Khotbah Malam Natal, 24 Desember 2015

0
9960

TEMA MINGGUAN: “Kesukaan Besar Untuk Seluruh Bangsa”
Bahan Alkitab : Lukas 2:8-20

Jemaat yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,

Kita bersyukur dan memuji Tuhan untuk segala karunia-Nya yang memungkinkan kita ada di sini dalam sukacita malam Natal ini. Setiap tahun di mana Tuhan memperkenankan kita memasuki peringatan Natal-Nya, kita jalani dengan suasana damai yang meliputi, sukacita terdalam yang terasa, persaudaraan kasih satu sama lain yang teralami. Kita tentu tetap memiliki beban-beban kehidupan yang kita sebut sebagai pergumulan atau pergulatan hidup, namun melewati malam Natal, semuanya terasa ringan di dalam spirit syukur untuk mengingat karya Allah yang terbesar bagi dunia ini. Di mana Ia sendiri datang melawat kita melalui Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia.

Malam ini, kita juga diarahkan untuk belajar dari malam di mana berita besar itu disampaikan oleh malaikat Tuhan kepada para gembala di padang. Seperti biasa para gembala sedang bekerja menggembalakan kawanan ternak mereka di malam hari. Mereka dalam keadaan terjaga. Mereka tidak sedang tidur. Mereka cukup waspada terhadap keadaan sekeliling, termasuk bila ada binatang buas yang mengancam domba-domba. Keberanian menghadapi segala sesuatu demi keselamatan kawanan domba merupakan bagian dari tuntutan pekerjaan mereka. Tetapi di malam itu, sesuatu tak terduga terjadi, keadaan yang terang sekali yakni “cahaya kemuliaan Tuhan meliputi mereka”. Mereka sangat takut.

Pada puncak situasi sulit inilah, malaikat Tuhan mendatangi serta menenangkan: Jangan takut. Ya, mereka harus cukup tenang untuk mendengar isi berita mulia dan akbar bagi segala bangsa: “…Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:11-12). Dari ketakutan menjadi suasana kesukacitaan, kini para gembala menyaksikan pula bagaimana bala tentara sorga yang memuji Allah (ayat 14). Intinya, Allah dimuliakan dalam kekuasaan-Nya yang Mahatinggi, dan segala pekerjaan-Nya menjadi “saksi” atas segala kebaikan-Nya untuk dunia dan manusia. Allah berkenan memutuskan rantai per-seteruan dengan manusia karena dosa manusia, dan kini menjumpai dunia melalui kehadiran Anak-Nya Yesus Kristus, Sang Mesias. Inilah damai sejahtera yang sepenuhnya dan seutuhnya diterima manusia, damai sejahtera yang memulihkan dan menyelamatkan.

Menyaksikan segala peristiwa yang terjadi, para gembala kemudian dimotivasi untuk bergerak, saling mengajak: “Marilah kita pergi ke Betlehem…” Pernyataan ini bukan bertujuan untuk membuktikan berita yang diragukan kebenarannya, melainkan hendak menyaksikan peristiwa yang diyakini segera akan terjadi.  Itulah sebabnya mereka bergegas dan tidak membuang-buang waktu. Langkah-langkah pasti mereka menyusuri malam, ber-ujung pada perjumpaan dengan Yusuf, Maria dan bayi itu di dalam palungan. Masih diliputi suasana sukacita, merekapun “bersaksi” di hadapan semua yang hadir di malam itu. Orang-orang menjadi heran akan pemberitaan gembala, tetapi Maria merenungkan semunya itu. Maria mendengar, menyimak, dan menyimpannya di dalam hati. Artinya, Maria memaknai segala peristiwa yang terjadi di dalam hikmat takut akan Tuhan. Saat kembali ke tempat pekerjaan mereka di padang, para gembala pun memuji dan memuliakan Allah. Mereka ada dalam ketakjuban dan pujian kepada Allah, sebab semuanya berlang-sung tepat seperti yang dikatakan malaikat kepada mereka.

Jemaat yang kekasih di dalam Yesus Kristus,

Natal Yesus Kristus adalah peristiwa iman. Hal itu benar. Natal-Nya memang mengubah keyakinan manusiawi kita, bahwa betapapun manusia telah jatuh dan tenggelam di dalam keber-dosaannya, namun kasih Allah menjangkau dan mengangkat kita lewat kedatangan Yesus Kristus. Peristiwa kelahiran-Nyapun mencengangkan, sebab berita akbar Natal disampaikan kepada para gembala yang dalam strata sosial masa itu kurang diper-hitungkan. Merekalah kaum sederhana, yang memiliki hati terbuka untuk disapa oleh kebenaran berita Natal. Melalui pujian malaikat, bala tentara sorgawi, mereka menyaksikan Natal adalah rancangan ilahi untuk damai sejahtera bagi segenap ciptaan-Nya. Demikianlah, bangsa-bangsa diberkati dan diterangi cahaya ilahi. Kemuliaan Allah meliputi dunia dan manusia. Sebagaimana tema renungan kita yang berkata: Terang Kristus Bagi Bangsa.

Kini, selaku bangsa, di dalamnya ada keluarga, gereja dan masyarakat, kita sungguh diterangi oleh kasih Kristus. Natal Yesus Kristus membawa pengampunan, perbaikan dan pemulihan hubungan antara kita dengan Tuhan Allah dan kita dengan sesama manusia serta lingkungan ciptaan lainnya. Bahwa di dalam Dia terciptalah kemungkinan yang baru untuk masa depan yang lebih baik. Saat ini, kita berada di dalam ruang Damai sejahtera yang sesungguhnya. Persoalan bagi kita tentunya bagaimana mengkonkritkan makna damai sejahtera itu di tengah dinamika kehidupan sehari-hari sebagai tanda terang Kristus bersinar atas kita, atas bangsa kita.

Kita bersyukur, Tuhan Allah dalam Yesus Kristus Juruselamat adalah Dia yang menjumpai kita sebagai Allah beserta kita. Ia tidak hanya sekedar hadir, tetapi hadir sebagai Penebus dan Penolong. Ia adalah Tuhan yang mendengar jeritan minta tolong, Ia ada di tengah-tengah mereka yang teraniaya, yang terbelenggu oleh berbagai ketidakadilan. Ia juga ada di tengah segala bentuk upaya perbaikan untuk mendatangkan damai sejahtera bagi orang banyak. Setiap kemurahan hati dan tindakan keadilan bagi yang membutuhkannya senantiasa berhubungan dengan memu-liakan nama Allah di bumi dan melakukan kehendak-Nya. Demikianlah, berita Natal Yesus Kristus mengingatkan Gereja dan warga gereja agar tetap hadir menjadi alat kemuliaan-Nya. Di sana sini pasti ada alangan, hadangan, tantangan, tetapi firman Tuhan mengingatkan kita agar: Jangan takut! Pada jalan kehen-dak-Nya, Tuhan pasti memberi kita kekuatan dan kemampuan melewatinya.

Dengan kesederhanaan hidup, hati yang terbuka dan kesediaaan bersaksi tentang berita Natal yang diterima, para gembala juga menjadi inspirasi kita dalam mengembangkan peran kegem-balaan kita, khususnya selaku pemimpin yang melayani di tengah keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa. Kepemimpinan yang efektif akan muncul dari keteladanan dan sikap hidup. Marilah kita menerangi komunitas dan persekutuan di mana kita hidup dengan melakukan hal-hal yang indah dan mulia. Ubahlah apa yang harus diubah dari sikap kita, nyatakanlah pengampunan bagi yang membutuhkan, bangunlah relasi yang menghidupkan, dirikanlah tanda keadilan disekitar kita, jauhkan perbuatan yang menyengsarakan dan menyakiti orang lain, hiduplah di dalam ketulusan kasih. Pendek kata, lakukanlah selalu kehendak firman Tuhan. Dengan melakukannya maka kita percaya, kita senantiasa berjalan pada jalan yang diterangi Kristus. Selamat malam Natal. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here