RHK Jumat, 22 Maret 2013

0
1239

Politik Cuci Tangan

Matius 27 : 23 -24

Ketika diputuskan bahwa Yesus harus disalibkan, Pilatus berusaha untuk menyelamatkan-Nya. Ia membela-Nya dan berkata kepada orang banyak, tetapi apakah yang telah dilakukan-Nya? Dengan keras mereka menjawab, salibkan Dia!

Hal ini membuat Pilatus mulai bimbang, cemas dan takut, karena usahanya sia-sia dan kekacauan mulai terjadi, akhirnya ia cuci tangan. Cuci tangan menunjukan bahwa serorang lepas tangan dan tak bertanggung jawab atas apa yang terjadi atau apa yang telah diputuskan. Karena ia tahu bahwa

Yesus tak bersalah, ia tidak mendapati  kelsahan apapun yang setimpal dengan hukuman mati (luk 23:22). Ia tegaskan bahwa ia tidak bersalah atas darah orang ini, ia tidak bertanggung jawab atas keputusan yang baru saja diambil orang banyak. Itu adalah urusan kamu sendiri, kamulah yang bertanggung jawab. Politik cuci tangan menjadi sebuah alasan pembersihan diri dari sebuah tanggung jawab.

Keluarga Kristen, belajar dari firman ini, kita diingatkan bahwa politik cuci tangan sering dimainkan oleh kita untuk menghindari sebuah kerja dan perbuatan dalam mendidik, membina dan menata keluarga. Tanggung jawab terhadap anak sering terabaikan terhadap isteri, suami, orang tua dan sesama yang menderita. Kita banyak kali menutup mata, menutup telinga terhadap kemiskinan, ketidakadilan dan berbagai penyakit sosial lainnya. Di minggu-minggu sengsara ini, marilah kita memperjuangkan kehidupan yang baik, benar dan jujur dihadapan Tuhan dan sesama. Amin

Doa : Tuhan Yesus, teguhkan iman kami supaya kami selalu bertanggung jawab atas hidup  ini dan tidak lari dari kenyataan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here