MTPJ 4 – 10 September 2016

0
5905

TEMA BULANAN: “Gereja yang Mengutuhkan”
TEMA MINGGUAN: “Pengakuan Umat: Tuhan Semesta Alam”
Bahan Alkitab : Yeremia 10:6-16
ALASAN PEMILIHAN TEMA

Iman, dan Alkitab orang Kristen berawal dengan penga-kuan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, Tuhan semesta alam. Pengakuan bahwa Allah adalah sumber, pe-nguasa dan pemilik satu-satunya dari segala sesuatu. Oleh karena Allah adalah satu-satunya sumber, penguasa dan pemilik segala sesuatu, maka secara hakiki tak ada satu sektor pun di dalam kehidupan manusia yang terlepas dari Allah.

Manusia adalah gambar Allah yang individu, memper-oleh individualitasnya yang penuh di dalam keterhubungannya dengan yang lain: dengan Allah, sesama, alam di samping dengan dirinya sendiri. Manusia hidup dan berkembang serta berinteraksi dengan alam sekitarnya yang serba majemuk (kepel-bagaian) yang sangat mempengaruhi kehidupannya. Kemaje-mukan dalam segala aspek kehidupan manusia merupakan suatu fakta kehidupan yang tidak dapat diingkari. Kemajemukan bukan hanya berbeda secara agama, etnis, suku dan budaya; tetapi tiap-tiap individu pada hakikatnya unik dan berbeda. Kemajemukan tersebut telah menimbulkan problematika yang cukup kompleks ketika menganggap diri paling benar dan yang paling menyedihkan ketika agama menjadi sebuah “berhala”.

Seiring dengan hal itu, gereja terpanggil untuk mengkritisi keberadaannya masing-masing dalam upaya pembaharuan untuk menemukan jati dirinya dalam pengakuan, perjumpaan dan kebersamaan dengan agama-agama lain. Gereja dalam tanggungjawab iman sebagai agen Tuhan menjadi teladan dalam mendedikasikan segala karunia yang Tuhan beri untuk menjadi sarana memuliakan Tuhan.

Pengakuan Tuhan Semesta Alam menjadi perekat dan pemersatu agama-agama, bahwa Tuhan Pencipta Alam Semesta dan Raja Dunia, dan hanya kepada Dia manusia percaya dan takluk, bukan pada agama dan doktrinnya serta pada materi dan kekuasaan yang sering menjadi pemicu konflik.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Nama Yeremia berasal dari bahasa Ibrani: “Yirmeyahu” yang berarti Yahweh Meningkatkan. Yeremia dipanggil Tuhan untuk menjadi nabi-Nya sekitar tahun 626 SM, yaitu pada tahun ke 13 pemerintahan raja Yosia sampai pada raja Zedekia dan jatuhnya Yerusalem tahun 587 SM. Ia memperingatkan umat Tuhan selama lebih 40 tahun tentang bencana yang akan dialami oleh umat akibat dari dosa penyembahan berhala sampai pada kejatuhan kerajaan Yehuda ke tangan Babel.

Penyembahan berhala dalam kitab Perjanjian Lama selalu mendapat kecaman, alasannya daya tariknya memikat mata, namun menurut Yeremia 10:2 mengungkapkan alasan yang lebih dalam yakni godaan ikut arus perbuatan mayoritas.

Yeremia 10:1-16, dinubuatkan di zaman raja Yosia berisi peringatan melawan jampi-jampi dan pemujaan/penyembahan berhala, yang keduanya merupakan pencobaan-pencobaan yang hebat bagi orang Israel. Dipercaya bahwa bintang-bintang memerintah nasib manusia, dan karena tentara Babel sudah mengalahkan Israel, maka dipahami bahwa berhala-berhala mereka lebih kuat daripada Tuhan. Di mata banyak orang, berhala-berhala itu bersifat mulia dan berkesan sehingga harus ditakuti. Padahal berhala tersebut buatan manusia yang dibuat dari kayu dan dihiasi dengan logam-logam mahal, yang tidak bisa apa-apa (ay. 3-5).

Khusus Yeremia 10:6-16; berbicara tentang pujian pengagungan bagi Tuhan, kedahsyatan dan kemahakuasaan-Nya yang tidak sebanding dengan berhala buatan manusa. Ayat 6-7, menolak tentang tingkah langkah (jalan: kebiasaan keagamaan asing), perilaku mereka tentang kepercayaan dan kegentaran pada benda-benda langit atau berhala. Ditegaskan bahwa berhala mereka tidak berdaya karena hanya buatan manusia dan jangan takut terhadapnya. Hanya kemuliaan dan kuasa Tuhan yang unik dan tak terbandingkan. Tidak ada yang sama seperti Tuhan, Agung dan Perkasa. Hanya Dialah Allah, “Raja bangsa-bangsa” tidak ada yang lebih berkuasa dari-Nya. Dialah yang harus ditakuti, disegani dan dipuja. Dibandingkan dengan berhala bangsa Babel, mereka tidak berdaya, tidak ada kebijaksanaan, pun para ahli jampi (orang bijaksana) mereka tidak ada kuasa bahkan raja Babel (Nebukadnezar) pun tak mampu menandingi kebijaksanaan dan kuasa Tuhan.

Ayat 8-9, kembali menjelaskan bahwa semua berhala itu bodoh dan dungu, tidak dapat memberi petunjuk yang ada hanya kesia-siaan dan hanya terbuat dari kayu. Dihiasi dengan perak dari Tarsis (Tartessus: di Spanyol) dan emas dari Ufas (lih. Daniel 10:5; band.dengan Ofir); serta kain mahal (kain ungu tua dan muda) yang dibuat oleh para ahli.

Ayat 10-13, kembali mempertegas tentang kuasa dan kebijaksanaan Tuhan yang hebat sedangkan berhala-berhala tidak sanggup berbuat baik atau jahat. Tuhan adalah Allah yang benar, Allah yang hidup dan Raja yang kekal, Pencipta langit dan bumi. Gempa bumi (ay.10b) dan kilat, hujan, angin (ay.13) merupakan tanda-tanda tentang kuasa dan kemuliaan-Nya, dan pada waktu krisis Dia bertindak secara hebat untuk menyatakan kuasa-Nya. Sehingga semua ciptaan takluk pada-Nya. Dan bagi umat Israel harus menjadi saksi tentang Tuhan sebagai Pencipta untuk menolak penyembahan berhala (ay.11).

Sedangkan pada waktu yang sama kelemahan berhala-berhala menjadi nyata karena tidak dapat berbuat apa-apa, dan orang-orang yang membuat dan menyembahnya dipermalukan. Mereka disebut sebagai orang bodoh dan pembohong karena membodohi umat; pekerjaan mereka sia-sia sebab hasilnya hanya ejekan dan akan mendapat hukuman yaitu kematian, ayat 14-15.

Ayat 16, menyatakan bahwa Tuhan yang Mahakuasa sudah menjadikan Israel sebagai milik-Nya dan terus mem-bangun hubungan yang intim dengan mereka. Tuhan telah memilih Israel sebagai “suku milik-Nya,” demikian jugalah Dia sudah “menjadi bagian Yakub”, dan Ia disebut: Tuhan semesta alam (bah. Ibrani: “Yahweh Tsebaot”) menekankan tentang kuasa dan kekuatan Tuhan. Disamping itu, Ia adalah Pencipta yang membentuk segala-galanya, dan komitmen-Nya pada umat bahwa mereka adalah milik-Nya. Maka daya tarik berhala-berhala itu memudar dan lenyap, sehingga celaan atas status sebagai minoritas (karena terbuang) berubah menjadi kehor-matan.

Makna dan Implikasi Firman

Milenium ketiga ini ditandai dengan berbagai paradox (seolah-olah berlawanan) yang menarik. Persaingan hidup se-makin tak terkendali, baik dalam bidang ekonomi (menekankan untung-rugi), politik (perebutan kekuasaan), sosial/budaya (pengutamaan suku) juga antar agama dan golongan. Dimana agama telah menjadi alat bagi kehidupan umat untuk saling membenarkan dan menyalahkan telah menjadi fenomena saat ini. Padahal agama harus menjadi penyejuk dan pelindung umat bukan saling menghancurkan. Terorisme, radikalisme, fanatisme menjadi momok yang menakutkan dalam kehidupan beragama yang merusak kerukunan.

Persoalan lain, manusia telah menjadikan materi (Uang, Kekuasaan dan Jabatan) sebagai tujuan hidup karena dianggap sebagai sumber kebahagiaan dan perlindungan. Sehingga manu-sia berlomba-lomba mengejarnya (kerja siang-malam) dan segala cara dihalalkan asalkan tujuan untuk mendapat materi terwujud. Korupsi, penebangan liar (perusakan ling-kungan), eksploitasi ikan, penjualan anak dan perempuan menandai kehidupan saat ini.

Persoalan-persoalan di atas dapat dikatakan bahwa “Agama dan Materi” telah menjadi sebuah pengakuan sebagai “sumber kebahagiaan dan penyelamat” yang memberi perlin-dungan pada manusia, sehingga kedua-duanya telah menjadi berhala modern yang memikat dan menaklukkan manusia.

Pengakuan Umat: Tuhan Semesta Alam mau menya-takan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya pusat kehidupan manusia, Ia Pencipta dan Pemilik segala-galanya yang ada di bawah kolong langit termasuk semua agama dan golongan. Klaim agama yang saling membenarkan justru menolak tentang Kemahakuasaan Tuhan yang telah menjadikan semua ciptaan adalah milik-Nya dan melalui penebusan Yesus Kristus yang telah mempersatukan umat dalam Iman, Pengharapan dan Kasih.

          Yeremia 10:6-16, mengingatkan kita tentang Tuhan Semesta Alam, Tuhan Pencipta Semesta, Ia Pemelihara dan Pelindung umat yang tak tertandingi oleh siapapun. Kebiasaan-kebiasaan dan simbol-simbol keagamaan tidak melindungi umat, apalagi jika hal tersebut hanya bersifat lahiriah saja dan maknanya yang benar hilang dan dilupakan. Tuhan satu-satunya sumber perlindungan bagi semua orang percaya. Tuhan lebih berkuasa daripada raja-raja di dunia, lebih bijaksana daripada ahli nujum atau orang yang dianggap hebat sekalipun. Materi dan Agama yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan pun tidak menjadi jaminan untuk mendapatkan Perlindungan Sejati selain Tuhan karena Dialah sumber keselamatan dan kebahagiaan orang percaya. 

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:       

  1. Apa yang menjadi alasan sehingga umat mengaku bahwa “Tuhan Semesta Alam” menurut teks bacaan kita?
  2. Bagaimana Gereja memaknai “Tuhan Semesta Alam” ketika agama dan materi dijadikan berhala dan tujuan hidup? 

NAS PEMBIMBING: Mazmur 84:11-13

POKOK-POKOK DOA:

  • Kebahagiaan tergantung pada Tuhan bukan pada materi dan kekuasaan.
  • Umat terus mengaku bahwa Tuhan Semesta Alam, Pencipta dan Penyelamat manusia.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Persiapan: KJ No. 69 Pada Mulanya

Panggilan Beribadah: NKB No. 217 Semua Yang Tercipta

Pengakuan Dosa: NKB No. 213 Kita Sudah ditebus Oleh-Nya

Pemberitaan Anugerah Allah: NNBT No. 36 Barangsiapa yang Percaya

Pengakuan Iman: KJ No. 38 T’lah Kutemukan Dasar Kuat

Hukum Tuhan: KJ No. 293:3 Puji Yesus

Pembacaan Alkitab: KJ No.73 Hai Langit, Pasanglah Telingamu

Persembahan: KJ No. 289 Tuhan Pencipta Semesta

Nyanyian Penutup: KJ No. 442 Tenteramlah, Hai Jiwaku

ATRIBUT:

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here