MTPJ 8 – 14 Februari 2015

0
6345

TEMA BULANAN : “Kehidupan Kristiani Dalam Solidaritas Berbangsa“
TEMA MINGGUAN : “Solidaritas Dengan Sesama Anak Bangsa”
Bahan Alkitab: Mazmur 33:13-15; Lukas 10:25-37

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Solidaritas dengan sesama anak bangsa menjadi ungkapan ajakan yang mengandung makna yang dalam untuk membangun keutuhan bangsa yang berawal dalam kesediaan untuk saling memahami: menghargai dan menghormati satu terhadap yang lain sebagai sesama anak bangsa. Indonesia dengan keragaman Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) adalah kekayaan. Tema ini tetap relevan, ketika diangkat dalam konteks berbangsa dan bernegara, karena kehidupan masyarakat modern yang cenderung mengglobal telah/sekaligus menembus sekat-sekat teritorial oleh kemajuan teknologi transportasi tetapi sekaligus telah menembus ruang dan waktu oleh kemajuan teknologi informasi.

        Dampak dari kemajuan ini ada yang positif, tetapi juga negatif. Semangat globalisasi telah menggerogoti sendi-sendi kemajemukan anak bangsa, karena pengaruh ideologi, budaya dan agama dari berbagai belahan dunia. Masyarakat Indonesia yang damai dan aman, terancam oleh berbagai nilai-nilai yang cenderung destruktif yang mengakibatkan menurunnya semangat solidaritas sesama anak bangsa. Kita mudah terprovokasi oleh berbagai pengaruh luar yang mengakibatkan terjadinya tindakan-tindakan anarkis sebagai bentuk eksplosif radikalisme atas nama agama dan budaya global.

        Solidaritas dengan sesama anak bangsa mengingatkan kita sebagai warga gereja untuk tetap memiliki komitmen untuk peduli terhadap sesama manusia. Sebagai sesama anak bangsa kita terus menyatakan solidaritas terhadap berbagai persoalan yang dapat saja mengancam keutuhan sebagai sebuah bangsa yang besar dengan sikap dan perilaku yang Kristiani.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Mazmur 33: 13-15.

Perikop bacaan ini diberi judul: Puji-pujian kepada Allah Israel. Membaca secara cermat Mazmur 33 ini, kita akan dapati bagaimana Pemazmur memulai dengan mengajak umat untuk menyampaikan sorak sorai , memuji-muji (ayat 1);, bersyukurlah, bermazmurlah (ayat 2); nyanyikanlah, petiklah kecapi (ayat 3) kepada Tuhan. Mulai ayat 5-15. Pemazmur melihat solidaritas Allah dinyatakan dalam keadilan dan hukum bagi ciptaan-Nya. Ayat 13-15 dalam bacaan ini dengan jelas, Tuhan menyatakan solidaritas-Nya dari sorga: “Ia melihat semua anak manusia”(ayat 13). “Semua anak manusia” menunjuk tentang semua manusia ciptaan-Nya yang mendiami bumi dengan semua hak dan kewajibannya tanpa diskriminasi. Semua anak manusia berada dalam “pandangan” mata-Nya. “Ia menilik semua penduduk bumi” (ayat 14). Ungkapan ini memberi arti bahwa Tuhan berkuasa dan memiliki hak untuk menilik  semua penduduk bumi berada dalam kemahakuasaan-Nya. Tidak ada yang tersembunyi dan dapat menyembunyikan diri dalam pandangan-Nya. “Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka”(ayat 15). Ungkapan “membentuk hati” mengartikan bahwa “hati” sebagai pusat dan kekuatan hidup manusia batiniah (=rohani) menjadi perhatian Allah, sebab dari hati, kemanusiaan manusia menemukan esensi beriman sebagai makhluk hidup yang termulia. Ungkapan: “Yang memper-hatikan segala pekerjaan mereka” menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya membentuk hati, tetapi Tuhan juga memperhatikan segala pekerjaan mereka. Pekerjaan menunjuk pada segala aktifitas hidup manusia yang tetap diperhatikan Allah, artinya Allah terus memberkati kehidupan manusia.

Lukas 10: 25-37.

Lukas  adalah penulis Injil  ketiga (Injil Lukas) dan Kisah Para Rasul. Ia dikenal sebagai seorang tabib dan teman sekerja  Rasul Paulus ( Lihat: Kolose 4: 14; Filemon 1:  24 dan 2 Timotius 4: 11). Lukas dikenal menulis kedua tulisan dengan memberi penekanan pada hal-hal seperti : Kerja Kuasa Roh Kudus, Pekabaran Injil Para Rasul, kehidupan jemaat mula-mula dan kepedulian Yesus kepada mereka yang menderita, sakit, kaum yang lemah dan termarjinalisasi (terpinggirkan). Bacaan Alkitab Injil Lukas pasal 10: 25-37 ini adalah salah satu bagian cerita yang mau menceritrakan tentang kepedulian Yesus pada mereka yang lemah dan terpinggirkan melalui cerita “Orang Samaria yang murah hati”.

Cerita ini berawal dari seorang ahli Taurat yang ingin mencobai Yesus (ayat 1) dan Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang diceritakan dalam ayat 30-37. Lukas ingin menggambarkan bagaimana “kemanusiaan” seseorang dikorbankan oleh sesamanya tanpa belas kasihan. Demikian juga bagaimana perilaku seorang imam (=tokoh agama), seorang Lewi (= petugas khusus penyelenggara ibadah/ pembantu imam) dan seorang Samaria (=Dibenci oleh orang Yahudi karena perbedaan agama dan kebiasaan sebagai bangsa campuran) menyikapi kondisi orang yang kemanusiaannya dikorbankan menjadi tidak berdaya dan lemah (= termarjinalisasi). Belas kasihan menjadi kata kunci dalam teks Alkitab ini. Ayat 30 memberi arti bahwa seseorang yang merampok, memukul dan meninggalkannya setengah mati tidak memiliki belas kasihan. Ini adalah “tindakan aktif” yang tidak memiliki belas kasihan. Ayat 31-32 ternyata menggambarkan bahwa jabatan keagamaan (=agamawi) tidak menjamin memiliki belas kasihan. Ini adalah “tindakan pasif” yang tidak memiliki belas kasihan. Ayat 33-35 menggambarkan seorang Samaria yang identik sebagai orang yang “kurang beriman” dan “sinkretis” (=campur aduk keyakinan) justru memiliki belas kasihan. Belas kasihan ini terwujud dalam “membalut luka-lukanya, menyirami dengan minyak dan anggur (minyak dan anggur dipakai juga sebagai bahan pembersih luka), menaikkan orang itu  ke atas keledai, membawa ke tempat penginapan dan merawatnya (ayat 34). Ayat 35: “… menyerahkan uang dua dinar (band. Matius 20:2, 1 dinar= upah kerja sehari) kepada pemilik penginapan untuk biaya perawatan (ayat 35). Belas kasihan telah mendorong orang Samaria untuk menyatakan solidaritasnya bagi sesama. Belas kasihan terhadap sesama bersumber dari kasih terhadap Allah (= Kasih Allah; Yunani: “Agape”, lihat ayat 27).

Makna dan Implikasi Firman

  • Setiap bulan Desember kita memperingati Hari Kesetia-kawanan Sosial. Kesetiakawanan adalah solidaritas terhadap sesama manusia. Dalam konteks Ke-Indonesiaan, sebagai sesama anak bangsa kita terus menggumuli persoalan bangsa seperti kemiskinan dan ketidakadilan. Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki sumber daya alam yang kaya, namun harus diakui kemiskinan masih menjadi “wajah suram” yang menghiasi sebagian rakyat (= penduduk) di bumi “negeri elok” (Ingat lagu: “Rayuan Pulau Kelapa”).
  • Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya dengan kepelbagaian Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Kekayaan ini seharusnya disyukuri sebagai anugerah yang diberikan Tuhan, bukan sebagai ancaman yang menakutkan satu terhadap yang lain. Sebagai sesama anak bangsa seharusnya kita dapat hidup berdampingan dengan aman (Ingat lagu: “Rayuan Pulau Kelapa”). Realitas hidup kekinian yang telah dirasakan sejak beberapa dekade tinggal di bumi Indonesia ini, nilai-nilai solidaritas sebagai anak bangsa mulai terganggu dengan berbagai tindakan anarkis yang membawa label dan simbol agama, suku, ras dan antar golongan. Seruan dan “klaim” atas nama SARA semakin masif(=meluas)merusak nilai-nilai solidaritas. Kesadaran atas realitas kemajemukan, kiranya akan tetap menjadi prioritas forum-forum dialog dan kampanye-kampanye  di berbagai media.
  • Sebagai komunitas Kristen (=gereja-gereja) harus terus bersedia berkomitmen dan membangun diri pada kesadaran untuk menyuarakan dan mempraktekkan solidaritas sebagai sesama anak bangsa. Solidaritas tetap menjadi “seruan” dan “ajakan” untuk membangun komitmen kebangsaan dalam kemajemukan Indonesia. Belas kasihan yang bersumber dari Kasih Allah, dalam Yesus Kristus kiranya akan senantiasa menyemangati semangat solidaritas dengan sesama anak bangsa. 

NAS PEMBIMBING :  1 Yohanes 4 :19-21 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa pemahaman saudara tentang solidaritas dengan sesama menurut kedua teks pembacaan Alkitab ini ?
  2. Hal-hal apa saja yang dapat mereduksi (mengurangi nilai) solidaritas sebagai sesama anak bangsa dan memberi solusi atas berbagai persoalan yang terjadi ?
  3. Sikap Kristen seperti apa saja yang dapat memberi kontribusi bagi kelangsungan hidup sebagai anak bangsa?

POKOK-POKOK DOA

  • Doakan untuk kerukunan hidup sebagai sesama anak bangsa ( Para pemimpin bangsa, pemimpin umat dan seluruh rakyat Indonesia).

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK II 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Persiapan : NNBT No. 3 “Mari Kita Puji Allah”
Doa Penyembahan : NNBT No. 4 “Naikkan Doa Pada Allah”
Pengakuan Dosa : NNBT No. 11 “Ya Allahku, Kami Mengaku Dosa”
Janji Anugerah Allah : NKB No. 17 “Agunglah Kasih Allahku”
Puji-pujian : NKB No. 13 “Ya Allah Bapa, Ya Yesus Tuhan”
Pembacaan Alkitab :KJ No. 49:1 “Firman Allah Jayalah”
Pengakuan Iman : KJ No. 38 “T’lah Kutemukan Dasar Kuat”
Persembahan : KJ No. 392 “Ku Berbahagia”
Penutup : KJ No. 426:1,4 “Kita Harus Membawa Berita”

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:
Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here