PPA GMIBM Paulus Pusian Kunjungi Panti GMIM Damai Tomohon

0
3204

GMIM.or.id – Mempererat tali kasih antar sesama warga gereja, Pusat Pengembangan Anak (PPA) Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM) “Paulus” Pusian mengunjungi Panti Penyantunan Penyandang Cacat  Tuna Rungu GMIM Damai Tomohon (Sabtu, 24/10). Rombongan PPA GMIBM Paulus terdiri dari Pembina, Pengurus dan Tutor yang berjumlah 26 orang dipimpin Ketua BPMJ Pdt. Dirkson Chres Polak STh. Mereka disambut Kepala Panti Pdt. Nova Umboh-Gerung, M.Th bersama pengurus lainnya.

Dalam sambutannya Pdt. Nova mengatakan selain panti, di kompleks yang sama, ada juga lembaga pendidikan Sekolah. Ditambahkannya, panti yang sekarang menangani anak-anak tuna rungu, pada kurun waktu di bawah Tahun 1980-an merupakan Panti Jompo. Sejak Tahun 1984 menjadi panti Tuna Rungu  yang dikelola Yayasan Sosial Ds. AZR Wenas. Sampai kini ada 6 orang pengasuh yang bekerja secara bergantian termasuk Kepala Panti sendiri Pdt. Nova.

Ditanya tentang batas usia penghuni panti, Pdt. Nova mengatakan, menurut aturan pemerintah melalui Dinas Sosial batas usia 21 Tahun. Tetapi ia membuat pengecualian karena ada seorang penghuni panti yang telah berusia 34 tahun. “Ia adalah korban konflik Ambon beberapa tahun yang lalu. Orang tuanya menjadi korban kerusuhan. Karena berbagai keterbatasan termasuk kecacatan tuna daksa dan sulit menolong dirinya sendiri, ia kami tangani sampai sekarang”, ujar Pdt. Nova menjelaskan. Umumnya yang menghuni di Panti Damai berusia 8 sampai 21 tahun.

Menyangkut pembiayaan, pihaknya menerima kontribusi dari gereja, pemerintah dan masyarakat melalui berbagai bentuk donasi. Karena tidak semua anak panti berasal dari keluarga yang kurang mampu, maka keluarga yang mampu memberikan kontribusi bulanan, dan dikelola sebagai dana sharing untuk membiayai berbagai keperluan sehari-hari serta operasional panti. “Walaupun berhadapan dengan keterbatasan dana, panti berusaha menyediakan menu yang sehat dan seimbang.” Untuk itu Pdt. Nova sangat bersyukur atas pemberian para donatur, khususnya dari PPA Jemaat GMIBM Pusian yang membawa bantuan beras.

Tentang kesulitan menangani anak-anak panti, Pdt. Nova mengatakan pada awalnya ada masalah komunikasi. Apalagi ia tidak berlatarbelakang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Namun seiring waktu berjalannya waktu, iapun berusaha belajar, sehingga kemampuannya berkomunikasi dengan mereka dapat berlangsung.  “Berbicara dengan tuna rungu harus saling berhadapan, muka dengan muka. Jika tidak, mereka tidak dapat menangkap maksud pembicaraan,” kata Pdt. Nova. “Mereka berbicara dengan gerakan tangan, isyarat tertentu atau bahasa simbol. Nama-nama merekapun sering dipanggil dengan kode gerakan tangan tertentu, tanpa harus menyebut huruf per huruf.” Lanjut Pdt. Nova, “Sebenarnya tidak sulit mengatur anak tuna rungu. Mereka tidak perlu diberitahukan jam tidur, jam makan, jam belajar, jam mencuci pakaian dan jam istirahat. Semua akan mematuhi tanpa harus diperintahkan lagi”, tambahnya.

Secara emosional Pdt. Nova sangat merasa terikat anak-anak asuhannya ini. “Saat libur mereka pulang kampung dan panti terasa sunyi sekali. Saya sangat merindukan mereka,” ungkap Pdt. Nova. Iapun menyaksikan, keberadaan anak-anak atau penyandang disabilitas ini untuk menyatakan kemahakuasaan Tuhan. Sebab di balik kebutuhan khusus, mereka memiliki banyak prestasi, berupa ketrampilan, seni dan olah raga. Beberapa anak harus 3 sampai 4 kali keluar daerah menjadi duta Sulawesi Utara dalam ajang lomba olah raga, ketrampilan dan sains. Ada juga yang sambil sekolah telah bekerja di Salon Kecantikan.

Pdt. Nova meminta agar anak-anak ini didoakan supaya tetap percaya diri dan yakin bahwa Tuhan selalu menolong mereka. Bagi pengasuh, mohon didoakan supaya tetap penuh hikmat dan kebijaksanaan, sabar serta sehat selalu agar maksimal melayani anak-anak panti. Setiap kunjungan bagi penghuni Panti Damai menjadi berkat tersendiri bagi mereka, ada perasaan mereka tidak sendiri dan banyak orang yang menyayangi.

Sementara itu Pdt. Dirkson Polak sebagai pimpinan rombongan menyatakan ada banyak pengalaman dialami walau kunjungan hanya berlangsung satu jam. “Adik-adik penghuni panti walau memiliki keterbatasan atau berkebutuhan khusus, menjadi inspirasi bagi anak-anak PPA untuk berprestasi dalam hidup. Mereka tuna rungu tapi bisa berprestasi dengan luar biasa, membawa harum nama daerah di kancah nasional. Kalau mereka bisa,  mengapa kita tidak? Kita juga belajar memahami kehidupan mereka dengan kekhasannya tersendiri. Tuhan sungguh mengasihi anak-anak ini dan mengaruniakan talenta kepada mereka,” papar Pdt. Dirkson. Tak lupa ia berterima kasih dapat disambut oleh warga panti dengan sukacita, sambil berharap persaudaraan di dalam Tuhan ini terus dibina. “Ke depan bisa ada kunjungan diakonal lainnya”, pungkas Pdt. Dirkson.

Di hadapan rombongan dari Jemaat Paulus Pusian, Penghuni panti menyayikan dua buah lagu. Pertama dari kelompok putra dengan lagu “Yesus Sayang Padaku” dan kelompok Puteri lagu “Sembahlah dan Pujilah Dia”. Anak-anak PPA membalas dengan nyanyian “Hari Ini Kurasa bahagia”. Juga ada bentuk atraksi permainan sulap yang dilakukan oleh seorang anak panti asal Lompad Motoling. Hadir pula para pengasuh, antaranya Aditya Tambengi, Yuni Kawuwung SE, Oli Poluan dan Imelda Rumajar. Acara diakhiri dengan dosa syukur oleh Pdt. Dirkson dan foto bersama di halaman panti yang terletak di kompleks tepi kolam Sineleyan Tomohon.

( Penulis : Pdt. Heski Manus, M.Th; Editor : Pdt. Janny Rende, M.Th)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here