MTPJ 11 – 17 Januari 2015

0
4324

TEMA BULANAN : “Hidup Untuk Menghidupkan”
TEMA MINGGUAN : “Hidup Yang Saling Menghargai Dan Menghormati”

Bahan Alkitab: Maleakhi 1:6-8; 1 Petrus 2:11-17

ALASAN PEMILIHAN TEMA

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu perlu berinteraksi dengan sesama orang lain. Hal ini telah terjadi sejak awal ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa. Adam dipandang tidak baik oleh Allah jika ia seorang diri saja, maka Allah sendiri juga yang menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan. Namun sejalan dengan per-kembangan dan perubahan zaman, manusiapun sering lupa pada hakekatnya semula sebagai makhluk sosial yang harus ada dalam interaksi saling menghargai dan menghormati. Apalagi di zaman post modern ini ketika sifat indidualistis makin merajalela, banyak orang yang hanya peduli pada siapa yang dianggap berkepentingan atau berjasa padanya. Penghargaan dan hormat hanya diberikan pada mereka yang dianggap “sekelas”, sementara kepada mereka yang dianggap “ndak evel/tidak sederajat”, meski hidup ber-tetangga, satu kolom, satu lingkungan, merasa asing satu sama lain. Tidak saling menyapa, tidak saling menegur, tidak saling berbagi kasih yang ada ialah kesibukan masing-masing tanpa peduli dengan apa yang terjadi di sekitar diri dan lingkungannya. Cara hidup yang demikian tentu bertentangan dengan ajaran Tuhan bahwa kasih kepada Allah adalah juga kasih pada sesama. Karena itu tema yang diangkat minggu ini adalah “Hidup Yang Saling Menghargai dan Menghormati” berdasarkan kesaksian Maleakhi 1:6-8 dan I Petrus 2:11-17.

PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)

Nama Maleakhi berarti “Utusanku/utusan Tuhan”. Dia adalah seorang Yahudi saleh yang tinggal di Yehuda masa pasca pembuangan, rekan sezaman Nehemia. Keper-cayaannya yang kokoh akan perlunya kesetiaan kepada perjanjian (Mal 2:2,4,5,8,10) dan yang melawan ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal 1:7-2:9), penyembahan berhala (Mal 2:10-12), perceraian (Mal 2:13-16) dan mencuri persepuluhan dan persembahan yang menjadi milik Allah (Mal 3:8-10); semua ini menunjuk bahwa ia adalah seorang yang memiliki integritas teguh, menaruh hormat yang sungguh dan pengabdian yang kuat kepada Allah. Secara khusus pada pasal 1:6-8 ia menyampaikan Firman Allah kepada umat Israel dan mengecam kehidupan keagamaan mereka yang sangat menjijikkan.

Dalam kehidupan agama orang Israel ibadah memainkan peranan penting untuk membuktikan identitas iman sekaligus pengakuan tentang Allah yang mereka imani. Karena itu apa yang disoroti oleh kitab Maleakhi menyangkut soal persembahan, justru hendak menegaskan bahwa umat memberi persembahan dalam ibadah bukan asal saja, tetapi harus yang berkualitas nomor satu dan diberikan dengan hati yang penuh syukur kepada Allah. Ini merupakan wujud umat menghargai dan menghormati Tuhan Allah yang hidup, pemberi berkat. Tetapi ternyata dimasa itu persembahan umat jelas dikatakan tidak berkenan bagi Allah (ay 7-8). Roti yang dipersembahkan adalah roti yang cemar, roti yang tidak layak untuk dipersembahkan kepada Allah karena bisa jadi roti itu dibuat bukan dari tepung yang terbaik, bukan roti yang baru dan panas, (lih. Imamat 24:5-9; Keluaran 25:30). Begitu juga dengan persembahan hewan sebagai korban bakaran, justru persembahan yang cacat. Mengapa cacat? Karena binatang yang dipersembahkan itu buta, timpang dan sakit dan jelas bertolak belakang dengan yang dikehendaki Allah yang menghendaki persembahan binatang yang sehat dan telah dikuduskan terlebih dahulu (Ulangan 15:19-21). Sehingga persembahan umat itu jelas bukan suatu penyembahan melainkan penghinaan kepada Allah yang hidup. Mereka memandang rendah dan enteng Tuhan Allah sehingga tanpa merasa malu mereka datang dengan membawa per-sembahan yang tidak berkualitas. Cara ini menjadi petunjuk bahwa Israel tidak lagi memiliki sikap hormat kepada Allah. Mereka tidak menghormati Allah seperti anak yang tidak menghormati bapaknya dan seperti hamba yang tidak takut kepada tuannya. Sikap dalam ibadah yang seperti itu dilakukan oleh umat, karena para imam, pelayan Tuhan tidak mengajarkan apa yang sebenarnya Allah tuntut bagi mereka. Para imam tidak melakukan penyembahan yang benar. Sebagai akibatnya Allah mengirimkan kutuk kepada mereka dan menjadikan berkat-berkat mereka berubah menjadi kutuk (3:1-2).

Dalam kitab 1 Petrus 2:11-17;  surat ini ditujukan kepada orang Kristen yang tinggal di lima propinsi di Asia kecil, sebagai pendatang dan pengembara yang tersebar, suatu gambaran yang sangat dikenal oleh orang Israel yang terserak dan tertindas, tetapi juga sangat cocok untuk banyak pembaca Kristen non-Yahudi. Petrus menulis surat ini untuk memberi semangat kepada orang Kristen yang binggung karena sedang mengalami penganiayaan. Ia memberikan petunjuk praktis apa yang harus mereka lakukan sekalipun penderitaan itu sebebarnya tidak seharus-nya mereka terima (1 Petrus 3:13-17) dan mendorong mereka untuk tetap teguh. Petrus mengingatkan mereka bahwa sekalipun sebelumnya mereka bukan umat Allah, saat ini mereka adalah umat Allah (2:10). Dia melukiskan kehidupan mereka sebelumnya sebagai “melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah” (4:3-4). Nasihat ini didasarkan pada kekayaan pengajaran sifat keselamatan dan teladan yang diberikan oleh Kristus Sang Juruselamat. Bahwa orang Kristen di zaman itu ibarat sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhan diri. Petrus mengesampingkan kenyataan bahwa mereka adalah sebuah umat yang rajani dan kembali mengingatkan bahwa mereka “menjauhkan diri” dari segala bentuk keinginan daging  yang berjuang melawan jiwa. Milikilah cara hidup yang baik (kata yang sama dengan “perbuatan-perbuatan baik”). Sekalipun mereka ini adalah umat pilihan Allah, tetapi mereka hidup di tengah-tengah orang kafir yang cenderung menfitnah mereka sebagai orang durjana. Hakikat kekristenan sendiri bertentangan dengan segala kesia-siaan dari kekafiran. Inilah alasan utama bagi kesediaan orang-orang kafir untuk menganiaya orang-orang yang menurut mereka tidak berarti ini. Petrus mengetahui bahwa satu-satunya jawaban terhadap mereka adalah cara hidup yang baik, yaitu cara hidup yang membuat orang yang memusuhi mau tidak mau mengeluarkan pujian (bdk Matius 5:16). Meskipun mereka berusaha memusnahkan atau menganiaya, tetapi orang Kristen tetap dituntut untuk bersikap menghargai dan menghormati, menyatakan kasih pengampunan dan bukan membalas kejahatan mereka, agar kehidupan Kristus menjadi nyata.

Makna dan Implikasi Firman

Menghormati Allah adalah hal yang patut kita perhatikan dalam menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan. Pertanyaan untuk kita sudahkah kita hidup dan beribadah dengan memberikan  yang terbaik kepada Allah? Sikap hati menjadi penting sehingga formalitas dalam ibadah memiliki makna yang agung dan mulia. Saat kita beribadah kepada Allah yang Mahakuasa, yang mengampuni dan mengasihi dalam Yesus Kristus. Kita tidak hanya sekedar beribadah memenuhi ruangan gedung gereja atau sekedar mengisi jadwal pelayanan. Ketika beribadah maka ada komunikasi kita dengan Tuhan dan dalam komunikasi itu apakah ibadah kita sudah berkenan bagi-Nya. Menghormati Tuhan dapat kita lakukan saat kita melakukan firman Allah dalam segala hal, termasuk menghormati dan mengahargai sesama ciptaan Tuhan. Disamping itu juga ibadah akan menjadi tidak bermakna apabila kita tidak menghargai Tuhan dan menghina serta memperdaya sesama. Maka dampaknya bukan berkat yang diterima melainkan kutuk. Karena ketika beribadah hanya sekedar rutinitas dan bukan untuk meng-hormati Tuhan, bisa jadi ibadah yang kita lakukan itu akan menjadi mubazir, karena kita asyik dengan jalan pikiran kita sendiri, sehingga firman yang disampaikan/diperdengarkan bagi kita kita tahu sebab kita hanya memenuhi rutinitas/ kewajiban “yang penting so beribadah”

Hidup orang Kristen adalah hidup yang berbeda dengan kehidupan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Sebagai orang yang percaya pada Tuhan kita senantiasa diingatkan untuk mengikuti teladan Yesus Kristus yang mengasihi, rendah hati dan setia hingga akhir. Dalam perenungan saat ini sebagai umat yang percaya dalam keadaan apapun, sikap hidup yang saling menghargai, saling menghormati satu sama lain, siapapun dia, apakah dengan orang yang kita kenal, orang yang tidak kita kenal, orang yang berbuat baik pada kita ataupun yang berbuat jahat. Firman Tuhan mengajar kita untuk tetap berlaku baik, mengasihi dan bukan membenci, mengampuni dan bukan untuk membalas, membantu, menolong sebagai perwujudan dari kehidupan yang menghargai dan menghormati Tuhan Allah. Karena realisasi dari menghargai dan menghormati Allah adalah ketika kita hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain dalam siatuasi apapun dan dengan siapapun.

 

PERTANYAAN DISKUSI

  1. Bagaimanakah cara hidup saling mengahargai dan menghormati yang disaksikan oleh Perikop Maleakhi 1:6-8 dan 1 Petrus 2:11-17.
  2. Sebutkan contoh hidup yang saling menghargai dan menghormati yang terjadi dalam hidup berjemaat dan bermasyarakat.

NAS PEMBIMBING : Matius 22:37-40

POKOK-POKOK DOA

  • Berdoa agar hidup saling menghargai dan menghormati.
  • Berdoa agar kebenaran, kebaikan, keadilan damai sejahtera dilakukan sehingga kehidupan hidup saling menghidupkan akan senantiasa dialami oleh semua orang

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK  II

NYANYIAN YANG DIUSULKAN:

Kemuliaan Bagi Allah :  KJ No. 3

Ses Doa Penyembahan: KJ. No. 26

Ses. Pengakuan dosa:  NNBT No. 36

Ses. Janji Anugerah Allah:  NKB. No. 73

Ses. Puji-pujian :  KJ No. 293

Ses Pembacaan Alkitab: Firman-Mu Pelita

Persembahan:  NKB No. 197

Nyanyian Penutup :  NNBT No. 28 

ATRIBUT YANG DIGUNAKAN:

Warna dasar putih dengan simbol lilin dan palungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here