MTPJ 9 – 15 Maret 2014

0
1795

TEMA BULANAN : “Berdemokrasi Dalam Penderitaan Kristiani”

TEMA MINGGUAN : “Penderitaan Sebagai Cara Allah Mendidik Umat

Bahan Alkitab : Ayub 1 : 13 – 22 ; 1 Petrus 4 : 12 – 16

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Banyak orang menganggap kehidupan yang mengikuti Yesus akan selalu aman dan lancar, ibarat berjalan di jalan tol yakni : “aman, bebas hambata”. Apabila seorang sungguh-sungguh mengikuti Tuhan itu akan nampak dari kesuksesan dalam hidupnya, baik dalam karir, tugas, pekerjaan, maupun dalam rumah tangga, termasuk berkat-berkat fisik yang dimilikinya. Apabila ada penderitaan dan kesusahan maka itu dianggap sebagai kegagalan dalam kepengikutannya kepada Tuhan. karena itu ada banyak orang yang menolak penderitaan dan kesusahan, menganggap Tuhan telah menjahuinya bahkan telah meninggalkanya.

Tema minggu ini adalah : “Penderitaan Sebagai Cara Allah Mendidik Umat”. Begitu kuat dan kokoh dasar-dasar alkitabiah tentang cara Tuhan mendidik umat-Nya, dan salah satu cara yang berulang-ulang disaksikan bahwa Allah seringkali memakai penderitaan dan kesusahan untuk mendidik umat dan hamba-Nya. Bahkan karya Penebusan Angung dijalani Tuhan Yesus melalui “Jalan Penderitaan” (via-dolorosa).

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab(Exegese)

Kisah Ayub adalah refleksi tentang kehidupan seorang hamba yang sangat dinamis. Kisah ini menolak kepercayaan popular waktu itu yang menghubungkan penderitaan sebagai akibat secara kejam. Tetapi dalam konteks Ayub berbeda. Penulis kitab ini membimbing pemahaman bahwa penderitaan yang selalu dihubungkan sebagai akibat dari dosa manusia, dialihkan pada penderitaan bahwa penderitaan seringkali dipakai Tuhan untuk membentuk dan mendidik hamba-Nya. Bukan berarti tidak ada hubungan antara penderitaan dan dosa manusia, akan ditemukan begitu banyak kesaksian dalam Alkitab tentang hubungan itu, tetapi khususnya konteks kitab Ayub makna tentan penderitaan mempunyai latar belakang dan tujuan yang khusus.

Karena itu kisah ini dimulai dengan peryataan tentang kesetiaan Ayub. Dalam Ayub 1:1 “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”.  Pernyataan ini tidak bermaksud memberi penekanan tentang ketaatan dan kesalehan Ayub sebagai seorang yang sempurna tanpa dosa, tetapi bagaimana spiritulaitas kehambahan seperti yang dimiliki Ayub itu dipakai Tuhan untuk mendidik dan membentuknya melalui penderitaan dan kesusahan yang sangat besar.

Apa 4 pukulan dahsyat menempa spiritualitas kehambaan Ayub. Pertama : ayat 13-15 Ayub menerima pukulan ketika mendengar berita bahwa seluruh lembu sapid an keledai-keledai betina diserang dan dirampas oleh orang-orang Syeba, dan memukul semua penjaganya dengan pedang. Kedua : ayat 16, ayaub menerima pukulan ketiak mendengar berita bahwa api telah menyambar dari langit dan membakar dan menghabisi kambing domba dan penajga-penjaganya. Ketiga : ayat 17 Ayub menerima pukulan ketika mendengar berita bahwa orang-orang Kasdim telah membentuk 3 pasukan dan menyerang unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Keempat : ayat 18 Ayub menerima pukulan yang sangat berat ketika mendengar anak-anak lelaki dan perempuanya tewas ketika rumah tempat mereka makan dan minum anggur roboh diterjang angin rebut dari empat penjuru.

Jenis pukulan yang diterima Ayub merupakan bentuk-bentuk ujian yang dipakai untuk mendidiknya. Waktu itu kehormatan seseorang diukur melalui berapa banyak dan jenis ternak yang dia miliki, juga jumlah dari penjaga atau gembala ternaknya. Pukulan ini mengharncurkan kehormatan yang Ayub miliki. Bahkan waktu itu kebahagiaan dan kemuliaan seseorang diukut melalui berapa jumlah dan anak-anak lelaki dan perempuan yang dimilikinya. Pukulan-pukulan ini menghancurkan kehormatan, kebahagiaan, kemuliaan dan kesejahteraan Ayub.

Ayat 20-22 merupakan sikap Ayub menerima pukulan-pukulan ini. Tindakan “mengoyakkan jubah”, sebagai bentuk “ketidakberdayaan sebagai seorang manusia menghadapai pergumulannya”. Sedangkan tindakan “mencukur kepalanya”, sebagai pertanda “tidak ada kekuatan diri yang dapat dibanggakan dihadapan Tuhan”. Ungkapan “tidak menuduh Allah”, sebagai bentuk ketaatan menjalani semua yang Tuhan izinkan dalam kehidupan.

Surat 1 Petrus 4:12-16, adalah nasihat petrus bahwa penderitaan adalah ujian yang Tuhan izinkan untuk membuktikan iman seseorang. Surat ini ditujukan kepada kelompok-kelompok orang Kristen yang terserak-serak, di antaranya orang-orang yang baru menjadi pengikut Yesus. Mereka dinasihatkan tentang akibat praktis hidup sesuai dengan iman Kristen. Ungkapan “nyala api siksaan” berarti “hal memasukan ke dalam api untuk diuji”, begitu gambaran penderitaan dan kesusahan bagi pengikut Yesus Kristus. Bagaimana menghadapi ujian ini : bersukacitalah (ayat13), berbahagialah(ayat14) dan muliakanlah Allah dalam nama Kristus (ayat15).

Makna dan Implikasi Firman

  • Tuhan  seringkali memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan kesetiaan umat-Nya dibentuk menjadi seperti yang diinginkan Tuhan. laksana seorang penjunan (pembuat tempayan) membuat bejana, demikan Tuhan sang Penjunan membentuk umat-Nya.  Ayub dididik dan dibentuk Tuhan melalui pendertiaan. Penderitaannya ibarat kehidupan yang dipukul-pukul. Jenis dan bentuk pukulan bervariasi dan datang dari berbagai arah, menghantam kehormatan, kemuliaan, dan kesetiaanya. Siapa yang dapat melihat dan emngerti pembentukkan Tuhan, tidak akan bertanya berapa banyak dan jenis pembentukan itu, tetapi akan selalu menerima dengan syukur bahwa Tuhan dengan anugerah-Nya memperkenankan kita mengalamai pembentukan itu.
  • Untuk menerima penderitaan yang beruntun dengan berbagai jenisnya diperlukan spiritualitas kehambaan (kerohanian sebagai hamba) yang sejati, seperti Ayub. Ayub menunjukkan itu melalui rasa hormat, ketulusan, dan kepasrahan pada tindakan Tuhan dalam kehidupannya. Ayub telah belajar untuk tidak boleh menyalahkan pihak lain bila menghadapi penderitaan, sebaliknya selalu bersyukur dengan mengembalikan pada Tuhan sesuai dengan rancangan-rancangan-Nya. Spiritualitas seperti ini diperlukan warga Gereja menjawab tantangan masa kini, baik dalam kehidupan sosial politik kemasyarakatan, maupun dalam persekutaan pelayanan gerejawi.
  • Penderitaan sebagai bentuk pendidikan Allah bukanlah penderitaan yang diakibatkan karena perbuatan sendiri seperti : penderitaan karena membunuh, mencuri, korupsi, dan mengacau (1 Petrus 4:15).
  • Di minggu sengsara pertama, kita diajak untuk bersedia mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Sebab dengan demikian kita diberikan karuniah Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah/Roh Kudus untuk terus menerus memenuhi kita melaksanakan tugas memperluas kerajaan Allah dimuka bumi.

PERTANYAAN DISKUSI

  1. 1.Apa penderitaan yang dialami Ayub dan bagaimana dia merespon penderitaan itu menurut teks ini.
  2. 2.Daftarkanlah bentuk jenis penderitaan yang sering memukul kehidupan umat Allah.
  3. 3.Sikap kehambaan yang bagaimana yang diperlukan untuk menjawab penderitaan Kristiani masa kini ?

NAS PEMBIMBING :  Matius 5 : 11 – 12

POKOK-POKOK DOA

          Warga Gereja dapat memahami arti minggu sengsara.

          Warga Gereja dapat memahami uang bukan sebagai alat kekuasaan tetapi sebagai berkat.

          Jemaat setia dan tekun menjadi pengikut Yesus.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU SENGSARA I

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

          Persiapan : KJ. No. 169 : 1-2

          Nyanian Masuk : KJ. No. 183 : 1-2

          Pengakuan Dosa : NNBT. No.11

          Berita Anugerah : NKB. No. 195

          Ajakan Mengikuti Yesus di jalan Sengsara : NKB. No. 154 : 1-3

          Pembacaan Alkitab : KJ. No. 32 : 2

          Persembahan : NNBT. No. 37 : 1-3

          Nyanyian Penutup : NNBT. No. 32

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN :

Warna Dasar Ungu dengan Simbol XP (Khi-Roh), cawan pembasuhan, salib dan mahkota duri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here