“Manfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Kehidupan Semua Makhluk”
(TEMA MINGGUAN)
TEMA BULANAN : “Gereja di Era Digital”
Bacaan Alkitab: Kejadian 6:9-22
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam manusia, dan teknologi artinya keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan manusia. Ilmu Pengetahuan selalu berdasarkan pada teori-teori sedangkan teknologi adalah bentuk terapan dari teori-teori yang tertuang dalam sistem-sistem kehidupan. Dari pengertian ini kita dapat mengatakan bahwa semua itu adalah kerja hikmat, yang merupakan kasih karunia Allah kepada manusia.
Melalui Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) maka TUHAN Allah menolong manusia untuk dapat melaksanakan semua kegiatan hidup dengan mudah dan dengan hasil yang memuaskan; bahkan dengan IPTEK manusia dapat mensejah-terakan dirinya dan ciptaan yang lain (Kejadian 1 : 26, 28)
Tetapi tahukah kita bahwa IPTEK juga sudah dan sedang menjadi ancaman atau bahaya bagi kehidupan manusia? Sebab kenyataannya, melalui IPTEK manusia mencemari dan merusak ciptaan Allah. Sebagai contoh, melalui sistem komputer dan internet maka ada kekerasan dimana-mana, ada perdagangan manusia (perempuan/anak) secara online, ada transaksi seksual (prostitusi) secara online, ada ancaman teror. Selain itu, ada produk-produk teknologi yang merusak lingkungan dan mendatangkan bencana alam, misalnya sampah plastik yang mencemarkan sungai dan menyumbat saluran air, mesin-mesin penebang pohon yang dipakai untuk menggundulkan hutan, tumpahan minyak yang merusak dan menghancurkan biota laut, dan lain lain.
Karena itu sebagai warga gereja, kita terpanggil untuk menggumuli permasalahan ini melalui terang Firman TUHAN yang dituntun melalui tema “Manfaatkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Untuk Kehidupan Semua Makhluk”.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Dosa adalah perbuatan yang melawan kehendak Allah. Kecenderungan berbuat dosa membuat manusia melakukan kejahatan, bukan hanya kejahatan moral (6:2), tetapi juga kerusakan alam semesta karena kesewenang-wenangan manusia (6:11). “Rusak” dalam ayat 11 ialah perkara yang berhubungan dengan penyembahan kepada Allah.
Tidak ada lagi rasa takut dan hormat kepada TUHAN Allah, semua manusia melakukan kecemaran dihadapan wajah Allah. Kekerasan (ayat 12) ialah bentuk hidup yang tidak tertib, sebab pembunuhan, pemerkosaan, bahkan manusia dapat menjadi ‘binatang’ dan ‘setan’ bagi sesamanya.
Inilah yang membuat Allah menyesal menciptakan manusia dan akhirnya Allah menghukum bumi dan semua yang ada di dalamnya (6:5-7, 11-13). Nuh yang menjadi tokoh utama dalam perikop ini mendapatkan kasih karunia Allah, sebagai sebuah reward (penghargaan) karena ia seorang yang benar, tidak bercela (Ibr. Tamiym=tidak bercela, sempurna) dan hidup bergaul dekat dengan Allah.
Kasih karunia Allah itu ialah keselamatan (ayat 8, 9). Kasih karunia yang berbuah keselamatan ini bukan hanya menjadi milik pribadi Nuh, tetapi juga keluarganya yaitu isteri dan ketiga anaknya, Sem, Ham dan Yafet beserta isteri-isteri mereka (ayat 18).
TUHAN Allah mewujudkan kasih karunia-Nya kepada Nuh dan keluarganya melalui tindakan keselamatan yang bermula dari perintah untuk “membangun bahtera”, meskipun Nuh harus menanggung banyak ejekan karena membangun bahtera di atas gunung.
Selanjutnya bahwa bahtera yang diperintahkan Allah lengkap dengan ukurannya, yaitu panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta, dan dibuat berpetak-petak yang terdiri dari tiga tingkap yakni, bawah, tengah dan atas (ay.14-16). Ukuran 1 hasta = + 45 cm, dan berarti bahtera itu berukuran, panjang 135 meter, lebar 22,5 meter, tinggi 13,5 meter dan masing-masing tingkap berukuran 4,5 meter.
Seperti dalam ayat 16 yaitu ukuran sehasta dari atas (45 cm) adalah jendela di sekeliling bahtera untuk sirkulasi udara. Dan untuk tingkap-tingkap yang ada dalam bahtera, dapat diartikan bahwa tingkap yang paling atas disediakan untuk tempat tinggal Nuh dan keluarganya, termasuk logistik seperti yang dimaksud dalam ayat 21, sedangkan tingkap tengah untuk binatang yang tidak haram (7 pasang masing-masing jenis) dan tingkap bawah untuk binatang yang haram (1 pasang masing-masing jenis) dan dibuat berpetak-petak yang berkaitan dengan pembagian tempat dari masing-masing jenis hewan, termasuk memisahkan antara binatang yang tidak haram dan yang haram (Kejadian. 7:2-3).
Maksud bahtera yang dibuat oleh Nuh adalah wadah keselamatan yang disediakan Allah. Keselamatan itu bukan hanya untuk Nuh tapi juga keluarganya dan semua jenis binatang (ayat 18-20). Jadi keselamatan ini justru berawal dari kesalehan Nuh (ayat 9).
Makna dan Implikasi Firman
Allah menciptakan manusia dengan memiliki akal budi atau hikmat. Dari akal budi (hikmat) itu manusia menciptakan ilmu pengetahuan dan dengan ilmu pengetahuan manusia menciptakan dan mengembangkan teknologi. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) itu sebenarnya harus dimanfaatkan untuk melaksanakan amanat Allah, yakni untuk berkuasa dan menaklukkan bumi dan semua ciptaan-Nya (Kejadian 1:26,28).
Sebagaimana ilmu pengetahuan adalah kekayaan karunia Allah pada manusia (Mazmur 94:10b, Yesaya 33:6), sehingga prinsipnya ilmu pengetahuan harus dimanfaatkan untuk kemuliaan Allah, yang terdapat pada semua makhluk ciptaan-Nya; walaupun seringkali tanpa kita sadari, ilmu pengetahuan yang kita miliki telah menyeret kita pada kesombongan diri.
Sebagai Gereja yang hidup dan melayani di zaman ini, kita tentu tahu bahwa kekayaan ilmu pengetahuan telah menghentar kita memasuki suatu masa yang kita sebut “era digital” – (era = kurun waktu, digital = berhubungan dengan angkah-angkah) – masa dimana segala sesuatu yang kita lakukan harus terukur keberhasilannya, dan setiap keberhasilan harus memberi jaminan kesejahteraan bagi manusia serta lingkungannya.
Nuh mendapatkan IPTEK untuk membangun bahtera atas perintah TUHAN, ia membangun bahtera bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri, atau untuk popularitas diri, melainkan untuk keselamatan dan kesejahteraan semua ciptaan Allah.
IPTEK pada zaman Nuh tentu sangat jauh perbedaannya, sebab perkembangannya hampir melampaui batas-batas pemikiran manusia itu sendiri. Namun belajar dari Nuh kita sebagai (orang percaya) yang hidup dizaman ini dituntut untuk memanfaatkan semua kekuatan IPTEK untuk kesejahteraan semua ciptaan Allah dan untuk kemuliaan Allah (Roma 11:36).
Di dalam bahtera yang sebesar inilah Nuh dan keluarganya, serta semua hewan atau binatang diselamatkan Allah dari air bah. Ini menjadi permulaan dari suatu zaman baru (ayat 18-21). Dari peristiwa ini juga terlihat iman Nuh yang terwujud dalam semua ketaatannya kepada Allah, karena semua yang diperintahkan tidak ada satupun yang diabaikan (ayat 22)
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
- Apakah makna Kejadian 6:9-22 dihubungkan dengan Memanfaatkan IPTEK untuk kehidupan sesama makhluk?
- Jelaskanlah hubungan antara Iptek dan pelayanan Gereja masa kini!
- Bagaimana caranya agar supaya kita tidak terjebak pada penyalagunaan karena IPTEK!
NAS PEMBIMBING: Yesaya 33:6
POKOK-POKOK DOA:
- Pemanfaatan IPTEK secara bertanggungjawab.
- Semua usaha pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup
- Memohon berkat TUHAN untuk setiap orang/lembaga yang berjuang untuk menciptakan IPTEK demi keseimbangan ekosistem (komunitas makhluk hidup dan lingkungannya).
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN:
HARI MINGGU BENTUK I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
- Panggilan Beribadah: NNBT No. 2 Dunia Tercipta Oleh Kar’na Tuhanmu
- Ses Nas Pembimbing: KJ. No. 8. Bagi-Mu, Tuhan, Nyanyianku
- Pengakuan Dosa & Pemberitaan Anugerah Allah: NKB. No.23 Di Dalam Kasih Yang Teguh
- Pengakuan Iman: NNBT No 13 Ya Allah Bapa, Ya Yesus Tuhan
- Hukum Tuhan: NKB No. 116 Siapa Yang Berpegang.
- Ses Doa Pembacaan Alkitab: KJ No.427 Ku Suka Menuturkan
- Persembahan: KJ.No. 409. Yesus, Kau Nakhodaku
- Nyanyian Penutup: KJ.No 418. Baht’ra Yang Dipandu Yesus
ATRIBUT:
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.