MTPJ 5 – 11 Agustus 2012

0
1383

Tema Mingguan: “Bijak Mengelola Kekayaan”

Tema Bulanan: “Ekonomi Yang Injili”

Bahan Alkitab: Lukas 12 : 13 -21

A. ALASAN PEMILIHAN TEMA

     Kata “bijak” sama dengan pandai, mahir, selalu menggunakan akal budinya. Lawan dari bijak adalah bodoh; tidak lekas mengerti, tidak dapat tahu. Untuk mengelola kekayaan kita perlu bijaksana agar itu dapat dipertanggung jawabkan dengan benar, baik di hadapan Tuhan maupun sesama manusia. Bicara kekayaan umumnya dapat diartikan dengan harta yang tidak sedikit atau banyaknya harta yang dimiliki. Pandangan kita tetang kekayaan secara nyata tertuju pada beberapa hal; harta yang bergerak seperti mobil, pesawat, motor, dan alat-alat yang bergerak lainnya; demikian harta yang tidak bergerak seperti uang, tanah bersertifikat, rumah, barang-barang berharga; juga tak kalah penting ada harta yang diperebutkan dan dikejar orang yaitu jabatan, kekuasaan dan kebahagiaan. Jadi dengan kata lain bicara harta terdiri dari harta jasmani dan harta rohani. Tema kita di sepanjang bulan ini adalah “Ekonomi yang Injili”.

     Berdasarkan tema ini dipilih tema mingguan untuk lebih lagi memahami bagaimana manusia itu menerima berkat-berkat dari Tuhan yaitu “Bijak mengelola kekayaan”, dengan pembacaan Alkitab Lukas 12:13-21 yang menceritakan tetang orang kaya yang bodoh. Pembacaan ini diangkat untuk membuka wawasan bagi kita supaya mampu melihat betapa hidup ini sangat terbatas; Yesus memperingatkan murid-murid-Nya terhadap bahaya ketamakan yang berarti kehausan untuk memiliki lebih banyak, mengejar kekayaan bagi dirinya sendiri. Sikap yang menjurus pada aroganisme (kesombongan karena kedudukan, status dan harta benda yang dimiliki); hedonisme (tujuan hidup adalah semata-mata untuk bersenang-senang di dunia ini), materialisme-konsumerisme (tujuan hidup telah tercapai bila memiliki barang sebanyak-banyaknya dan hidup dalam berfoya-foya); serta kecemburuan sosial, sebagai akibat dari kesenjangan ekonomi; yang kaya harus bijak mengelolah kekayaan sebagai anugerah Tuhan yang terindah; kita yakin bahwa kita akan menerima kekayaan dan kehormatan kekal dari Allah sebagai warisan masa depan (Lukas 16:11; Efesus 1:19; 3:8).

B. PEMBAHASAN TEMATIS

B.1. Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Injil Lukas yang secara umum berisi serangkaian cerita mengenai Yesus dan pelayanan-Nya bersama dengan para murid, Lukas yang dikenal menaruh perhatian khusus bagi mereka yang miskin, yang lemah, tercecer, dengan kata lain kepada mereka yang strata sosial rendah dan orang-orang asing. Ia menulis Injil ini bagi kalangan pembaca yang non Yahudi (yaitu orang Yunani atau yang berkebudayaan Yunani) yang kebanyakan dari pada mereka tergolonga masyarakat kelas atas yang terdiri dari para tuan tanah, penguasa yang kaya yang terpanggil berpartisipasi menolong orang kelas bawah. Perumpamaan ini hanya ditulis atau terdapat dalam Injil Lukas saja. Lukas mengemukakan tetang Yesus yang hadir sebagai penyelamat, pembebas dari ikatan-ikatan roh duniawi yang hanya untuk dirinya sendiri, yang bukan terarah pada Allah sumber segala-galanya.

     Khusus pasal 12:13-21, tidak lepas dari pembacaan sebelumnya, ketika Yesus memberikan pengajaran khusus kepada murid-murid dalam perjalanan Yesus dari Galilea ke Yerusalem. Lukas menceritakan tentang peringatan Yesus kepada orang kaya yang hanya mengorientasikan hidup pada kekayaan untuk diri sendiri, dan pada akhirnya membawa pada kebinasaan. Yesus, Guru yang baik didatangi oleh seorang yang meminta-Nya untuk menjadi pengantara atas pembagian warisan. Warisan dalam Alkitab Perjanjian Lama sebagai terjemahan dari “nakhal” artinya milik pusaka. Dalam Perjanjian Baru, warisan dalam bahasa Yunani diterjemahkan kata “kleronomos” dalam berbagai bentuknya, yang berasal dari kata “kleros” artinya bagian. Kata ini umum dipakai dalam ihwal menerima sesuatu menjadi hak, justru diterjemahkan berhak menerima (Galatia 3:29; Ibarani 1:2), mendapat bagian (1 Kor 6:9; Ibr 6:12) memperoleh (Ibr 1:14; 1 Petrus 3:9). Permohonan dari seseorang ini ditanggapi oleh Yesus dengan mengatakan siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu? Yesus tahu bahwa permasalahan yang dihadapi oleh dua orang kaya ini menjurus pada kekayaan atau ketamakan karena itu Yesus berkata kepada mereka ayat 15; Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidup tidak tergantung dari pada kekayaan itu. Yesus dengan tegas mengingatkan mereka tentang bahaya ketamakan. Ketamakan dalam bahasa Yunani Pleonexia secara harafia berarti kehausan untuk memiliki lebih banyak.

     Secara asasi kata itu berarti penonjolan diri yang lalim dalam soal milik, yang sering dihubungkan dengan mengejar kekayaan sebagai penyembahan berhala, termasuk daftar perbuatan jahat (Efesus 4:19). Yesus tahu bahwa perkara antara kedua bersaudara itu timbul dari ketamakan dua orang kaya (ayat 15a). Karena itu Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang seorang kaya yang memiliki tanah yang berlimpah-limpah hasilnya; katakanlah ia sangat berbangga serta hidup besenang-senang dengan kekayaannya, sehingga ia bertanya dalam hatinya; Apakah yang harus aku lakukan, sebab aku tidak mempunyai tempat dimana aku menyimpan hasil tanahku (ayat 17), ia sendiri yang menjawab; bahwa aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan membuat yang lebih besar lagi. Dari keangkuhannya atas harta kepemilikannya ia hanya memakai untuk dirinya sendiri dengan kata lain kaya harta tapi miskin kasih. Oleh karena itu datanglah Firman Tuhan dan menyatakan kedaulatan dan kekuasaan-Nya dengan mengambil jiwanya pada malam itu juga (ayat 20); Tetapi Firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan kuambil dari padamu dan apa yang engkau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Ternyata memiliki kelimpahan harta tidak memberi kuasa apapun atas hidup ini dan tidak memberi kuasa apapun atas hidup ini dan tidak menjamin sama sekali amannya hidup seseorang. Dengan kata lain engkau tidak dapat membawanya ke seberang sana! Sebab seperti bunyi pribahasa: Dalam baju hatimu tidak ada kantng.

B.2. Makna dan Implikasi Firman

Dalam kenyataan banyak orang yang hidup dalam kesengsaraan tapi juga ada yang hidup dalam kesenangan. Ada yang hidup sengsara karena miskin, tertindas, gagal dalam usaha dll. Ada yang hidup senang karena punya pekerjaan dan kedudukan; banyak uang dll. Sadar atau tidak kita sudah berada pada dua golongan sosial yang besar yaitu ada orang kaya dan ada yang miskin. Karena kesenjangan sosial; yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Tidak dapat dipungkiri kenyataan ini, karena yang terjadi bisa karena ulah sendiri (malas, bodoh, menyerah tidak berusaha) atau juga karena orang lain, Orang kaya yang bodoh dalam pembacaan ini, akan membuka wawasan kita untuk mampu melihat betapa hidup ini hanya terbatas saja; kekayaan dan harta benda yang kita miliki akan lenyap. Kalau kita jadikan itu sebagai sesuatu yang membawa pada keangkuhan; hidup bersenang-senang, hanya untuk kepentingan diri sendiri. Adalah suatu perbuatan yang bodoh serta kesalahan, apabila seseorang menjadikan kekayaan dan kesenangan duniawi menjadi tujuan hidupnya. Tuhan tidak pernah melarang untuk mengumpulkan kekayaan, atau menjadi kaya tetapi Tuhan mengecam sikap ketamakan terhadap kekayaan itu.

     Sebagai orang percaya kita tidak boleh berpegang erat kepada harta milik sebagai kekayaan yang menjamin hidup kita, tetapi hendaklah hidup dan kekayaan kita persembahkan kepada Tuhan demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Demikianlah mereka yang memiliki kekayaan dan harta benda harus memandang diri mereka sebagai pengurus barang milik Allah (Lukas 12:31-48) serta bersikap dermawan, siap sedia membagikan kepada orang lain untuk pekerjaan pelayanan Tuhan, ada kaya dalam kebajikan (1 Timotius 6:17-19). Jangan kita pakai prinsip ekonomi banyak memberi akan rugi, tetapi prinsip iman banyak memberi banyak menerima berkat.

     Kekayaan sejati bagi orang Kristen terdiri atas Iman, Pengharapan dan Kasih yang dinyatakan dalam bentuk penyangkalan diri danhal mengikut Yesus (1 Korintus 13:4-7; Filipi 2:3-5). Orang yang benar-benar kaya dalam mereka yang telah memperoleh kemerdekaan dari perkara-perkara duniawi dan selalu percaya bahwa Allah adalah Bapa tidak akan pernah meninggalkan mereka (2 Korintus 9:8; Filipi 4:19; Ibrani 13:5-6).

 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apakah yang kita pahami tetang soal warisan yang diceritakan dalam pembacaan Lukas 12:13-31 ini?
  2. Masih adakah praktek hidup seperti yang diceritakan dalam perumpamaan tetang orang kaya yang bodoh? Dalam bentuk apa?
  3. Bagaimana sikap kita terhadap kekayaan itu?

 

NAS PEMBIMBING: Amsal 11:24,25a

POKOK-POKOK DOA:

  • Mendoakan bagi mereka yang hanya kaya harta tetapi miskin kasih.
  • Mendoakan bagi mereka yang kaya harta tapi kaya kasih.

 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Nyanyian masuk: NNBT No.5
Sesudah nas pembimbing: NKB No.196
Pengakuan dosa: KJ No.467
Berita Anugerah Allah: NKB No.10
Sesudah hukum Tuhan: KJ No.282
Persembahan: NKB No.100
Penutup: NKB No.189

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here