1-2 Tuhan Yesusku, Mutiara Hatiku

ATRIBUT

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here