SERUAN GMIM TERHADAP PEMBAKARAN GEREJA DI ACEH SINGKIL

2
6971

Puji syukur kita naikkan kepada Dia, Allah Bapa dalam Yesus Kristus Kepala Gereja dan Roh Kudus Penuntun kehidupan kita. Oleh rahmat-Nya yang besar, Gereja Masehi Injili tetap hadir di tengah perjalanan sejarah, dituntun, dipimpin dan dikendalikan oleh kuat kuasa-Nya. Kita percaya, selaku Gereja yang Ia hadirkan di tanah Minahasa, dalam tapak-tapak pelayanan yang menjadi berkat bagi bangsa dan negara Indonesia, kita terpanggil untuk terus menerangi dan menggarami konteks pelayanan yang selalu dinamis dan berkembang. Tidak semata melihat realitas pluralitas ke-Indonesia-an sebagai anugerah tetapi bagaimana turut mengambil bagian dalam menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara supaya hidup berkualitas yang bermartabat dan berdamai sejahtera. Sebagaimana juga telah banyak dilakukan oleh warga gereja yang juga adalah warga negara di tengah berbagai tugas tanggungjawab, profesi dan talenta di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Gerakan Fundametalisme dan Radikalisme telah menunjukan intoleransi terhadap masyarakat plural. Bagi kita NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, keaneka ragaman budaya dan agama telah memunculkan pemeliharaan dan penghargaan terhadap aneka ragam dan budaya yang menciptakan hidup rukun dan damai.

Oleh sebab itu, di tengah upaya bersama untuk merawat ke-Indonesia-an yang saling membangun toleransi, kita terkejut dengan adanya peristiwa yang mengurangi makna persaudaraan anak bangsa dengan terjadinya peristiwa pembakaran gereja, jatuhnya korban jiwa, dan adanya gelombang pengungsi di Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggro Aceh Darusalam (NAD) pada Selasa (13/10).  Rasa aman dan nyaman warga masyarakat, baik yang terpapar sebagai korban maupun masyarakat terdampak lainnya, diganggu dan diusik serta mengalami penderitaan yang tidak seharusnya dialami. Interaksi antar masyarakat yang sebelumnya berlangsung damai, penuh kekeluargaan, walaupun berbeda satu sama lain sebagai entitas keragaman suku dan agama telah dicederai oleh sikap perilaku beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga menciptakan konflik horisontal di tengah masyarakat kita.

Sehubungan kenyataan di atas maka kami, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dengan ini menyampaikan beberapa seruan:

Pertama, peristiwa di Aceh Singkil hendaknya jangan terjadi lagi di daerah manapun di Indonesia dengan alasan apapun. Persoalan yang rentan memicu konflik antar sesama masyarakat yang berbeda hendaknya dapat dihindari dengan mengedepankan dialog, keterbukaan serta kesediaan mencari solusi alternatif. Dialog haruslah bersifat adil, melibatkan semua pihak, sehingga tidak ada kelompok masyarakat yang diabaikan dalam pencapaian kesepakatan demi menjaga kerukunan bersama.

Kedua, hukum haruslah ditegakkan tanpa pandang bulu sambil mengedepankan azas praduga tak bersalah. Hal ini berlaku bagi siapapun, mulai dari oknum yang memprovokasi sampai pada pelaku tindakan di lapangan  yang telah menimbulkan kekacauan, kejahatan, dan aksi main hakim sendiri. Kerjasama TNI/Polri yang ditunjukkan untuk menangani masalah ini sejak awal sangat diapresiasi. Sementara para pemangku kepentingan diharapkan segera mengambil langkah yang perlu dalam  menangani peristiwa pasca konflik agar kedamaian dapat kembali bersemi kembali di Aceh Singkil.

Ketiga, betapapun masalah ini telah ditangani oleh pemerintah dan segenap pemangku kepentingan pada tataran permukaan, namun upaya ini harus dikawal dengan kemauan para pihak agar tidak membangun opini pribadi yang dilandasi oleh kecurigaan, saling menyudutkan ataupun fitnah. Masyarakat harus diberi pegangan jelas serta informasi yang tidak bias apalagi sesat dari orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab. Di sini peran media massa maupun pengguna media sosial sangat diharapkan dalam membangun persepsi sejuk yang mengedepankan kerukunan dan perdamaian.

Keempat, melalui peristiwa ini warga agama yang juga warga negara diingatkan untuk terus mawas diri membangun wawasan kebangsaan yang digali dari pengalaman bersama kemanusiaan. Kepada kita dipundakkan tanggungjawab untuk menghormati sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan yang penuh keunikan dan keragaman. Di dalam keragaman itulah kita memiliki kebebasan yang dari padanya kita dituntut untuk menunjukkan sikap-sikap mulia, beretika dan berkeadaban. Semua nilai itu telah termaktub dan dijiwai dalam Pancasila dan UUD 1945, yang penerapannya terus diperjuangkan secara konsisten oleh segenap anak bangsa yang dewasa dan berhikmat dalam memaknai arti menjadi Indonesia.

Semoga NKRI terus di berkati Tuhan dan seluruh rakyat hidup berdampingan rukun dan damai.

Tomohon, 15 Oktober 2015

Badan Pekerja Majelis Sinode

Gereja Masehi Injili di Minahasa

 

      Ketua,                                                                    Sekretrais,

 

Pdt. DR. H.W.B. Sumakul                   Pdt. Hendry C.M. Runtuwene, S.Th, M.Si

 

2 KOMENTAR

  1. TANGGAPAN SERUAN GMIM

    SI TOU TUMOU TIMOU TOU (manusia hidup untuk saling memenusiakan) DAN HUKUM KASIH.
    Hukum Kasih : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

    Di ayat lain berbunyi : ” Perbuatlah kepada orang lain seperti apa yang kamu inginkan orang lain perbuat terhadap dirimu”.

    Memang,falsafah hidup di Tanah Minahasa tersebut,dilatar belakangi oleh Kekristenan yang sudah turun temurun dianut oleh orang di Tanah Minahasa atau yang dikenal dengan Orang Kawanua.

    Dalam Alkitab Perjanjian Lama,psl. Kejadian dikatakan : “Manusia Dicipta Sesuai Dengan Peta Dan Teladan Allah”. Manusia hampir menyerupai Allah. Manusia,dianugerahkan Roh dari Allah berupa,”Hati Nurai , Akal Budi dan kehendak Bebas”. Sehingga manusia bisa mempelajari sejarah,bisa berkhayal,menganalisa dan kemudian apa yang manusia khayalkan dikemudian hari dapat diciptakannya atau bisa menjadi kenyataan. Manusia juga dikaruniakan Allah kehendak bebas,maka Manusia itu mempunyai hak untuk memilih.

    Itulah sebabnya manusia sangat jauh berbeda dengan mahkluk lain misalnya hewan.Dimana Hewan tidak bisa seperti manusia bisa mempelajari sejarah,mengkhayal, menganalisa,mencipta.
    .Dan Hewan bekerja tujuannya hanya untuk supaya bisa makan.Sedangkan Manusia dikatakan dalam Alkitab ,sudah menjadi nature manusia harus bekerja, dengan tujuan untuk menjaga,memelihara,mengelola apa yang Tuhan telah ciptakan. Supaya sesama manusia bisa menikmati hasil CiptaanNya. Atau tegasnya menjadi “garam dan terang” bagi sesama manusia.

    “Imago Dei” atau Manusia dicipta Sesuai Gambar Dan Teladan Allah. Dimana banyak sekali potensi yang ada didalam diri manusia. Potensi yang luar biasa yang ada didalam diri manusia,antara lain ; Bakat,Pengalaman,Intuisi,dll.Sehingga sudah seharusnya dan benar apa yang dimaksudkan dalam Hukum Kasih yang melatar belakangi falsafah di Tanah Minahasa : “SitouTuMou Timou Mou Tou”.

  2. We are praying for the Persecuted brothers and sisters of Aceh (Indonesia).
    Psalm 23:4
    Even though I walk through the darkest valley, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.

    On Sunday, we had a special prayer for those suffering for faith in Christ.
    We have no words to comfort them except the word of God::::: Joshua 1:9
    Have I not commanded you? Be strong and courageous. Do not be afraid; do not be discouraged, for the LORD your God will be with you wherever you go.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here