RHK Minggu, 9 Oktober 2016

0
1813

Kehormatan dan Kekayaan Bukan Diukur dari Materi

 Yesaya 22:15-16

Ukuran sebuah kehormatan dan kekayaan sering menjebak manusia pada hal yang bersifat materi, sehingga tidak sedikit manusia berlomba lomba mencari materi dengan berbagai cara. Yang sangat menyimpang adalah manusia merasa ada kepuasan diri bila memperlihatkan atau memamerkan kekayaan kepada orang lain. Sebut saja fenomena yang terjadi tahun lalu “batu-akik” seseorang merasa lain bila  menggunakannya, tetapi orang lain melihat sebenarnya hal biasa, apalagi itu hanya sebuah batu yang tidak bisa berbuat apa apa. Begitupun kecenderungan manusia yang suka mengukur, misalnya membangun batu nisan kuburan sebagai bentuk kepuasan untuk memperlihatkan sese-orang terhormat dan kaya, padahal batu nisan kuburan tetap batu bahkan di dalamnya bau busuk.

Sebna yang adalah kepala istana dalam pembacaan Firman Tuhan ini memperlihatkan sikap memamerkan kekayaannya dengan membangun kuburan mewah di atas bukit untuk dirinya selagi dia hidup. Sikap ini ditolak Tuhan dengan keras ketika nabi Yesaya yang memiliki keberanian menegur pejabat istana mem-bangun kemewahan dan kehormatan di atas penderitaan orang lain. Gereja dan orang percaya sering terjebak memamerkan diri kita dengan berbagai perhiasan dan pakaian mewah (materi) sementara keadaan di dalam diri kita sendiri sulit dibenahi. Padahal yang harus diperlihatkan adalah sesuatu yang dari dalam yakni: kerendahan diri, kesederhanaan,sifat memaafkan, sikap kasih. Tuhan menentang sikap memperkaya diri dan apalagi didapatnya dari hasil mencuri, menipu atau merampas hak orang lain, korupsi dengan memanfaatkan kewenangan, kekuasaan dan kedudukan untuk memperkaya diri. Amin.

Doa: Ya Tuhan berilah kami hati yang rendah dan ajarilah kami selalu untuk dapat menahan diri dari godaan godaan materi. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here