MTPJ 15- 21 Juni

0
1594

TEMA BULANAN: “Berdemokrasi Dalam Ekonomi Yang Berkeadilan”

TEMA MINGGUAN: “Ekonomi Yang Kristiani

Bahan Alkitab: Keluaran 20:8-11; Roma 8:26-28

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Segala usaha atau yang dikerjakan oleh manusia dalam berbagai profesi demi memperoleh kesejahteraan merupakan ruang lingkup ekonomi. Kata “ekonomi”  berasal dari kata Yunani οἶκος(oikos) yang berarti “keluarga, rumah tangga” dan νόμος (nomos), atau “peraturan, aturan, hukum,” dan secara garis besar diartikan sebagai “aturan rumah tangga” atau “manajemen rumah tangga.”

Kehidupan warga gereja tak dapat dipisahkan dengan soal ekonomi. Ketika kita bekerja dengan modal tenaga atau keahlian dalam bidang apa saja itu berarti kita sudah masuk dalam ruang lingkup ekonomi. Ternyata usaha/kerja manusia (warga gereja) hasilnya bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga harus bermanfaat bagi orang lain berarti kesejahteraan harus memiliki dimensi  keadilan dan demokrasi.

Dalam realita banyak pelaku ekonomi yang hanya mencari keuntungan diri sendiri tanpa memperhitungkan pertumbuhan ekonomi bersama. Karena itu tema pem beritaan firman minggu ini adalah “Ekonomi Yang Kristiani”.

 

PEMBAHASAN TEMATIS

Pembahasan Teks Alkitab(Exegese)

Dalam kedua perikop di atas memang tak dapat ditemui kata ekonomi, tetapi lebih dari dua kali disebutkan kata dasar kerja yakni: bekerja , pekerjaanmu (Kel. 20: 9), pekerjaan (Kel.20: 10) dan Allah turut bekerja (Roma 8:28). Ada juga kata yang memiliki pengertian yang sama dengan kerja yakni, melakukan (Kel.20:9,10), Tuhanmenjadikan (Kel. 20:11), Roh membantu, berdoa (Roma 8:26,27). Apa yang dilakukan Tuhan Allah/Roh kudus maupun manusia bukankah ini bagian dari pada Ekonomi? Bahwa yang dilakukan Tuhan Allah (menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, maupun Roh Kudus (berdoa membantu kelemahan orang percaya) demi kesejahteraan  dan keselamatan manusia.

Kerja telah diamanatkan Tuhan Allah kepada manusia sejak di Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara Taman itu (Kejadian 2:15). Sebelum manusia bekerja untuk memperoleh hidup jasmani maupun rohani Tuhan Allah telah memberikan teladan kepada manusia bahwa sebagaimana Ia bekerja selama enam hari dan pada hari ketujuh Ia berhenti (lihat Kejadian 2:1-3) serta  menguduskannya sebagai hari Sabat (Ibrani Syabbat dari akar katasyavat, ‘berhenti’, ‘melepaskan’(bandingkan Kel.16:22-30; Ulangan 5:12; Amos 8:5). Sebab itu Tuhan memerintahkan kepada manusia bahwa sesudah  enam hari bekerja maka hari ketujuh harus dikudus kan bagi Tuhan. Ingatlah (Ibrani Zakor) implikasinya/ maksudnya adalah merayakan hari Sabat dan menguduskan- nya, yakni meng anggapnya sebagai hari khusus untuk Tuhan, menghormati/mendedikasikannya bagi Tuhan. Berarti kerja harus selalu dihubungkan dengan ibadah atau merayakan kekudusan Tuhan Allah yang memberi manusia tenaga, kesehatan, kecakapan, waktu, makanan dan minuman serta berkat jasmani.

Pada Bagian perikop yang kedua (Roma 8:26-28) menegaskan pada kita bahwa manusia punya keter batasan/kelemahan baik fisik, psikhis dan roh (tubuh, jiwa dan roh). Kelemahan kita, menunjuk pada ketidakmampuan kita untuk menyatakan keinginan kita dengan kata-kata yang memadai. Padahal itulah cara yang sebenarnya harus dipakai dalam berdoa. Oleh karena itu Roh Kudus membantu orang-orang kudus dalam kelemahannya tatkala mengalami kebuntuan dalam kerja sehingga mengeluh (Roma 8:23). Roh Kudus berdoa mengenai kedatangan dunia baru atau pembebasan dari keluhan-keluhan orang percaya untuk memperoleh kemuliaan. Orang percaya belum sempurna dan tidak mampu untuk mengetahui kehendak  Allah selain perlu pengantara (Roh kudus). Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu (Yunani: panta sunergei ho theos) (ayat 28)  menunjukkan pada kita bahwa penderitaan karena bekerja/berusaha turut mengerjakan keselamatan bagi orang percaya. Bahwa Allah (dalam Yesus Kristus dan Roh) sendirilah yang mengerjakan demi kebaikan umat-Nya karena Dia berkuasa atas segala Sesuatu. Sebab  itu tak ada yang dapat merugikan umat-Nya yang sungguh-sungguh mengasihi Allah. Orang Kristen percaya kepada Allah dan bukan kepada nasib. Dalam Katekismus Heidelberg (pertemuan 27) antara lain dikatakan :”…daun dan rumput, hujan dan kemarau, masa kelimpahan dan kekurangan…, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan dan segala sesuatu, bukan terjadi  atau datang secara kebetulan saja, melainkan dari tangan Bapa itu juga”.

 

Makna dan Implikasi Firman

Ekonomi dapat dikatakan sebagai kerja/usaha pribadi atau bersama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya agar sejahtera kini dan dimasa mendatang. Salah seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke pernah berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak milik pribadi. Hegel, filsuf Jerman, juga berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktuali sasikan dirinya.

Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun seluruh sikap dan tingkah laku serta tindakan ekonomi haruslah diarahkan dan ditujukan kepada Allah demi kesejahteraan seluruh ciptaan-Nya. Sebelum kita bekerja/ berusaha diingatkan untuk menguduskan dan merayakan hari Tuhan (bagi kita hari Minggu).  Ini berarti  pekerjaan orang percaya didasarkan pada keyakinan bahwa pekerjaannya adalah implemetasi dari ibadah kepada kepada Allah, sehingga apabila  tidak bekerja sama halnya   tidak beribadah.

Hal yang menarik dalam kehidupan riil sekarang ini hampir dalam setiap bidang pekerjaan seperti di instansi pemerintahan maupun swasta memprogramkan ibadah seminggu atau dua minggu sekali dalam sebulan diawal  atau diakhiri pekerjaan. Lebih luar biasa lagi komunitas Kristen di instansi tersebut sudah melembaga dengan nama Kelompok Pelayanan Kristen lengkap dengan pengurus/pimpinannya. Selain itu di perusahaan atau usaha kecil dan menengah setiap hari sebelum bekerja didahului dengan doa bersama. Itu berarti ada upaya untuk menyeimbangkan antara ibadah dan kerja.

Pada satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang yang terlalu cinta pada pekerjaan, yakni seluruh waktu dipakainya untuk bekerja tanpa  membagi waktu lagi  bagi keluarga dan kehidupan sosial lainnya termasuk ibadah, padahal Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Disisi yang lain ketika usaha sukses dan memberi keuntungan serta kelimpahan  materi,orang sering mendewakanusaha dan hasilnya (mamon; Lukas 16:9-13), bahkan cenderung kikir berdiakonia apalagi memberi persembahan kepada Tuhan.Perilaku seperti ini bukan menggambarkan ekonomidemokrasi dan keadilanyang kristiani.

 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Apa pemahaman saudara tentang  ekonomi yang kristiani menurut teks Alkitab ini ?
  2. Hal-hal apakah yang harus dikembangkandan dihindari  untuk mewujudkan ekonomi yang Kristiani ?

 

NAS PEMBIMBING :  Mazmur  65:10

 

POKOK-POKOK DOA

  1. Pemberdayaan sumber daya alam dan manusia
  2. Bagi semua usaha/pekerjaanuntuk membangun ekonomi yang kristiani
  3. Bagi orang yang tenggelam dalam kesibukan sehingga lupa beribadah

 

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK III

 

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Nyanyian Masuk: NNBT No. 6

Ses Nas Pembimbing :KJ No. 322:4,5

Ses Pengakuan Dosa & Pemb Anugerah Allah:NNBT No. 27

Ses Pembacaan Alkitab: PKJ No. 15

Persembahan : NKB No. 133

Nyanyian Penutup: Yang Menabur Dengan Tangis

 

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN :

Warna dasar hijau dengan simbol salib dan perahu di atas gelombang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here