Pertemuan Raya Panji Yosua P/KB GMIM Hasilkan 5 Pernyataan Sikap

0
1020

gmim.or.id –  Semakin cerdas menjadi warga Gereja. Demikian ajakan Wakil Ketua BPMS GMIM Bidang  APP Pdt. Dr. Arthur Reinhard Rumengan, MTeol, MPdk kepada seluruh Pria/Kaum Bapa GMIM, termasuk didalamnya Panji Yosua, ketika memimpin ibadah syukur Pertemuan Raya Panji Yosua P/KB GMIM, Sabtu  (26/11) di Wale Ne Tou Minahasa Tondano.

Menurutnya, ajakan tersebut untuk lebih memahami peran Yosua untuk meneruskan kepemimpinan Musa menuju ke Tanah Kanaan (perjanjian). “Ini tidak mudah. Keras dan sulit.  Panji Yosua bukanlah yang terbesar di dunia. Tapi perjuangan kita adalah perjuangan yang harus melawan kemiskinan, ketidakadilan, melawan radikalisme,”seru Rumengan dalam khotbahnya.

Lebih lanjut Rumengan mengatakan, jadilah pejuang-pejuang untuk melawan hawa nafsu yang menghancurkan. Bergandengan tangan dengan aparat hukum untuk mengatasi berbagai persoalan penyakit sosial masyarakat. “Bangkitkan semangat Yosua. NKRI  menjamin perjuangan kita, supaya negara ini tidak hancur lebur berantakan karena ulah dari segelintir orang yang sedang berupaya untuk mengacaukan negara kita ini, “ tegas Rumengan.

Dalam sambutannya, Ketua Komisi P/KB Sinode GMIM Pnt. Ir. SStefanus BAN Liow mengatakan, Pria/Kaum Bapa GMIM, didalamnya Panji Yosua terpanggil untuk menyatakan persekutuan, kesaksian dan pelayanan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. “Selain memahami dan melaksanakan Pancasila. Menjaga UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai empat pilar ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, ”tegas Liow.

Dalam Pertemuan Raya tersebut, Panji Yosua turut memberikan 5 pernyataan sikap, yakni:

  1. Sebagai gereja terpanggil untuk memperkokoh jati diri, integritas, dan citra di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  2. Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara harus kita jaga, pahami, hayati, dan laksanakan dalam pranata kehidupan sehari-hari. Dimana Pancasila menjadi sumber nilai ideologi, UUD 1945 sebagai aturan yang harus ditaati, NKRI adalah harga mati, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat semua r
  3. Menolak segala bentuk organisasi masyarakat yang radikalisme dan intoleransi.
  4. Meminta aparat penegak hukum agar profesional menjalankan tugas dan tidak  tunduk pada tekanan tekanan kelompok tertentu maupun intervensi politik.
  5. Meminta seluruh elemen masyarakat untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi warga gereja untuk menyongsong dan merayakan Natal Yesus Kristus. 

(Penulis dan Foto: Frangki Noldy Lontaan. Editor: Pdt. Janny Ch. Rende, MTh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here